
"Nuna."
Nuna menoleh, di belakangnya kini berdiri Steve, pria tampan yang dulu selalu rajin menemuinya.
Nuna berdiri terpaku di tempatnya. Ingin segera pergi, tapi kakinya terasa berat.
Hatinya, kenapa hatinya seperti ini?
Ingin berlari menuju pria itu, memeluknya dan bertanya kenapa? Kenapa pergi meninggalkannya? Kenapa melupakannya dan membencinya?"
"Nuna." Sekali lagi pria itu memanggil. Suaranya masih tetap lembut seperti dulu, saat mulutnya selalu menyebut nama Nuna.
"Bisa kita bicara berdua?"
Nuna ingin menggeleng, tapi kepalanya mengangguk, mengkhianati diri sendiri.
Mereka menuju kafe depan rumah sakit.
"Bagaimana keadaan kamu?"
"Menurut kamu?"
Steve diam saja, ingin mengatakan kalau gadis di depannya ini pasti baik-baik saja, tapi kelihatannya tidak begitu.
Ingin mengatakan kalau Nuna terlihat tidak baik-baik saja, tapi dia seperti orang yang sok tahu.
Mereka masih saja diam, bahkan minuman telah sepuluh menit yang lalu diantar.
Bagi Steve, Nuna semakin cantik, semakin dewasa dan tentu saja menawan.
__ADS_1
Bagi Nuna, Steve semakin tampan, semakin dewasa dsn tentu saja menawan.
Rasa kagum yang mereka ungkapkan hanya dalam hati. Bibir itu masih membisu, meski mata terus melirik, mencari kesempatan untuk menikmati apa yang ada di hadapan mereka. Bersikap seolah mereka adalah remaja puber yang baru merasakan cinta pertama.
Sesekali Nuna melirik arlojinya. Menghela nafas karena tahu waktu yang dia miliki tidak akan lama lagi. Banyak pasien yang menunggunya. Dia ingin menghentikan waktu, tapi kenapa? Apa bersama pria yang sejak tadi selalu diam ini sangat membahagiakan?
Nuna meremas tangannya. Ingin mendengar Steve mengatakan sesuatu. Dia jadi seperti seorang gadis yang sedang menunggu gebetannya menyatakan cinta.
Cinta?
Apa.rasa cinta itu masih ada untuknya?
Tidak!
Tentu saja tidak.
Steve telah menikah, bahkan sudah memiliki seorang anak laki-laki. Kenyataan itu menghantam hati Nuna, meremasnya dengan sangat kuat sehingga membuat ngilu dan ingin berteriak.
Para pelayan di kafe itu sesekali ikut memperhatikan mereka. Dokter Nuna atau biasa juga dipanggil dokter Monic, tentu saja mereka mengenalnya.
Salah satu dokter yang juga sering didatangi oleh para pria tampan itu. Ada seorang pria yang digosipkan adakah calon suaminya, dan sebentar lagi akan menikah. Lalu gosip baru muncul, pernikahan yang gagal ditambah pria itu tidak pernah lagi datang.
Dsn sekarang?
Ada pria baru di hadapan mereka.
Tak kalah tampan, bahkan harus mereka akui, lebih tampan dari yang lama.
Steve menghela nafas, kata-kata yang sudah dia siapkan sebelum bertemu dengan Nuna, tertahan begitu saja di tenggorokannya.
__ADS_1
"Bagaimana pekerjaan kamu?"
"Lancar."
Kembali hening. Nuna ingin bertanya tentang istri dan anak Steve, tapi hatinya terasa berat untuk melakukan itu. Memangnya apa yang ingin dia dengar?
Mendengar dari mulut pria itu sendiri kalau pernikahannya bahagia?
Bukannya Nuna jahat, meski harus dia akui kalau sebenarnya dia cukup jahat juga. Dia ... dia berharap Steve tidak bahagia dengan pernikahan itu.
Sisi egoisnya muncul.
Dalam hati setiap orang, pasti ada saja sikap berat untuk merelakan sesuatu, dan itu memang manusiawi.
Di luar sana, dua orang sedang menatap mereka dengan pandangan sendu.
"Aku ... aku sangat merindukan kamu, Nuna."
Nuna memandang wajah pria itu.
Deg
Ada rasa berdebar di hatinya. Rasa yang belum pernah dia rasakan, bahkan bersama Dika sekali pun ....
.
.
.
__ADS_1
.