Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
52 Jangan Pikirkan Mereka


__ADS_3

"Kamu kemarin ke mana sih, Nun? Kita kan mau maraton nonton drakor," tanya Nania. Saat ini seperti biasa, mereka sedang makan siang di kafe.


"Aku lagi ada urusan."


"Ke mana, sama siapa, ngapain? Pacaran ya?" tanya Nania kepo. Nuna diam saja, berat baginya untuk menceritakan apa yang terjadi pada sahabat-sahabatnya itu. Arby dan Ikmal saling lirik. Para pria yang selalu menyempatkan waktu untuk ikut makan siang bersama mereka meski tidak pernah diterima itu, diam.


"Kemarin dia jalan sama Arby. Ketemuan di depan halte!" jawab Freya.


Uhuk uhuk


Mereka semua tersedak, dengan wajah yang tegang, mereka melirik Nuna, Arby dan Freya. Apa sejarah akan terulang lagi?


Aruna dan Nania menatap kesal pada Nuna, sedangkan Rei terlihat takut.


"Aku bisa jelasin ...," Nuna, Arby dan Ikmal berkata serempak.


"Enggak perlu."


"Freya, jangan salah paham lagi. Aku bisa jelasin semuanya."


"Jangan-jangan kamu mau jadi ibu sambung Chiro? Kamu kan sering banget bilang, pengen punya anak seperti Chiro."


"Ih, Freya apaan sih. Enggak begitu, Ya. Kemarin itu, aku memang jalan sama Arby, tapi ada Ikmal juga kok di mobil itu."

__ADS_1


"Iya, benar Freya," ucap Ikmal.


"Aku enggak ada hubungan apa-apa kok, sama Nuna. Orang kemarin dia berantem, sama keluarga kami. Ya kan Mal, Cel, An?"


Nuna mendengus, bisa-bisanya Arby bilang itu.


"Apa?" tanya Rei, Nania, dan Aruna.


"Papanya mau menikah lagi dengan tante Elvira."


Nuna menghela nafas kasar. Freya diam saja, melihat Nuna yang terlihat putus asa.


"Kamu belum bisa melupakannya?" tanya Freya. Nuna hanya menggeleng. Freya tahu, kekecewaan yang begitu dalam, sulit dilupakan, apalagi dihilangkan.


"Aku peduli sama kamu," ucap Arby.


"Jangan hiraukan mereka yang tidak menyayangi kamu."


"Aku sayang banget sama kamu."


Freya menatap Arby dengan kesal. Wajah Arby sok polos, membuat Freya ingin mencakar-cakar wajah itu.


"Lakukan banyak hal yang selama ini belum pernah kamu lakukan. Lepaskan semua beban itu. Kalau kamu ingin hidup yang baru, ya kamu tinggalkan segala yang lama."

__ADS_1


"Iya, yang lama-lama buang saja. Seperti mantan," kali ini Nania yang celetuk, membuat banyak pria merasa kesal.


Nuna mengatur nafasnya. Dia tidak mau seumur hidupnya menanggung rasa kecewa itu, sedangkan mereka yang menjadi penyebabnya, tidak pernah peduli dan malah hidup bahagia. Dia juga mau bahagia.


"Relax, Nuna. Hidup kamu sangat berharga, jadi jangan sampai hancur."


💧💧💧


Nuna pikir, hidupnya akan baik-baik saja setelah dia meninggalkan rumahnya beberapa tahun yang lalu.


Nuna pikir, seiring berjalannya waktu, dia akan melupakan rasa kecewa itu.


Nuna pikir, orang tuanya akan mulai memahami sesuatu, menyadari semuanya, dan merasa menyesal.


Nuna pikir, semua akan indah pada waktunya.


Nuna pikir, ada rasa rindu yang menggerogoti hati saat lama tak bersama.


Tapi itu hanya pikiran Nuna saja, bukan kenyataan yang terjadi.


Huft ... aku menyerah. Aku menyerah terhadap mereka. Terserah mereka saja mau seperti apa.


Satu minggu kemudian

__ADS_1


Nuna menghela nafas berkali-kali. Ini adalah hari pernikahan papanya. Dia mencoba tidak memikirkannya, tapi tidak bisa.


__ADS_2