
"Apa tidak ada kabar dari Steve?" tanya Zilda.
Nuna menggelengkan kepalanya. Pria yang biasanya rutin menghubunginya melalui pesan, telepon, atau video call itu akhir-akhir ini memang jarang menghubunginya.
Mungkin dia sudah menyerah, sama seperti yang lain.
Nuna terlihat biasa saja, tapi juga sebenarnya penasaran. Mereka kembali membicarakan Steve. Kadang Nuna berpikir, dia yang tidak mau menikah, kenapa orang lain yang repot? Ya, itu karena mereka peduli padanya. Namun hatinya sepertinya sudah tertutup rapat.
Malam harinya
Nuna memimpikan Steve. Memimpikan saat pria itu selalu menemani hari-harinya saat liburan.
Dulu, Nuna terkadang merasa kesal dengan sikap Steve yang sering merecoki dirinya. Suka mengajaknya makan malam bersama, mengantarkan sarapan, dan mengajaknya jalan-jalan.
Nuna sering bersikap ketus, dan terkadang marah. Tapi Steve selalu tersenyum dan sabar menghadapi dirinya.
"Kamu kan dari dulu memang suka galak, sahabat-sahabat kamu juga, tuh." Nuna mendengkus mendengar perkataan Steve, tapi semua itu memang benar.
Kata orang, kalau memimpikan seseorang, berarti kita sedang merindukan orang itu.
Keesokannya, Nuna teringat akan mimpinya.
Apa aku merindukannya?
Dengan memberanikan diri, Nuna berinisiatif menghubungi Steve duluan, biasanya tidak pernah. Steve tidak bisa dihubungi. Berkali-kali Nuna mencoba, namun selalu gagal. Nuna menghela nafas, dan meletakkan ponselnya dengan kasar di atas meja.
__ADS_1
Kegelisahan Nuna itu dilihat oleh Freya.
"Steve enggak bisa dihubungi, ya?"
"Eh?"
"Kamu berusaha menghubungi Steve, kan? Kamu sudah mulai menyukainya?"
"Enggak, kok."
"Enggak apa-apa, Mon. Itu wajar. Selama dia baik, aku akan mendukung kalian. Jangan biarkan masa lalu membelenggu hidup kamu. Kamu lihat aku dan Rei? Kami mencoba bangkit, meski status kami tidak lagi sama. Kami juga punya kekhawatiran akan masa seorang pasangan, apa nanti akan ada yang bisa menerima kami dengan tulus atau tidak. Tapi pasti ada, kan? Lihat Zilda dan Letta, meskipun kehidupan percintaan mereka tidak separah aku dan Rei, tapi mereka cuek saja, tuh! Setiap orang punya masalahnya masing-masing. Tapi kamu harus ingat, ada aku dan yang lain, yang siap mendukung dan membela kamu."
Nuna tersenyum, merasa terharu dengan perkataan Freya. Dia sendiri juga tidak tahu, kenapa sampai sekarang, dia selalu merasa takut. Mama dan papanya sudah terlalu dalam membuat dia kecewa.
Di lain tempat
"Itu kan karena kita juga tidak pernah bertanya padanya. Kita pikir dia yang orang luar mana tahu apa-apa tentang keberadaan mereka," jawab Ikmal logis.
"Bagaimana kalau selama di sana, banyak yang mendekati mereka?" tanya Vian.
"Itu sudah pasti. Mereka kan cantik-cantik, pintar, seksi. Pasti banyak lah, yang mendekati mereka," jawab Ikmal santai.
Jawaban Ikmal itu, bukannya menenangkan hati, tapi malah bikin kesal.
"Aku kan menjawab apa adanya, kenapa malah pada sewot? Kalian kenapa sih, terus mengejar-ngejar mereka? Move on, dong!"
__ADS_1
"Lihat saja nanti kamu, Mal. Kalau nanti kamu jatuh cinta, kamu akan merasakan apa yang kami rasakan."
"Jangan-jangan selama ini dia tidak normal? Lihat saja, di antara kita, dia saja yang sampai sekarang belum pernah jatuh cinta, juga tidak pernah terlihat tertarik dengan perempuan. Gak normal tuh!"
"Sialan!"
"Coba nonton film sana, aku mau lihat punya kamu tegang apa enggak!" ucap Arby, memberikan solusi paling cepat dan akurat, baginya.
"Anjir!"
"Ayo gotong dia!"
Keempat pria itu lalu menggotong Ikmal.
"Jangan macam-macam, woy!"
Mereka tertawa sambil menggotong Ikmal.
Byur
Dan melemparkannya ke kolam renang.
"Uncle Ikmal, Chiro juga mau berenang."
"Radhi dan Raine juga."
__ADS_1
Ikmal menghela nafas, tapi menyambut ketiga anak itu dengan kasih sayang seperti anak sendiri.