
Vania yang mendengar itu sedikit cemberut. Dia memang sudah sering kali mendengar nama Freya dan para perempuan lain disebut. Tapi kenapa Ikmal juga malah membawanya ke tempat ini?
Pintu kafe terbuka, Agam masuk ke dalam seorang diri.
"Kamu di sini?"
"Iya, yang lain belum datang?"
"Aku tidak tahu mereka akan datang atau tidak."
Agam langsung duduk di sebelah Ikmal, tanpa memperhatikan Vanka. Gadis itu semakin cemberut, dia kan hanya mau makan siang berdua saja dengan Ikmal, kenapa malah ada pengganggu?
Mata Ikmal melihat ke depan parkiran kafe. Dia melihat seorang pria yang sedang berdiri sambil menyenderkan tubuhnya di mobil.
"Itu bukannya Steve?" tanya Ikmal.
"Mana?" Agam langsung ikut menoleh. Dia memang belum tahu seperti apa Steve itu, hanya sering mendengar namanya disebut saja.
Vanka jadi ikut menoleh juga. Dia juga tidak tahu siapa itu Steve, dan belum pernah mendengar Ikmal menyebut nama itu.
"Jadi itu yang namanya Steve."
Mereka tidak sadar kalau Arby dan yang lain sudah datang. Biasalah, apalagi kalau bukan untuk menemui apes pujaan hati.
"Apa sih yang kalian lihat?"
Semua mata langsung tertuju pada Steve yang ada di luar sana.
__ADS_1
"Jangan-jangan mau ketemu Nuna."
"Jangan-jangan sudah bertemu."
"Jangan-jangan CLBK."
"Jangan-jangan ada yang cemburu."
Vanka yang mendengar pembicaraan sambung menyambung itu jadi pusing sendiri.
"Eh Vanka, buat apa kamu di sini? Kehadiran kamu tidak diharapkan."
"Ho'oh. Nanti yang lain bisa salah paham kalau tiba-tiba ada cewek lain di dekat kami. Bisa runyam urusan."
Wajah Vanka sudah sangat merah, malu dan kesal.
Begitu Steve pergi bersama Yuta, Nuna dan yang lain datang. Mereka tidak membicarakan tentang Steve. Entah karena tidak mau Ikmal patah hati, atau karena tidak mau Nuna berharap lagi.
"Sayang, cewek ini tiba-tiba ikut nimbrung, loh! Bukan salah aku kalau ada dia." Arby langsung saja menjelaskan, sebelum kena semprot sama Freya.
"Aku juga enggak ikutan," sahut yang lain kecuali Agam dan Ikmal. Agam kan memang tidak mengenal Vanka.
Nania dan Aruna menatap Vanka, lalu melihat Marcell dan Vian. Merasa dicurigai, Marcell dan Vian kembali membela diri.
"Benaran bukan kami, tanya tuh sama Ikmal!"
Mendengar nama Ikmal disebut, Nuna langsung menoleh.
__ADS_1
"Ciee, Abang Ikmal sudah punya pacar? Sudah laku, ya?" goda Nuna. Yang lain sih biasa saja, hanya saja Vanka merasa cemburu.
Bisa-bisanya gadis ini menggoda Ikmal. Dia saja harus menjaga sikap pada Ikmal.
"Ciee, Abang Ikmal digodain Nuna. Grogi, Bang?" kali ini Freya yang menggoda.
"Ciee, Abang Ikmal digodain istri orang. Gak takut, Bang?"
Mereka langsung tertawa, bagi pelayan kafe, melihat keakraban mereka itu sudah sangat biasa, bikin baper dan terharu. Tapi bagi Vanka, dia merasa tidak suka. Kenapa yang lain bisa seperti itu, sedangkan dia tidak?
...🌼🌼🌼...
Hari ini Nuna dan yang lainnya ke rumah sakit R. Mereka akan mengadakan pertemuan dengan dokter-dokter dari beberapa rumah sakit yang ada di kota besar itu.
Ruang meeting sudah disiapkan. Beberapa orang dokter dan petinggi rumah sakit sudah ada di dalamnya.
Mereka melakukan rapat selama beberapa jam. Tanya jawab seputar pengobatan, alat-alat kesehatan, fasilitas umum dan khusus juga tenaga medis yang memadai.
Freya yang juga telah membuka perusaahan yang bergerak di bidang alat-alat kesehatan dan obat-obatan, memberikan banyak masukan. Rumah sakit itu ingin bekerja sama dengan perusahaan Freya.
Di sini, Freya memang lebih condong, karena selin dia punya wewenang di rumah sakit keluarga Arby, dia juga punya wewenang di rumah sakit milik keluarganya.
Freya yang berasal dari keluarga pengusaha dan keluarga dokter tentu saja memberikan banyak dukungan pada beberapa rumah sakit itu.
Lima jam kemudian mereka keluar dari ruang pertemuan.
"Aku masih lapar," keluh Nania.
__ADS_1
Mereka memang sudah mendapatkan makanan dan cemilan, tapi tetap saja, otak yang bekerja keras membutuhkan nutrisi yang lebih banyak.