
"Kita bawa ke mana mereka?"
"Ya ke apartemen, lah."
"Apartemen siapa? Memangnya kita tahu password mereka?"
"Apartemen aku saja," ucap Arby.
"Kita tiduri saja mereka ramai-ramai," ucap Marcell.
Pluk
kepalanya langsung digetok oleh Arby.
"Jangan mesum!"
"Ck, maksudnya, kita tiduri saja mereka di kamar yang sama. Jejalin saja mereka di sana sampai numpuk begitu."
"Ingat, jangan ada yang macam-macam sama mereka. Bisa habis kita di tangan Freya!"
"Ingat ya, kalian enggak boleh macam-macam. Tapi aku mau bobo ah sama Freya, kalian jangan ganggu, ya!"
Kali ini Arby yang disambit.
"Susah bareng-bareng, senang juga harus bareng-bareng. Mumpung ada kesempatan, aku hamili saja nih si Nania, nanti pasti dia merengek minta tanggung jawab sama aku."
"Aku juga deh, aku sama Rei."
"Berarti aku sama Aruna? Nah, kamu sama Nuna saja, Mal."
Ikmal menggelengkan kepalanya, kenapa dia punya sepupu oleng semua?
__ADS_1
"Berarti aku sama mereka berlima, gitu?" tanya Mico.
"Enak saja!" jawab mereka serempak.
"Eh eh eh, kalau ditanya, bilang saja kita yang diperkosa mereka, kan mereka yang mabuk," ucap Marcell.
Pluk
Pletak
"Awww!"
"Aduh!"
Mereka melihat apa yang menimpuk, sepasang sepatu berwarna merah berheels tinggi.
Sudah bisa dipastikan siapa pelakunya.
"Kami kalau mau perkosa cowok juga milih-milih, bukan pria menyebalkan seperti kalian!"
Brak!
Pintu kamar Arby dibanting oleh Freya, lalu dikunci.
"Apes banget kita. Kita yang nolong, kita yang dikunciin."
Arby lalu menyuruh Evan untuk menjemput Chiro yang ada bersama orang tuanya.
Pagi-paginya kelima pria itu sudah masak.
"Daddy, kenapa daddy masak banyak. Kenapa kita tidur di luar? Kenapa kamar daddy di kunci?"
__ADS_1
"Ini untuk sarapan daddy, Chiro dan mommy. Mommy ada di kamar, lagi tidur."
"Mommy di kamar daddy? Tidur? Daddy menculik mommy?"
Sebelum Arby menjawab, kelima perempuan itu keluar dengan keadaan berantakan.
Mereka langsung mengambil makanan yang ada di meja.
Nuna melihat makanan kesukaannya, yang dimasak oleh Ikmal.
Arby mana mau memasak untuk orang lain kecuali Chiro dan Freya.
Ikmal meringis melihat keadaan Nuna yang kacau. Para perempuan itu makan dengan lahap.
"Giliran lapar, kalem. Nanti kalau sudah kenyang, galak lagi tuh mereka!" ucap Marcell, yang langsung ditendang oleh Vian.
Nuna menghela nafas berkali-kali.
"Sudah Nuna, kamu itu ditinggal nikah oleh ayah kamu, bukan calon suami kamu."
"Iya. Biarkan saja ayah kamu. Ayah kamu juga berhak bahagia."
Nania dan Aruna terus menasehati Nuna. Freya sendiri diam saja.
"Nanti juga ayah kamu menyesal!" ucap Freya ketus.
"Aku paling benci ada orang tua yang menyia-nyiakan anaknya. Merasa sudah bersikap paling benar, tapi tidak tahu akan perasaan dan keinginan anak itu. Memangnya harta saja bisa bikin seorang anak bahagia!" kembali Freya berkata tajam, mewakili isi hati Nuna.
"Kamu lagi nyindir dan mengatai diri sendiri, Freya? Kamu kan juga ninggalin Chiro. Rei juga begitu," celetuk Marcell tanpa pikir panjang.
Suasana menjadi hening dan tegang. Marcell merutuki kebodohannya.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu."