
Ikmal berbaring di atas kasurnya di apartemen. Pria itu menatap langit-langit kamar. Dia teringat akan Nuna, juga pembicaraannya dengan Steve. Dia juga mengerti dengan kegundahan pria itu. Kalau dia menjadi Steve, mungkin juga dia akan melakukan hal yang sama, tapi di satu sisi, dia juga tidak mau melihat Nuna bersedih dan menganggap dirinya tak berharga sama sekali.
Gadis itu sangat berharga, termasuk bagi Ikmal. Gadis kecil yang selalu mengikuti Freya, dsn masih tetap begitu hingga saat ini.
Aku akan melakukan apa pun untuk kamu, Nuna. Bukan hanya Freya yang akan selalu mendukung kamu, tapi aku juga.
Dulu Ikmal memang kurang setuju Nuna bersama Dika. Mungkin kah semua itu karena firasatnya? Ikmal hanya menginginkan yang terbaik untuk sahabatnya itu, sama seperti Arby dan Freya.
...🌼🌼🌼...
Selama beberapa minggu sibuk ) lebih tepatnya repot), karena Freya baru saja melahirkan, kini mereka berkumpul untuk acara syukuran anak Freya.
Steve menatap anak itu dengan mata berbinar-binar.
"Coba kamu gendong, kali saja nular," ucap Vanya.
"Nular itu buat perempuan yang sudah menikah dan ingin punya anak, Vanya."
Steve mengendong bayi mungil itu. Ada perasaan hangat dalam hatinya. Bukan anaknya saja, dia merasa sangat bahagia, apalagi kalau dia memiliki anak sendiri? Waktu keponakannya lahir, dia juga merasa sangat bahagia.
Steve memang menyukai anak-anak, kalau bisa dia ingin memiliki banyak anak, laki-laki dan perempuan. Pasti akan sangat menyenangkan. Rumahnya akan ramai dengan tawa dan tangis anak kecil. Ada yang menyambutnya pulang kerja dan merengek minta digendong.
__ADS_1
"Kalau ingin punya sendiri, cepatlah menikah," ucap Freya pelan.
Steve memandang Freya.
"Kalau selalu takut, kamu akan begitu-begitu saja. Aku rasa semua orang juga khawatir. Misalnya saja, seorang perempuan hamil takut untuk melahirkan, takut kalau dia dan anaknya tidak bisa selamat saat melahirkan. Orang-orang akan takut bepergian karena kecelakaan, dan ketakutan lainnya.
"Aku juga begitu. Selalu takut saat harus mengoperasi seorang pasien. Takut gagal, dan tidak bisa menyelamatkan pasien. Takut saat aku harus berbaring di atas brankar. Bahkan takut saat ingin tidur, bisa saja malaikat maut mencabut nyawaku tanpa memberikan pertanda apa pun. Tapi aku melawa semua itu. Kamu juga pasti bisa melawan semua itu, Steve. Semua akan baik-baik saja, karena garis hidup seseorang sudah ditentukan."
Steve mencerna kata-kata Freya, dan menghala nafas.
...🌼🌼🌼...
Ikmal sedang sibuk dengan pekerjaannya, banyak yang harus dia selesaikan hari ini juga. Pintu ruangannya tiba-tiba saja terbuka, dan kedua orang tuanya datang dengan wajah kesal.
"Kalau sudah waktunya, dan dia sudah kembali."
"Memangnya dia ke mana?"
"Tersesat di hati orang."
Mamanya mendengus, tersesat di hati orang?
__ADS_1
"Kamu rebut saja dia."
"Mama!"
"Kan, janur kuning belum melengkung. Jadi cowok tuh harus gesit. Masa kamu ketinggalan dari yang lain, sih. Tuh lihat Arby dan Marva."
"Mico, Vian dan Marcell juga belum."
"Tapi kan sudah ada tanda-tanda."
"Iya, iya."
"Jangan iya, iya, aja!"
...🌼🌼🌼...
"Nuna, maukah kamu menikah denganku, menjadi ibu dari anak-anakku?"
"A ... apa?"
"Menikahlah denganku."
__ADS_1
Steve sudah mempertimbangkan semuanya dengan pikiran tenang. Dia sangat mencintai Nuna, sejak dulu dan sampai sekarang. Dia ingin menjalani hari-hari bersama gadis itu. Kalau bisa menua bersama dan membesarkan anak-anak mereka.
"Apa kamu mau?"