Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
122 Kapan Menikah?


__ADS_3

Mereka tiba di restoran untuk makan. Nuna menghela nafas panjang, lalu mulai menyuapkan makan ke dalam mulutnya.


Ck, dia merasa bodoh. Sebelumnya dia sudah menasehati dirinya sendiri untuk tidak lagi merasa sakit, tidak lagi merasa sedih atau berharap akan cinta. Tidak akan peduli apa pun selain tentang sahabat dan pekerjaan saja.


Tapi kini nyatanya apa?


Dia merasa sedang mengkhianati dirinya sendiri.


Nuna mengacak-acak makanannya dengan sendok. Pikirannya berkelana ke mana-mana.


"Makan, Nuna!" ucap Freya. Perempuan itu bahkan sudah menghabiskan tiga porsi makannya.


"Apa mau disuapin sama Ikmal?" tanya Freya.


Arby menoleh, tidak seperti biasanya Freya menggoda Nuna dengan Ikmal tanpa Arby yang memulai lebih dulu. Apa ini ada hubungannya dengan Steve?


"Mau disuapin saja sama Arby, boleh?" goda Nuna lagi.


Freya hanya tertawa, lalu Nina mulai makan lagi. Dia tidak mau membuat yang lain khawatir.


Biarlah semua berjalan apa adanya. Jodoh memang tidak akan ke mana. Lihat saja bagaimana Arby dan Freya. Aku dan Dika, juga kedua orang tuaku sendiri.


Lebih baik aku menikmati hidup.


...🌼🌼🌼...


Nuna mengambil beberapa lembar foto yang tercetak dari dalam lemarinya. Di sana ada banyak foto Steve. Nuna sendiri tidak tahu, kenapa dia masih menyimpan foto ini. Bahkan foto milik Dika saja hanya berupa file dalam ponsel.

__ADS_1


Nuna mengacak rambutnya, merasa benci Alda dirinya sendiri karena sudah menjadi lemah. Lemah akan hati yang plin-plan.


Katanya tidak mau lagi memikirkan tentang pria, tapi kok galau?


Katanya tidak peduli akan cinta, tapi kok merana?


Katanya tidak akan lagi merasa kecewa, tapi kok sedih?


Katanya, hanya katanya.


Hanya pikiran yang berkata, tapi ujung-ujungnya hati juga yang menentukan.


Ponsel Nuna berbunyi, dia langsung mengambil ponselnya dan membaca pesan yang dikirim. Seketika wajahnya berubah merah.


[Kapan kamu ada waktu untuk bertemu dengan calon mertua kamu?]


Nuna langsung memblokir nomor itu. Nomor mamanya yang membuat dia semakin pusing. Begitu juga dengan papanya yang ternyata tidak menyerah untuk menjodohkan dia.


Sampai sekarang mereka tidak pernah peduli padaku. Tidak pernah sekali pun mereka melihat keadaan aku. Orang tua macam apa, itu?


[Ayo kita menikmati hidup!]


Nuna.mwnhirim pesan itu kepada sahabat-sahabatnya.


[Yuk!]


Jika salah satu dari mereka mengatakan menikmati hidup, itu artinya bersenang-senang tanpa ada pria di sebelah mereka.

__ADS_1


Pergi ke mana saja dan membeli atau memakan apa saja. Taki karena Freya saat ini sedang hamil, jadi mereka tidak bisa pergi ke club malam.


"Kita menginap saja di hotel. Sewa satu kamar, nonton film semalaman, dan saling curhat," saran Aruna.


"Matikan ponsel masing-masing. Biar mereka itu enggak terus menguntit kita. Heran, ke mana-mana maunya ikut mulu." Nania ikut memberikan saran.


"Nanti enggak Marcell, kamu malah nyariin. Jangan di-PHP-in terus tuh anak orang!"


"Ck, aku bukannya PHP, tapi dianya aja yang ngarep mulu."


Kuping para pria itu serasa berdengung, menebak siapa yang sedang membicarakan diri mereka.


Di rumah Ikmal


"Jadi kapan kamu mau menikah, Mal?"


"Nanti, kalau sudah waktunya."


"Sekarang sudah waktunya."


"Belum, masih banyak yang harus aku lakukan."


"Nunggu apa lagi, sih?"


"Teman-teman mama sudah pada punya cucu."


"Yang lain juga belum lasa menikah."

__ADS_1


"Apa lagi sih yang kamu tunggu?"


Ikmal tidak menjawab, dia hanya sibuk dengan ponselnya, tapi pikirannya juga sedang tidak di tempat.


__ADS_2