Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
53 Para Pacar Yang Akur


__ADS_3

"Kamu kenapa, Nuna?"


"Enggak apa-apa."


Freya menghela nafas, dia tahu ada yang tidak baik pada sahabatnya itu.


"Bagaimana kalau kita bersenang-senang hari ini?" ajak Nuna.


"Oke."


Maka kelima perempuan itu pergi, dengan Nuna yang menjadi pemimpinnya kali ini. Mereka ke salon, memanjakan diri dengan melakukan perawatan full. Lalu membeli baju baru dan langsung dipakai.


Setelah itu ....


Cekrek


Nania mengirimkan foto mereka kepada para pria itu sekaligus. Di sana, para pria itu membelalakkan mata mereka. Para perempuan itu sedang ada di club malam. Bahkan Rei yang kalem saja bisa ada di sana.


Tanpa pikir panjang, mereka langsung meninggalkan acara pernikahan yang sebenarnya belum dimulai meski sudah malam.


Ya, selalu ada saja hal yang terjadi, membuat acara itu harus ditunda.


Kelap-kelip lampu dan suara bising membuat mereka pusing. Freya, yang sudah lebih berpengalaman di tempat seperti ini, mengajak mereka ke ruang VIP, tapi langsung ditolak oleh Nuna dan Nania.


Menurut Nania, di luar lebih enak, karena bisa melihat pria tampan. Hanya untuk dilihat, bukan untuk dijadikan pacar tentu saja.

__ADS_1


Bagi Nuna, keramaian seperti ini yang dia mau. Bisa melupakan kalau malam ini adalah hari pernikahan papanya.


Mico yang baru masuk ke dalam sana, langsung terkejut melihat kelima perempuan itu.


Hadeuuh, aku jadi harus menjadi pengawal kelima perempuan itu.


Mico langsung mendekati kelimanya.


"Halo cantik, cantik. Mau abang ganteng temani?"


"Mauuuu," jawab kelimanya serempak.


Teman-teman Mico terlihat kaget, bagaimana bisa kelimanya menerima tawaran Mico begitu saja. Bahkan Freya langsung menyandarkan kepalanya di pundak Mico, begitu juga dengan Rei. Sedangkan ketiganya yang sudah mulai oleng, berusaha memeluk Mico.


Mico langsung menepis tangan pria itu yang ingin menyentuh Freya.


"Jangan macam-macam sama mereka. Mereka semua saudara aku."


"Saudara apaan? Saudara ketemu gede?"


"Bagilah kami satu-satu."


Mico menghela nafas. Nasib sial apa yang menimpanya sampai dia harus menjaga mereka berlima. Mico tidak khawatir dengan Freya, karena dia sangat tahu bagaimana Freya. Tapi melihat empat yang lainnya, dia jadi pusing meski belum minum.


"Ya, kamu kalau ketahuan di sini, nanti dimarahi, loh."

__ADS_1


"Siapa yang mau marahi aku?" tanya Freya. Dia masih menyandarkan kepalanya di pundak Mico. Bukan karena mabuk, tapi karena mengantuk setelah seharian jalan-jalan menemani Nuna yang lagi galau karena ditinggalkan menikah oleh papanya.


Mico berpikir, memangnya siapa yang bisa memarahi Freya? Perempuan galak itu tentu saja akan lebih marah pada mereka yang mengusiknya.


Mico lalu meringis saat pipinya dicubit-cubit oleh Rei.


"Ayo kalian gandengan, terus ikut aku pulang."


Ini adalah cara paling cepat, daripada Mico harus menuntun mereka satu persatu. Lagi menuntun yang satu, nanti yang lain hilang dibawa cowok tidak jelas.


Namun saat itu, kelima pria lain masuk dan mendekati mereka.


Mereka kembali membelalakkan mata saat kelima perempuan itu bergelayut di lengan Mico.


"Enggak usah sok laku begitu, Mic!" ucap Vian.


"Kamu, kamu, kalian semua ... lihat nih, pacar-pacar aku pada akur, kan. Mereka enggak saling jambak dan cakar. Bukan begitu sayang-sayangnya abang Mico?"


"Iya, Abangggg," jawab kelimanya serempak.


Mico menahan tawanya, sedangkan yang lain mendengkus.


"Bagi kami satu, napa Mic!" jawab temannya yang lain, mencoba kembali menyentuh Freya. Sedangkan temannya yang lain mengangguk dan mendekati Nuna.


Mampus saja kalian, berani bicara begitu di depan mereka.

__ADS_1


__ADS_2