
"Aku akan membacakan surat wasiat dari Freya."
Bagai tersambar petir, hati Nuna sangat sakit mendengarnya. Nuna sudah tidak fokus lagi apa yang dikatakan oleh Mico, pengacara sekaligus sahabat Freya yang diberi tugas untuk mengurus semuanya.
"Freya meninggalkan surat untuk kamu. Kamu harus membacanya, begitu dulu Freya bilang."
Tangan Nuna bergetar menerima surat itu. Tidak, dia tidak ingin membacanya.
...🍃🍃🍃...
Hari-hari Nuna terasa hampa. Untung saja masih ada Nania, Aruna dan Rei. Mereka bertiga saling menghibur. Juga ada Ikmal yang terus menasehatinya dan tak lupa Dika. Pria yang semakin hari semakin menunjukkan perhatiannya.
Siang ini Nuna dibawakan makan siang oleh Dika. Beberapa jenis buah yang sudah dipotong-potong juga mendampingi makan siang itu.
"Jangan seperti ini, Nuna. Freya pasti tidak akan suka."
Nuna mengangguk. Dia lalu makan makanan itu, yang langsung membuatnya tahu kalau makanan itu adalah makanan yang dibuatkan oleh mamanya Dika.
"Kamu harus ingat, kalau selain sahabat-sahabat kamu, masih ada aku dan mama. Kami berdua sangat menyayangi kamu."
__ADS_1
Nuna tersenyum. Saat ini dia merasa memiliki ibu kandung.
Nuna kembali menjalani aktivitas sebagai dokter dengan sangat baik. Rasanya semuanya seperti mimpi. Tali ini adalah impian dia dan Freya, menjadi dokter yang bisa menyembuhkan orang banyak.
Pagi ini, Nuna dikejutkan dengan kabar tentang Rei. Rei terlihat sendu. Dia hanya bisa menangis, merenungi nasibnya yang tidak juga mendapatkan ketenangan hingga saat ini. Nuna memandang benci keluarga Marva. Dia juga menatap sinis Arby, Ikmal, Vian dan Marcell.
"Jangan lagi memaksakan kehendak kalian pada Rei. Rei, aku berkata seperti ini sebagai sahabat kamu, bukan sebagai seorang dokter ...."
Rei menatap Nuna, begitu juga dengan Nania dan Aruna.
"Jangan kamu korbankan kebahagiaan kamu demi orang lain. Kalau memang saatnya Marva meninggal, biarkan saja. Anggap saja itu pembalasan untuk dia dan keluarganya karena telah menyakiti kamu! Mereka tidak pantas menerima pengorbanan dari kamu lagi!"
Ikmal memejamkan matanya, sedangkan Arby menghela nafas berat. Vian dan Marcell juga tidak berani berkata apa-apa. Mereka sangat tahu bagaimana bencinya Nuna kada Marva dan keluarganya.
"Aku tidak menghasut, hanya tidak mau dia kembali disakiti oleh keluarga macam kalian. Kalian hanya mau orang-orang menjalankan titah kalian tanpa peduli kebahagiaan orang lain."
"Jaga bicara kamu. Kamu itu siapa? Hanya anak pelakor!" ketus Viola.
"Viola!" bentak Arby dan Ikmal.
__ADS_1
"Jaga bicara kamu, dasar perempuan mandul!" balas Nania dan Aruna.
"Jangan menghina sahabatku, kamu tidak tahu apa-apa tentang dia!" ucap Rei. Dia tidak mau hanya karena masalahnya ini, Nuna malah dihina.
"Aku heran dengan persahabatan kalian. Kenapa kalian saling membela padahal teman kalian itu salah, sudah merusak kebahagiaan orang lain."
Entah sindiran itu diberikan untuk siapa.
"Kamu lihat sendiri kan, Rei. Bagaimana mungkin kamu akan kembali berasal di tengah-tengah mereka?"
"Aku bilang jangan menghasut Rei!" teriak Vio.
"Rei, aku mohon tolonglah!" Vio memegang tangan Rei, meminta perempuan itu dengan sungguh-sungguh.
"Kamu meminta tolong padaku tapi kamu menghina salah satu sahabatku. Apa kalian tidak tahu, mereka berempat lah yang selama ini selalu membantuku. Kalau tidak ada mereka, belum tentu aku bisa berdiri di depan kalian saat ini. Jangan lagi sakiti sahabat-sahabatku."
.
.
__ADS_1
.
Baca cerita Mother biar mengerti alurnya. Di sini adalah sudut pandang Nuna yang tidak diceritakan di sana, ya. Jadi semuanya saling melengkapi 😃