Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
84 Ngotot


__ADS_3

Terjadi perdebatan di antara Nuna dan kedua orang tuanya. Tidak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah, tetap mempertahankan keinginan masing-masing. Nuna merasa kepalanya semakin sakit.


Kenapa membaurkan dia menikah dengan pria pilihannya saja sangat susah? Toh pria pilihannya juga pria baik-baik, berasal dari keluarga terpandang dan berpendidikan. Bukan kriminal bukan juga pengangguran. Tampan relatif, sesuai selera. Bukan juga playboy yang suka main celap-celup.


"Mama yang paling berhak menentukan jodoh untuk kamu, Nuna. Mama yang melahirkan kamu!"


"Ya, mama yang melahirkan aku tapi bukan yang merawat aku dari kecil. Aku diasuh sama asisten rumah tangga."


"Yang paling berhak itu papa. Papa ini papa kamu, yang akan menjadi wali saat kamu menikah nanti. Ingat, tanpa restu dari ayahnya, anak perempuan itu tidak bisa menikah sembarangan. Papa bisa saja menuntut pria itu karena menikahi paksa anak perempuan orang!"


"Buat apa papa larang-larang aku? Papa saja menikah dengan perempuan itu tanpa ijin aku."


"Papa mau menikah dengan siapa pun, tidak membutuhkan ijin dari kamu, Nuna."


"Halah, egois. Papa memang tidak membutuhkan ijin dariku, tapi juga tidak mau memikirkan perasaan aku."


"Betul itu Nuna, papa kamu itu memang egois!" ucap Ara memanasi keadaan antara Nuna dengan papanya.

__ADS_1


"Heh, kamu pikir kamu itu mama yang baik untuk Nuna? Lihat saja diri kamu sendiri! Menjadi ibu saja kamu tidak becus."


"Kamu kira dirimu sendiri becus? Masih punya istri saja sudah selingkuh!"


"Apa kamu bilang? Kamu tuh yang tukang selingkuh. Jangan memutar balikkan fakta."


"Setidaknya aku selingkuh secara terang-terangan. Memangnya kamu? Sembunyi-sembunyi, sudah ketahuan tapi tetap saja tidak mau mengaku. Dasar munafik, cih!"


Orang-orang yang ada di ruangan sebelah memijat kening mereka. Mereka saja yang ada di ruangan terpisah merasa pening dengan pertengkaran itu, apalagi Nuna?


"Cukup! Aku meminta papa dan mama datang ke sini bukan untuk mendengarkan pertengkaran kalian, tapi hanya mau memberi tahu. Ingat, memberi tahu, bukannya meminta restu. Karena tanpa restu kalian aku akan tetap menikah dengan Dika."


"Papa dan mama yang jangan menjadi orang tua yang dzolim!"


"Ini semua gara-gara kamu, Edwan! Seharusnya kamu diam saja dan mendukung aku menjodohkan Nuna dengan pria pilihan aku. Bukannya malah ikut-ikutan menjodohkan dia dengan pria yang tidak jelas. Nanti modelnya sama kaya kamu, lagi! Amit-amit, deh!"


"Pria pilihan kamu tuh yang enggak jelas. Semua pria yang berhubungan dengan kamu memangnya ada yang benar? Kalau benar tidak mungkin kan kamu ganti-ganti pria!"

__ADS_1


"Ya, kamu kan salah satu dari pria itu!"


Edwan langsung terdiam. Merasa tertohok dengan perkataan Ara.


"Intinya papa dan mama memang enggak ada yang benar. Aku harap aku tidak seperti kalian!"


"Nuna!" teriak Edwan dan Ara.


"Terserah kalian mau datang atau tidak di acara pernikahan aku nanti, yang jelas jangan merusuh dan membuat aku malu!"


"Ingat Nuna, sampai kapan pun mama tidak akan merestui kamu dengan pria itu!"


"Papa juga."


Nuna menghela nafas. Dia jadi menyesal sudah mengajak kedua orang tuanya bertemu. Nuna berdiri, bahkan mereka tidak memesan makanan dan minuman, menghabiskan waktu hanya untuk berdebat saja.


Gadis itu lalu berdiri, melangkah dan membuka pintu penghubung dengan ruangan di sebelahnya.

__ADS_1


🌼🌼🌼


__ADS_2