Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
60 Banyak Saingan


__ADS_3

Wajah Nuna terlihat sangat masam saat papa dan istri barunya itu duduk di hadapannya.


"Aku sibuk!" ucap Nuna dengan ketus.


"Jangan seperti ini Nuna, bagaimana pun juga, papa adalah papa kamu."


"Benar, itu memang tidak bisa disangkal, dan aku sangat kecewa akan kenyataan itu. Kenapa aku tidak terlahir di keluarga yang biasa-biasa saja. Tidak perlu punya orang tua yang kaya tapi tidak peduli dengan anaknya."


"Nuna ...."


"Apa papa pikir uang ayah itu sudah membuat aku bahagia? Bahkan tanpa uang papa, aku bisa kuliah dan tetap bertahan hidup."


"Nuna ...."


"Jangan terus mengusik hidupku. Aku bahagia tanpa kalian!"


Nuna berusaha menahan emosinya. Gemuruh di hatinya selalu saja membuat dadanya sesak. Dia masih sangat membenci mamanya, papanya juga istri baru papanya.


Semua yang berhubungan dengan mereka, sangat dia benci. Kalau saja Arby dan Ikmal tidak dia kenal sejak kecil, pasti dia juga membenci kedua pria itu.

__ADS_1


"Bisakah kita memulainya dari awal?"


"Bisakah papa mengembalikan masa kecilku yang dulu sangat suram? Tidak berpisah dengan mama dan memberikan aku kasih sayang yang layak?"


Tidak ada jawaban, karena itu tidak mungkin terjadi.


"Tidak bisa, kan? Sesuatu yang sudah terjadi, tidak bisa diulang lagi. Begitu juga dengan keterpurukan aku saat itu. Kesalahan kalian harus aku yang menanggungnya. Saat kalian berpisah, apa ada kalian memikirkan aku? Saat bersama saja kalian tidak peduli denganku, apalagi setelah kalian berpisah! Aku dibesarkan oleh asisten rumah tangga. Kenapa tidak sekalian saja kalian menitipkan aku di rumah yatim piatu? Agar aku memiliki banyak teman dan mungkin ada keluarga baik yang mengadopsi aku."


"Setiap kali melihat wajah papa dan mama, rasa sakitku kembali hadir. Apalagi saat melihat wajah kalian yang bahagia dengan pasangan masing-masing, itu membuatku sangat muak."


Nuna lalu berdiri, sebelum kesabarannya menipis dan tidak bisa dikendalikan lagi.


Di depan pintu kafe, dia berpapasan dengan Dika, Ikmal, Arby, Marcell, Vian, Marva dan Agam.


"Galak, bener!" celetuk Marcell.


Dika ingin menyusul Nuna, namun langsung ditahan oleh Ikmal.


"Biarkan dia sendiri!"

__ADS_1


Ikmal melirik dalam kafe yang ada papa Nuna dan tantenya.


Sampai kapan kebencian kamu akan berlangsung, Nuna?


Dika hanya bisa melihat punggung Nuna yang semakin menjauh. Dia belum pernah melihat Nuna yang semarah ini. Tapi melihat Ikmal yang sepertinya sudah biasa dengan keadaan ini, membuat rasa cemburu di hati Dika.


Dia tahu Ikmal dan Nuna hanya sahabat saja, tali tetap saja dia tidak rela, jika ada pria lain yang lebih mengerti Nuna.


Arby menghela nafas berat.


"Gawat kalau sampai Nuna ngambek," ucap Arby sendu.


Dika langsung melirik Arby, apa pria itu juga menyukai Nuna?


"Kenapa?" tanya Vian.


"Virus ngambek itu akan menyebar ke yang lain. My Bebeb akan menjadikan aku korban, begitu juga dengan kalian."


Dika tidak paham. Tentu saja tidak paham, karena bukan bagian dari mereka. Dika hanya melihat, sepertinya ada persaingan di antara pria itu.

__ADS_1


Dika Haris tahu, di antara para pria itu, siapa saja yang akan menjadi saingan cintanya.


Ada hubungan apa di antara kalian semua? Perjuangan aku pasti akan lebih berat.


__ADS_2