Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
57 Lebih Unggul Darinya


__ADS_3

Nuna berbaring di kamarnya, bingung ingin melakukan apa di malam selarut ini. Pikirannya berkeliaran ke mana-mana. Sejak dia jalan dengan Dika, hubungan mereka semakin dekat.


Dika ada seorang dosen di salah satu universitas terkemuka. Keluarganya adalah keluarga pendidik. Dengan lingkungan yang seperti itu, tentu saja wawasannya sangat luas.


Dia juga sering mengantar jemput Nuna, atau makan siang bersama saat Nuna berada di klinik.


💧💧💧


"Kalian pacaran?"


"Siapa?"


"Kamu dan Dika."


Ikmal dan Nuna sedang belanja di supermarket untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak terlalu banyak, karena para perempuan itu juga lebih banyak menghabiskan waktu mereka di luar rumah.


"Belum."


"Belum? Berarti akan?"


"Kepo, deh."


"Ikmal!"


Ikmal dan Nuna menoleh, di sana ada Marva, Vio, Radhi, Raine, dan seorang perempuan muda.

__ADS_1


Perempuan itu langsung merangkul lengan Ikmal.


"Sudah lama enggak ketemu," ucap perempuan yang bernama Adinda itu.


Nuna mencibir saat melihat Marva dan Vio, orang yang sangat dia benci, selain kedua orang tuanya.


"Hai, Nuna," sapa Marva. Nuna hanya memberikan tatapan sinis yang tidak ditutup-tutupi. Setiap kali melihatnya, ingin sekali dia mencakar pria yang ada di hadapannya itu.


"Kalian belanja juga di sini?"


Nuna meninggalkan mereka, kembali memilih barang-barang yang mau dia beli. Ikmal menyusul Nuna, yang juga disusul oleh Marva dan yang lain.


Adinda kembali merangkul lengan Ikmal.


"Gimana kalau setelah ini kita makan siang bersama?" ajak Adinda, yang langsung di iyakan oleh Marva dan Vio.


"Kamu saja, mendingan aku makan sendiri!"


Wajah Nuna semakin ketus, lalu kembali memilih barang belanjaan.


"Kalian saja deh, aku kan pergi bersama Nuna, jadi ya pulang juga sama dia."


Tentu saja Ikmal lebih memilih bersama Nuna, sahabatnya.


Mereka melihat dari belakang Ikmal yang merangkul pundak Nuna, lalu langsung ditepis oleh gadis itu. Dirangkul lagi, ditepis lagi.

__ADS_1


"Sakit, Mal!" ucap Nuna sambil mengusap pipinya.


"Sakit apaan, cuma dicolek doang."


"Colek palamu, ini nyubit tahu!"


Ikmal tertawa, lalu kembali mencubit pipi gadis itu karena gemas. Dinda yang melihat itu, merasa cemburu. Sudah lama dia menyukai Ikmal, tapi belum bisa mendekati pria tampan itu.


"Ikmal memang seperti itu pada Nuna dan Freya saja."


"Freya? Freya mantannya Arby?"


"Iya, mereka memang memiliki hubungan yang spesial, dan sudah terjalin sejak lama."


Dinda semakin dilanda cemburu. Saat tahu kalau Ikmal dan para sepupunya melanjutkan kuliah di Jepang, gadis itu ikut kuliah di sana. Tapi sikap keempat pria itu tetap cuek.


Ingin sekali Dinda bisa berada di posisi Nuna, makan, jalan, dan bercanda bersama. Ikmal memang baik, dan ramah, tapi Dinda tetap saja merasa kurang. Dia ingin lebih dari itu. Hubungan kedua orang tua Ikmal dan Donda juga dekat.


Apa aku minta dijodohkan saja dengan Ikmal?


Dia juga sudah beberapa kali mendengar nama Nuna di sebut dalam keluarga besar para pria itu. Sedikit banyaknya, dia juga tahu cerita tentang Nuna.


Orang tua Ikmal pasti lebih setuju aku bersama Ikmal dari pada Nuna yang bersama anaknya, kan?


Dinda kembali optimis. Dia yakin, dia tidak akan kalah saing dengan Nuna.

__ADS_1


Aku juga cantik, pintar, dan dari keluarga terpandang. Dan yang terpenting, aku bukan berasal dari keluarga yang berantakan seperti dirinya. Aku ... lebih unggul darinya!


__ADS_2