
"Maksudnya?"
"Aku ini hanya anak seorang supir, bukan anak seorang direktur di perusahaan terkenal. ayah kandungku hanya supir dari papa angkat aku. Jadi, kak Elina itu hanya kakak angkat aku. Mereka sangat baik, saat papa dan mama meninggal saat aku masih kecil, mereka mengadopsi aku. Menyekolahkan aku bahkan menguliahi aku di Jepang. Kado, aku ingin menjadi anak yang berbakti kepada mereka, membuat mereka bangga. Lulus tepat waktu dan mendapatkan pekerjaan yang bagus. Kak Elina juga sangat menyayangi aku seperti adik kandungnya sendiri. Entah apa jadinya aku tanpa mereka."
Nuna tertegun mendengar perkataan Steve. Dia merasa tidak enak hati, tapi juga ada rasa iri. Orang lain saja, yang bukan keluarga kandungnya, bisa menyayangi anak orang lain dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang kayaknya keluarga kandung.
Sedangkan dia? Orang tuanya memang tidak bisa diharapkan.
Nuna ... mungkin akan selalu iri dengan orang-orang yang memiliki keluarga yang harmonis. Tapi ya sudahlah, membahas tentang kesakitan itu tidak akan pernah ada habisnya.
"Aku ... aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau ...."
"Jadi, kita sama kan? Mungkin juga tidak akan ada perempuan yang mau memiliki suami seperti aku. Keluarga mana yang mau memiliki menantu anak yatim piatu seperti aku. Orang tua kandungku bukanlah orang berada. Kalau bukan kerana keluarga kak Elina, entah apa jadinya aku. Mungkin aku akan besar di rumah yatim piatu dan tidak lulus sekolah."
"Jangan bicara seperti itu, Steve. Kamu orang yang baik, masih banyak perempuan baik-baik yang akan menerima kamu apa adanya. Kalau mereka tidak mau, itu berarti mereka tidak tulus. Kamu hanya belum bertemu dengan jodohmu saja."
"Kalau begitu sama juga dengan dirimu, kan? Apa bedanya aku dan kamu?"
__ADS_1
"Tentu saja kita berbeda. Aku ... aku ini anak broken home. Keluargaku berantakan, dsn sangat memalukan."
""Menasehati memang lebih mudah daripada menjalankannya, ya kan, Nuna?"
Nuna tertawa, merasa benar apa yang dikatakan oleh Steve.
"Benar, mudah bagi orang-orang mengatakan semuanya akan baik-baik saja."
"Jadi, kita sama, kan?"
"Ya, terserah apa katamu saja, lah."
Atau jangan-jangan saat ini Steve memang jatuh cinta pada perempuan kaya, hanya saja dia tidak percaya diri?
Nuna semakin menyadari persamaannya dengan Steve, krisis percaya diri.
...🌼🌼🌼...
__ADS_1
Steve menyandarkan tubuhnya di kasur. Pria itu menghela nafas dalam, seperti banyak beban yang menghimpit dirinya.
"Steve, ayo makan malam dulu." Teriakan mamanya di balik pintu menyadarkan Steve dari lamunannya. Dia segera keluar kamar. Di ruang makan, kedua orang tuanya, kakaknya, kakak iparnya, dan keponakannya sudah ada.
"Bagaimana pekerjaan kamu hari ini, Steve?"
"Baik, Pa."
"Ayo, makan yang banyak. Masa anak laki-laki mama kurus begini, sih. Nanti gantengnya hilang, loh."
Steve tertawa mendengar candaan mamanya itu. Keluarga itu terlihat hangat dan harmonis.
"Katanya Elina, Nuna itu lebih cantik dari yang difotonya, kapan kamu mau ajak dia ke sini?"
"Hah?"
"Kapan kamu mau ajak di ke sini? Kenalin ke papa dan mama. Kami juga ingin cepat-cepat punya cucu dari kamu. Biar Arka juga ada teman mainnya.
__ADS_1
Steve diam saja, ada keraguan besar dalam hatinya untuk membawa Nuna ke dalam keluarganya ....