
Waktu berlalu terasa cepat dan menyenangkan bagi Nuna sekarang. Dia tidak lagi peduli dengan tatapan sinis atau bisikan-bisikan yang membicarakannya.
"Kenapa kalian mau berteman dengannya? Mamanya kan tukang selingkuh, suka merebut suami orang. Hati-hati loh, nanti ayah kalian yang akan direbut oleh mamanya," ucap seorang murid perempuan yang lebih senior.
"Iya. Orang tua temanku bercerai karena mamanya. Kasihan dia, tidak punya ayah lagi. Itu semua gara-gara mama anak ini."
"Jangan-jangan dia juga anak haram, bukan anak ayahnya. Lihat saja, dia juga tidak disayang kan, sama ayahnya."
"Iya, mukanya saja tidak mirip dengan ayahnya."
Nuna menunduk, wajahnya merah karena malu dan sedih. Dia sudah terbiasa mendengar hinaan karena kelakuan mamanya. Tapi kali ini, saat mereka mengatakan semua itu di hadapan Freya, Arby dan Ikmal, dia sangat malu dan takut.
Dia takut mereka bertiga tidak mau lagi berteman dengannya, apalagi Freya. Freya adalah peri kecilnya, sahabat pertamanya, dan dia tidak mau kehilangan Freya.
Freya, Arby dan Ikmal melihat Nuna, yang sudah meneteskan air matanya dalam diam.
"Jangan dengarkan mereka, Nuna. Kan yang salah mama kamu, bukan kamu," ucap Freya.
"Heh anak kecil, buat apa di sini? Kamu itu seharusnya masih TK, enggak pantas untuk ada di sekolahan ini."
"Aku memang masih kecil, tapi aku lebih pintar dari kamu!" ucap Freya lantang kepada anak kelas lima itu.
"Pintar apaan, cebol begini!"
"Jangan panggil dia cebol! Freya itu imut, tahu!" ucap Arby tak kalah nyaringnya.
__ADS_1
Ikmal langsung melihat Arby yang membela Freya dan mengatakan kalau Freya itu imut.
Terjadi perkelahian di halaman samping sekolah itu. Empat orang anak kelas dua melawan enam orang kelas lima dan enam yang badannya besar-besar.
"Sudah, jangan pedulikan anak-anak raksasa ini!"
"Apa kamu bilang!?"
"Kamu bilang aku cebol, ya berarti kamu raksasa, dong!"
Arby, Ikmal dan Nuna langsung tertawa mendengar perkataan Freya. Senior-senior mereka merasa geram.
Saat Freya dan yang lain membelakangi mereka, salah satu dari mereka mendorong Freya hingga gadis kecil itu jatuh dan keningnya terluka.
"Freya!" Kening Freya mengeluarkan darah segar, tapi dia tidak menangis. Mereka melihat senior mereka yang tertawa. Freya langsung berdiri, lalu mimiting orang yang mendorongnya itu.
Senior yang lain langsung mengepung Freya, namun Arby dan Ikmal langsung membantu Freya. Ternyata mereka pintar bela diri, kecuali Nuna.
"Ada apa ini?" Seorang guru tiba-tiba saja datang karena mendengar suara keributan.
"Kalian berkelahi? Ikat ibu ke kantor!"
Setibanya di kantor, guru itu memperhatikan mereka satu persatu.
"Kenapa kalian berkelahi?"
__ADS_1
Para senior langsung menyalahkan Nuna yang menjadi penyebabnya, juga Freya.
"Kalian kan senior, sudah lebih dewasa, kenapa melawan adik kelas kalian?"
"Nuna menghina keluarga saya, Freya juga yang memiting saya, Bu!"
Freya, Nuna, Arby dan Ikmal menatap sinis orang itu, yang sudah berbohong.
"Benar itu?"
"Benar," jawab senior yang lain.
"Dasar tukang bohong! Ibu lihat saja CCTV, nanti juga ketahuan siapa yang duluan. Kalau ibu tidak bisa adil, opa aku akan menuntut ibu dan sekolah ini," ucap Freya.
"Bisanya bawa-bawa opa, dasar anak kecil."
"Karena aku masih kecil, makanya opa dan oma yang akan mewakili aku. Kalau aku sudah dewasa, aku sendiri yang akan menuntut kalian dengan tuduhan pencemaran nama baik, penganiayaan, tindakan tidak menyenangkan ...."
Guru itu diam, dilihatnya Freya yang jelas bukan anak biasa. Umur dan fisiknya memang masih kecil, tapi otaknya cerdas.
Guru langsung memeriksa CCTV, dan terlihatlah kejadian yang sebenarnya.
.
.
__ADS_1
.
Yang mau kasih vote, makasih ya. Happy Reading😊