Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
18 Berpisah Jalan


__ADS_3

Arby dan Nuna memasuki tempat makan, tanpa sadar sejak tadi ada yang mengikuti mereka.


"Suatu saat nanti, kamu akan jauh juga dari Freya."


"Kamu kenapa sih, kayanya enggak suka banget aku dekat dengan Freya."


"Ya enggak gitu, suatu saat nanti juga kamu kan akan menikah, sama seperti Freya, terus ikut suami."


"Ya aku kan enggak akan menikah."


Tidak lama kemudian Ikmal datang, karena ternyata dia sudah janjian dengan Arby.


"Enggak semua rumah tangga itu bermasalah Nun."


"Sok tahu kamu Mal, kamu saja belum pernah menikah. Lagian lihat tuh Arby, selalu menyakiti hati Freya."


"Sembarangan, kapan aku pernah menyakiti hatinya, enggak pernah tuh!"


"Enggak nyadar diri kamu, Ar."

__ADS_1


"Lagian, enggak semua orang yang menikah itu akan berakhir bahagia. Lihat saja keluarga kami, orang tua kami baik-baik saja."


"Gampang kalian bicara begitu, bukan kalian yang merasakannya. Aku mau tahu, gimana nanti kamu dan Freya, Ar."


"Jangan menjadikan aku tolak ukur!"


"Kenapa enggak, kan kamu sendiri yang mengatakan enggak semua pernikahan itu akan berakhir berantakan. Kamu juga, Mal. Aku mau tahu dengan siapa nanti kamu menikah, awet apa enggak!"


Arby dan Ikmal menghela nafas. Sudah memang menasehati seseorang yang hatinya sudah terlanjur kecewa karena kedua orang tua.


☘️☘️☘️


Nuna seperti mengulang masa lalu, di mana tidak ada teman, dan duduk seorang diri di pojokan kelas. Teman-temannya menjauhinya, hubungan persahabatan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun kini rusak.


"Dasar pelakor!"


Nuna dan Freya bertengkar, bahkan sampai berkelahi dengan fisik. Arby dan Ikmal berusaha memisahkan keduanya. Nuna menahan tangisnya, bukan karena sakit fisiknya, tapi hatinya yang lebih terluka. Kedekatannya dengan Arby membuat Freya marah. Bukan, bukan karena cemburu, tapi mungkin karena merasa dikhianati saja?


Nuna tidak pernah menyangka, kalau hal ini akan terjadi. Apalagi sekarang seseorang yang dia anggap sahabat sekaligus saudaranya itu, terlihat sangat membencinya.

__ADS_1


"Ibunya pelakor, anaknya juga pelakor!" Teriak Freya. Orang-orang menatap sinis padanya. Empat perempuan cantik kini tak lagi bersama. Mereka terpecah, dan Nuna sendiri. Nania tetap berada di sisi Freya, Aruna berada di tengah-tengah mereka, berusaha untuk tidak memihak, meski Nuna yakin, Aruna lebih membela Freya daripada dirinya.


Nuna menangis di pojokan taman samping sekolah, kerasa terkucil.


"Nanti juga kalian balikan," Ucap Ikmal menenangkan.


"Aku rela kehilangan apa pun, tapi jangan Freya."


"Ya ampun Nun, kamu melebihi orang patah hati. Kalau kamu terus seperti ini, nanti aku bisa mengira kalau kamu itu tidak normal. Kamu masih penyuka lawan jenis, kan?"


"Sialan!"


Ikmal merasa tidak tega melihat wajah Nuna yang sudah sangat sembab, dengan mata dan hidung merah, juga suara yang sudah sangat serak. Ikmal memeluk Nuna, mencoba menenangkan gadis itu.


"Kamu demam, ayo aku antar pulang."


"Aku pulang sendiri saja."


"Jangan ngeyel, nanti kamu pingsan di jalan."

__ADS_1


"Biarkan, biar sekalian saja aku mati di jalan. Sudah tidak ada lagi yang peduli peduli, jadi untuk apa aku hidup? Kedua orang tuaku saja tidak peduli, mereka hanya peduli dengan diri sendiri. Aku benci mereka. Tidak akan ada bedanya bagi mereka kalau aku tidak ada."


__ADS_2