Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
87 Calon Menantu


__ADS_3

Mau tidak mau akhirnya Ikmal menghubungi juga papanya Nuna.


"Halo, Mal?"


"Halo Om, Nuna mau bertemu dengan Om dan tante."


"Mau membicarakan pernikahan dia dengan pria itu lagi? Katakan pada Nuna, om tetap tidak akan merestui."


Nuna yang mendengar perkataan itu karena ponsel Ikmal di loud speaker, merasa kesal.


"Bilang tuh Mal sama dia, aku akan tetap menikah sama Dika."


"Om ...."


"Bilang sama Nuna, restu orang tua itu penting, biar pernikahan awet dan langgeng."


"Halah, restu orang tua bikin awet dan langgeng? Enggak salah tuh? Ngomong kok enggak nyadar diri. Terus dulu mereka itu nikah tanpa restu orang tua, dong? Makanya cerai?" balas Nuna tak kalah nyaringnya.


"Mal, bilang sama Nuna agar tidak kurang ajar sama orang tua."


"Mal, bilang pada papa agar jangan dzolim sama anak!"


"Ck. Udah napa, pusing aku jadinya. Om sama Nuna sama-sama keras kepala, tidak ada yang mau mengalah. Memangnya tidak. Isa kalian berdamai? Om, bagaimana pun juga Nuna itu anak Om. Apalagi anak perempuan satu-satunya, jangan sampai nanti Om menyesal. Kamu juga Nuna, om Edwan itu papa kamu, jangan sampai nanti kamu menyesal. Dah pokoknya, aku mau kalian ketemu. Jangan lupa bilang pada tante Ara, Om!"

__ADS_1


Arby dan Freya bertepuk tangan.


"Horeee, calon menantu lebih galak daripada calon mertua."


Ingin sekali Ikmal menenggelamkan Arby ke dalam sumur. Sementara si Freya tetap dengan wajah cool-nya.


"Ingat, nanti kalau sudah bertemu, jangan bertengkar lagi," nasehat Ikmal.


Nuna mencebikkan bibirnya, merasa tidak suka dengan perkataan Ikmal.


"Bukan aku yang memulainya lebih dulu, tapi mereka."


"Ya jangan kamu ladeni."


"Ya enggak bisa begitu, dong. Masa mereka mau menjodohkan aku dengan pria lain, terus aku diam saja. Kamu sebenarnya lagi membela mereka, ya?"


...🌼🌼🌼...


Tibalah waktunya Nuna dan Dika bertemu dengan kedua orang tua Nuna. Meskipun sudah ada Dika, tapi sahabat-sahabatnya Nuna itu masih saja khawatir. Mereka yang juga paham bagaimana sikap Edwan dan Ara ditambah Nuna yang seperti itu, sudah mewanti-wanti lebih dulu.


"Ayo."


Dika menggandeng tangan Nuna, dan teman-temannya memberikan semangat.

__ADS_1


"Apa kita ikutin lagi?"


"Jangan kepo, nanti juga Nuna bakalan cerita."


"Bukannya begitu, aku hanya khawatir saja. Bagaimana nanti kalau mereka bertengkar lagi?"


"Ya Dika lah yang harus menenangkan keadaan. Kalau Dika tidak bisa menguasai keadaan, aku juga tidak akan merestui dia dengan Nuna," ucap Freya.


"Ayo kita ikuti mereka, aku pengen lihat," lanjut Freya.


"Yeee, dasar!"


Sementara itu, di tempat yang berbeda tapi dekat Arby langsung menarik tangan Ikmal.


"Ayo, aku mau lihat tuh cowok bakalan dapat restu apa enggak, ya?"


"Enggak ah, kenapa kamu yang repot, sih?" tanya Ikmal.


"Ck, aku yakin tuh para cewek juga lagi penasaran. Ayo ah!" Arby sampai harus menyeret Ikmal agar mau mengikutinya.


Dika dan Nuna tiba di tempat yang telah ditentukan. Nuna ragu-untuk turun dari mobil. Rasanya dia ingin pulang saja.


"Ayo Nuna, apa kamu tidak percaya padaku? Aku pasti bisa menghadapi kedua orang tua kamu."

__ADS_1


"Tali apa pun yang terjadi nanti, kamu akan tetap bertahan sama aku, kan? Tidak akan menyerah, kan?"


"Kalau memang aku mau menyerah, sudah sejak dulu saja, Nuna. Untuk apa aku membuang-buang waktu untuk menunggu kamu sampai selama ini? Bukan hanya sebulan dua bulan, loh."


__ADS_2