Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
91 Para Pria


__ADS_3

Para perempuan sedang berkumpul di tempat yang menjual air kelapa, sedangkan para pria berkumpul di tempat lainnya.


"Jadi, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Arby pada Dika.


"Aku akan tetap menikahi Nuna."


"Tapi kan orang tua Nuna tidak merestui kalian."


"Sekarang belum, tapi setelah kami menikah nanti, mungkin mereka akan merestui kami, apalagi kalau kami sudah memiliki anak." Senyum di wajah Dika mengembang. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk menikah dengan gadis itu, membayangkan banyak yang akan dia lakukan pada Nuna.


"Pasti menyenangkan sekali ya punya anak?" tanya Dika.


"Iya, tentu saja. Mempunyai anak berarti salah satu bukti kalau kita ini pria sejati, anunya gak letoy dan itunya gak basi."


Ikmal langsung melempari Arby dengan kulit jagung. Dika tertawa mendengar perkataan Arby. Sebagai dosen tentu saja dia terbiasa berbicara dengan sopan dan tidak vulgar, tapi sebagai pria, apalagi di saat berkumpul seperti ini, pasti ada saja yang membicarakan hal seperti ini.


"Bagaimana rasanya menikah dengan sahabat sendiri? Apa kamu tidak merasa aneh?"


"Enggak, lah. Kan Freya perempuan, kalau Freya laki, baru tuh aneh. Tuh kan, jadi pengen meluk Bebeb Freya."


Lagi-lagi yang lain mendengkus. Dika menghela nafas, kalau saja sejak sekolah dasar dulu mereka sudah dekat, pasti akan menyenangkan sekali. Ya, suruh siapa saat itu dia merasa segan untuk mendekati mereka.


Nuna yang selalu menghindari orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


Freya yang selalu terlihat membawa buku-buku tebal.


Arby yang selalu saja singit pada pria-pria yang ingin mendekat.


Ikmal yang berwajah datar dan berjalan di sebelah mereka dan selalu bersama Arby.


Pada saat itu, mereka seperti orang-orang yang memilih dalam bergaul, padahal sebenarnya tidak begitu juga. Mereka pemilih, karena orang-orang yang bersikap tidak baik duluan, selalu saja mem-bully Nuna. Dika jadi merasa sudah menyia-nyiakan waktu yang berharga. Rasa iri itu tidak bisa dia hilangkan begitu saja. Lihat saja sekarang bagaimana Arby dan Ikmal bisa selalu bersama Freya dan Nuna, tanpa Dika tahu masa kelam mereka. Sampai saat ini, Nuna memang tidak pernah menceritakan hal-hal yang menyakitkan itu pada Dika, bukan karena apa, tapi nanti saja saat mereka sudah menikah. Cukuplah hal-hal buruk itu tidak lagi dibicarakan.


Dika memandang Nuna yang saat ini sedang tertawa bersama yang lain. Angin membuat rambut Nuna berantakan, meski begitu, gadis itu tetap terlihat cantik.


"Ingat ya Dika, kalau kamu menyakiti Nuna, maka kamu akan menghadapi kami semua!" ucap Ikmal.


Dika diam saja mendengar perkataan Ikmal. Dia sangat tahu kalau Nuna dikeliling para sahabat yang baik, meski kedua orang tuanya tidak peduli padanya.


"Ck, semoga saja Nania juga mau mdlenukah dengan aku." Sampai saat ini Marcell masih berharap pada Nania, begitu juga dengan Vian yang masih berusaha meluluhkan hati Aruna.


"Mereka berdua itu (Aruna dan Nania), sudah tua begitu kenapa masih belum sadar juga kalau ada kami yang masih setia menunggu mereka."


"Setia mbahmu! Kemarin kamu godain perawat baru, kan?" kata Agam.


"Kok tahu?"


"Tahu lah, kan aku, Nania, dan Aruna melihatnya."

__ADS_1


Marcell langsung lemes, sifatnya yang selalu ramah pada perempuan cantik itu selalu saja menjadi boomerang untuknya.


"Kan aku hanya menyapa, gak ngapa-ngapain."


"Halo cantik, udah nikah belum? Mau Abang Dokter nikahin, gak? Yuk, ke KUA!" Agam menirukan perkataan Marcell yang dia dengar.


"Heran, kenapa aku kalau godain cewek, selalu ketahuan sama Nania?"


"Makanya jadi cowok tuh jangan sesumbar kalau ngomong sama cewek. Kamu bercanda belum tentu orang lain juga anggapnya bercanda. Aku saja yang setia begini banyak ujiannya," ucap Arby.


"Tapi aku serius sama Nania."


"Langsung lamar saja sana sama orang tuanya. Minta dijodohin. Bilang saja perusahaan keluarga Nania sedang mau bangkrut dan hanya keluarga kamu yang bisa membantunya, tapi diganti dengan memberi mereka cucu dari Nania."


"Jangan, solusi dari Arby ujung-ujungnya nimbulin masalah. Sudah lupa apa sama masalah Marva?"


Para pria itu tertawa, lalu melanjutkan obrolan mereka meski tidak semuanya yang Dika paham.


.


.


.

__ADS_1


Baca cerita Marva di judul Mother ya, buat yang belum baca. Baca juga cerita terbaruku dong, biar aku semangat up-nya. Follow akunku ya🤗


__ADS_2