Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
146 Memang Nasibku


__ADS_3

Mereka gelisah, tidak bisa berdiri dengan tenang. Hanya doa yang bisa mereka panjatkan saat ini, berharap Steve akan baik-baik saja. Bisakah perpisahan itu tidak terjadi sekarang?


Mamanya Steve duduk dengan keadaan lemah di bangku. Dia memang bukan mama kandung Steve, tapi berharap kalau doa seorang ibu angkat ini akan didengarkan oleh Yang Maha Kuasa.


Dia yang sudah membesarkan Steve sejak anak itu kecil. Menyayangi Steve sama seperti dia menyayangi putri kandungnya. Sahabat-sahabat Steve juga menunduk dalam. Tidak siap mendengar kamar buruk jika nanti dokter keluar.


Kembali mengingat kenangan-kenangan mereka dulu. Bukan persahabatan yang baru terjalin satu dua tahu saja. Mereka memasang Nuna yang terlihat kacau. Mungkin inilah sebabnya dulu Steve tidak ingin mereka, terutama Nuna, tahu tentang penyakitnya.


Yuta menghela nafas, dia yang Sidah memberi tahu Nuna tentang kondisi kesehatan Steve, sedikit merasa bersalah, tapi dia pasti akan semakin merasa bersalah lagi kalau diam saja. Setidaknya Nuna tidak terlambat untuk mengetahui semuanya. Setidaknya ... kalau terjadi sesuatu yang buruk dengan Steve, ada kenangan indah yang sempat mereka ukir bersama, ya meskipun akan ada air mata.


Nuna menepuk-nepuk dadanya. Kenapa orang-orang yang dia sayang, harus berada di rumah sakit? Kenapa kenapa kenapa?


Yang lain khusyuk berdoa, benar-benar memohon kesembuhan Steve.


Dia orang baik, ijinkan dia sembuh dan membahagiakan orang-orang yang menyayanginya, terutama keluarga angkatnya.

__ADS_1


Dia sahabat yang baik, ijinkan kami bersama lebih lama lagi. Kasihan orang tua angkatnya.


Nuna mengigit bibirnya hingga berdarah. Semua yang dia lakukan tetap saja tidak bisa menghilangkan sesak yang dia rasakan.


Pintu ruangan akhirnya terbuka, mereka serempak mendekat, meski takut mendengar apa yang akan dikatakan oleh dokter.


"Maaf, kami tidak bisa ...."


Nuna langsung menerobos masuk ke dalam ruang ICU, bahkan sebelum dokter sempat selesai bicara.


Nuna melihat semua alat penunjang kehidupan Steve tak lagi menunjukkan reaksi. Lutut gadis itu terasa lemas tak bertulang.


"Steve, bangun kataku, bangun!


Mereka yang menyaksikan di belakang, hanya bisa menangis.

__ADS_1


Nuna mulai mengguncang tubuh Steve.


"Bangun, apa kamu mau aku menjadi perawan tua, hah?" Dia mencoba menekan dada Steve, masih berusaha menyelamatkan pria itu meski dokter sudah mengatakan Steve sudah tidak ada.


"Bangun, bangun!"


Mereka ingin mencegah Nuna, tapi Freya melarangnya. Freya pikir, biarkan Nuna meluapkan semua kesedihannya. Biarkan dia menangis, menjerit, bahkan berusaha untuk menyelamatkan Steve.


Mungkin inilah yang dulu orang-orang rasakan saat dia juga terbaring seperti Steve. Pasti ada yang tidak rela. Pasti mereka ingin tetap berusaha agar dia selamat, dan kembali bersama mereka.


"Bangun, Steve. Aku mohon."


"Nuna, sudah."


"Tidak, aku tidak mau ditinggalkan begitu saja. Kalau dia mau pergi meninggalkan aku, kenapa saat itu kami harus kembali ke hadapanku." Nuna menekan dada Steve, bahkan entah sadar atau tidak dengan yang dia lakukan, Nuna memberikan nafas buatan pada pria itu.

__ADS_1


Tidak berhasil juga, Nuna akhirnya memeluk erat tubuh pria itu. Air matanya mengalir di wajah Steve yang sudah pucat pasi. Nuna bisa merasakan tubuh pria itu yang dingin. Tidak lagi merasakan nafasnya.


"Mungkin memang sudah nasibku selalu ditinggalkan. Kedua orang tuaku, Dika, dan sekarang kamu."


__ADS_2