
Beberapa bulan kemudian
Hari ini mereka berkumpul di rumah Freya. Sejak sadarnya Freya, hubungan Freya dengan keluarganya juga Arby semakin membaik. Ya, mungkin itu karena faktor hilang ingatan juga, tapi Nuna juga masih mengingat dengan jelas isi surat Freya yang mengatakan ingin berdamai dengan masa lalu. Mungkin ini adalah salah satu jalan yang Tuhan berikan untuknya.
Berkumpulnya orang-orang ini membuat Nuna tidak nyaman. Nuna yakin Rei juga merasa tidak nyaman, tapi perempuan itu berusaha menempatkan dirinya dengan baik.
"Mommy, tadi Radhi dan Raine berantem dengan teman satu kelas kami," adu Chiro pada Freya.
"Kenapa berantem? Apa yang diributin?" tanya Freya dengan lembut.
"Mereka mengatai Radhi dan Raine. Kata mereka ...."
"Apa yang mereka bilang?"
"Hmmm, mereka bilang bundanya Radhi dan Raine itu pelakor. Mereka adalah adalah anak pelakor."
Nuna yang sedang memegang gelas, langsung menjatuhkan gelas itu hingga pecah.
Anak pelakor
Anak pelakor
Anak pelakor
__ADS_1
"Mereka bilang bundanya merebut suami orang."
Perebut suami orang
Perebut suami orang
Perebut suami orang
Mendengar itu, bukan hanya Rei saja yang merasa tertekan, tapi juga Nuna.
Iklan melihat gelagat aneh dari Nuna.
"Nuna ...."
"Apa kamu sakit hati Rei, mendengar perkataan itu?" tanya Nuna.
"Nuna ...."
"Setidaknya, Radhi dan Raine masih beruntung. Mereka hanya dikatai anak pelakor, tapi masih memiliki Chiro yang sejak awal selalu menjaga mereka di sekolah. Masih memiliki kedua orang tua yang menjaga dan menyayangi mereka di manapun, masih memiliki om tante yang memperlihatkan mereka, masih memiliki kakek nenek bahkan eyang yang tidak meninggalkan mereka. Sedangkan aku? Aku selalu sendiri. Hanya berteman asisten rumah tangga saat di rumah. Samapi akhirnya Freya datang ...."
"Nuna ...."
"Ternyata rasanya masih sama sakitnya sampai saat ini. Dianggap sebagai anak pelakor yang tak berharga."
__ADS_1
"Nuna ...."
"Tapi aku yakin, Radhi dan Raine tidak akan sesial aku, yang dewasa tanpa didampingi orang tua."
Rei menunduk mendengarkan perkataan Nuna.
"Menjadi pelakor memang dianggap hina, tapi menjadi anak pelakor lebih menderita lagi. Mereka akan selalu dihujat meski bukan mereka yang memilih jalan itu."
Melihat bagaimana mental Radhi dan Raine saat ini, membuat mereka membayangkan bagaimana dulu nasib Nuna yang memiliki keluarga tapi seperti anak terlantar.
Nuna menghela nafasnya. Ternyata masih sangat sulit baginya untuk berdamai dengan masa lalu.
Rei sendiri tidak tahu harus berkata apa. Nuna mungkin tidak bermaksud memojokkannya, tapi perkataan Nuna itu juga seperti cambukan baginya. Suasana terasa sangat canggung. Arby dan Ikmal yang ingat bagaimana dulu saat mereka masih sekolah dasar, hanya bisa menghela nafas.
Tentu saja mereka tidak akan berkata, "Sabar, semua sudah takdirnya dan ikhlaskan saja." Karena yang diobati pasti lebih tahu bagaimana sakitnya daripada yang mengobati.
Perbuatan orang dewasa tapi anak-anak yang menjadi korban.
Seperti keegoisan Frans yang membuat Rei, Marva, dan Vio menderita.
Seperti keegoisan Edwan dan Ara mantan istrinya yang membuat Nuna menderita.
Air mata Nuna tidak berhenti membasahi wajahnya. Mereka lalu melihat Chiro. Bukan ingin menyalahkan anak itu karena perkataannya, karena kalau bukan berkat Chiro, mungkin mereka tidak akan tahu apa yang terjadi dengan psikis Radhi dan Raine.
__ADS_1
"Kalian berdoa saja, semoga nanti saat kalian menikah, suami kalian tidak direbut pelakor. Begitu juga dengan aku ...."
Nuna meremas tangannya, terlihat jelas bahwa dia sangat gelisah.