Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
104 Saat Terpuruk


__ADS_3

"Tapi kenapa Dika malah menikah dengan perempuan lain, bukankah seharusnya besok dia sudah akan menikah dengan Nuna?"


Nuna semakin menunduk dalam, sangat malu dengan alasan yang orang-orang itu katakan.


"Tidak butuh alasan yang jelas, kalau memang brengsek mah, ya brengsek saja, Dad!" ucap Aruna.


"Merekanya saja yang tidak bersyukur. Dulu saja, mohon-mohon, minta dikasih kesempatan. Sudah dikasih dan sehari belum menikah, sekarang malah terlihat kedok busuknya. Untung saja Kak Anya dan Vanya ada di sana, coba kalau tidak? Enggak bisa membayangkan aku bagaimana jadinya besok!" ucap Nania.


Mereka tentu saja tidak mengatakan apa yang menjadi alasan yang orang-orang itu berikan, karena bagi mereka itu Oun tidak masuk akal. Kan sejak awal mereka sudah tahu, Nuna pun sudah menjelaskan dan menolak, tapi mereka sendir yang bilang kalau menerima Nuna apa adanya.


"Anjing memang itu cowok!" maki Vanya.


"Vanya, jaga bicara kamu!"


"Ngapain dijaga untuk pria seperti dia? Pa, Papa mau kalau aku dan kak Anya yang seperti itu? Disakiti oleh seorang pria? Diselingkuhi atau ditinggal nikah padahal tinggal sehari menjelang hari H? Mau kalau kak Arby yang seperti cunguk itu?"


"Iya, Pa. Yang dibilang Vanya itu benar. Kami perempuan sama-sama ikut sakit hati. Awas saja kalau dapat modelan cowok kaya gitu, mutilasi aja tuh itunya!"


"Ho'oh."

__ADS_1


"Kamu tenang saja Nuna, kamu enggak bakalan rugi juga kehilangan orang-orang seperti itu," ucap Anya.


"Pokoknya harus kita balas tuh mereka berkali lipat. Hutang sakit hati harus dibayar sakit hati juga."


Mereka kembali melakukan diskusi dan lupa akan kehadiran orang tua mereka dan para tetua keluarga.


"Berarti hutang selingkuh harus dibayar selingkuh juga?"


"Memangnya Nuna mau selingkuh sama siapa? Dia jadian sama pria lain pun gak akan dianggap selingkuh, kan udah lurus sama si bodoh itu."


"Iya juga, ya."


Mereka terdiam, Arby yang lagi mode seperti ini berarti menunjukkan tanda bahaya.


Nuna merasa miris. Di Saat yang lain kedatangan kedua orang tuanya dan keluarga mereka karena anaknya terluka, dia sendiri yang tidak. Di sini bukan hanya fisiknya yang terluka, tapi juga hatinya.


Nuna mulai menangis terisak. Mereka yang mendengarnya merasa ngilu. Ikmal segera memeluk Nuna, mengusap punggung gadis itu. Arby yang melihat itu menghela nafas berat. Dia ikut memeluk juga akhirnya.


Pelukan mereka akhirnya bertumpuk, saling mengeratkan pelukan dan saling menguatkan perasaan masing-masing.

__ADS_1


Nuna semakin menangis.


Dia sendiri tidak tahu apa yang dia tangisi saat ini.


Apakah pengkhianatan Dika?


Apakah hinaan yang dia dapatkan?


Apakah karena tubuhnya terasa remuk redam?


Apakah karena merasa bersalah dengan sahabat-sahabatnya yang ikut menanggung luka?


Apakah karena merasa terharu karena memiliki sahabat sejati seperti mereka?


Atau karena dia semakin yakin kalau kedua orang tuanya sama sekali tidak peduli dengan keadaannya?


Lihat saja, dia yakin sebenarnya keduanorang tuanya tahu tentang kabar dia, Taki mereka tidak peduli. Papanya memiliki hubungan kerabat dengan Ikmal, jadi pasti tahu.


Mamanya juga pasti akan tahu dari papanya, karena pria itu ingin melemparkan kesalahan.

__ADS_1


Di saat terpuruk seperti ini, lagi-lagi hanya ada sahabatnya saja.


__ADS_2