
Tidak mudah memang menjalani semuanya, apalagi melupakannya. Tapi seperti apa yang yang dikatakan oleh yang lain ....
Hidup masih berjalan.
Tidak ada gunanya meratapi nasib seumur hidup.
Tidak apa dikhianati oleh orang yang belum terlalu lama dikenal.
Tidak masalah dicampakkan oleh mereka, karena Nuna sudah lebih dulu dicampakkan oleh kedua orang tuanya.
Untuk apa menangisi mereka, yang tidak berguna itu.
Ini adalah pelajaran hidup yang sangat berharga untuk Nuna. Dengan begini, mungkin dia akan menjadi lebih kuat, akan lebih keras lagi membentengi dirinya dari pria.
Nuna mencuci mukanya, menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
Aku, Nuna Monicca, tidak akan lagi meratapi nasib!
...🌼🌼🌼...
__ADS_1
"Morning semuanya!"
Mereka melihat Nuna yang sudah terlihat rapih, bahkan terlihat ceria. Gadis itu sudah siap dengan seragam dokter yang dipegangnya.
"Kamu mau kerja?" tanya Aruna.
"Iya, dong. Nanti aku enggak punya uang kalau enggak kerja. Memangnya Arby mau ngasih gaji buta sama aku?"
"Nikah sana sama Ikmal, biar dia yang ngasih gaji buta sama kamu."
Freya langsung menabok paha Arby dengan kencang, membuat pria itu meringis, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya malah berbeda.
Freya mendengus, bisa-bisanya Arby malah membicarakan pernikahan di depan Nuna. Nuna hanya tertawa saja, dia sudah tidak eh lagi dengan perkataan Arby. Melihat Nuna yang kembali ceria, membuat mereka bernafas lega.
"Berarti kalian sudah bisa kembali ke habitat masing-masing, ya! Dari pada di sini, ngabis-ngabisin stok makanan saja."
Mereka tertawa mendengar perkataan Arby. Kalau saja itu orang lain, kasti Sidah langsung tersinggung, bahkan sakit hati. Tapi memang seperti itulah cara mereka berteman, terlihat songong tapi saling sayang dan selalu membantu satu sama lain. Agam juga merasa beruntung bisa ada di tengah-tengah mereka.
Kalau mereka kembali ke rumah masing-masing, Freya jadi merasa kesepian lagi. Dia memang sangat menyukai bisa berkumpul dengan yang lain, tapi tidak mungkin terus menerus juga, kan.
__ADS_1
Mereka bertujuh ke rumah sakit bersama, sedangkan yang lain ke perusahaan, Mico ke kantor hukum miliknya, sedangkan Anya dan Vanya juga kembali syuting. Anya dan Vanya akan bermain di film yang sama. Kalau Anya lebih sering bermain film selain menjadi model, sedangkan Vanya lebih condong ke musik. Dia adalah penyanyi dan pemain musik terkenal.
"Kak, aku pengen deh main film dengan kak Freya. Setidaknya kita nyanyi bareng sama kak Freya, gitu. Suaranya kan bagus banget, sayang enggak jadi penyanyi."
"Iya sih, tapi Freya sudah sangat sibuk. Dia harus bekerja di rumah sakit, belum lagi di perusahaan. Kita Haris belajar dikit-dikit tentang perusahaan, biar bisa membantu Freya."
"Iya. Tapi pokoknya aku mau bikin lagu buat kita kolaborasi bertiga."
Di antara mereka bertiga, memang hanya Freya saja yang tidak bisa bermain musik, tapi suaranya bagus. Dan hanya Freya yang memang tidak tertarik dengan dunia keartisan.
"Kira-kira gimana tuh si Evelyn dan para sekutunya?"
"Paling mereka kena skors. Lihat saja nanti kalau mereka masih cari gara-gara sama kita."
Mereka berdua tiba di tempat tujuan. Banyak artis dan para wartawan di loby, apalagi kalau bukan mencari berita. Perusahaan entertainment milik keluarga ini memang besar, banyak artis yang bernaung di sini.
"Anya, sudah lama tidak kelihatan. Lagi sibuk apa sekarang? Apa ada film terbaru yang akan dimainkan?" tanya salah satu wartawan.
Kedua kakak beradik itu akhirnya melakukan wawancara singkat sebelum melakukan pekerjaan mereka.
__ADS_1