Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
138 Makam


__ADS_3

"Si Steve ini sejak dulu selalu bercerita tentang kalian, terutama Nuna." Mengalir lah cerita-cerita tentang masa-masa sekolah mereka dulu dan saat Nuna kuliah.


Bukan orang lain yang sangat antusias mendengar cerita ini, tapi Freya. Dia ingin mendengar tentang masa lalu yang ada dia di dalamnya, dari sudut pandang orang lain, bukan dari orang-orang terdekatnya. Freya juga banyak bertanya ini dan itu.


"Waktu Steve selalu mengunjungi Nuna Ke London, dia selalu giat bekerja."


"Kerja?"


"Iya, untuk uang transportasi dan biaya penginapan di sana. Dia tidak mau menyusahkan kami, padahal kami ini kan orang tuanya."


"Tapi dari situ kami tahu, kalau Steve ini ternyata sangat mencintai kamu, Nuna."


Deg


"Mama!" Steve terlihat malu. Bisa-bisanya mamanya ini bercerita seperti itu kepada Nuna di hadapan teman-temannya.


"Lihat, wajah Steve sampai merah. Pasti dia sangat malu."

__ADS_1


Ikmal melirik Steve dan Nuna, sedangkan Arby dalam hari mendengus.


Kalau mereka benar-benar, sampai menikah, nangis bombay kamu, Mal!


Setelah makan, mereka berbincang-bincang di halaman belakang. Keponakan Steve itu sedang bermain bersama Chiro, Radhi dan Raine.


"Kalau kalian semua sudah menikah dan punya anak, pasti akan ramai sekali, ya."


Steve tiba-tiba saja memegang dadanya. Perkataan mamanya itu membuat Steve sedih. Apa dia punya kesempatan untuk menikah dan punya anak?


Steve mengunjungi makam kedua orang tuanya. Dia meletakkan bunga di kedua kuburan itu. Meskipun sudah sangat lama dan sekarang dia telah menjadi pria dewasa, bukan berarti Steve tidak menangis. Dia merasa sangat beruntung karena bisa diangkat anak oleh kedua orang tua angkatnya. Pria itu menghela nafas berat.


Steve mengajak Nuna ke makam ini, yang akhirnya membaut Nuna percaya kalau Steve sudah tidak memiliki orang tua kandung lagi.


"Pak, Bu, Steve datang bersama Nuna. Dia pere yang selalu Steve ceritakan pada kalian." Hati Nuna merasa terenyuh saat mendengar perkataan Steve.


Selesai dari makam, mereka jalan-jalan sebentar. Nuna merasa Steve sedikit berubah sejak dia tahu tentang penyakit pria itu. Steve seperti menjaga jarak, seperti ada beban yang begitu berat di pundaknya.

__ADS_1


Mereka lalu pergi ke kafe depan sekolah mereka. Dulu di sini hanya ada warung-warung kecil, kini telah dibangun kafe yang tentu saja dipenuhi dengan pelajar sekolah mereka.


"Nuna, aku harap nanti kamu akan menikah dengan seorang pria yang benar-benar mencintai kamu dengan tulus."


"Kenapa bicara begitu? Kenapa tidak kamu saja yang menikah denganku?"


Nuna langsung merutuki kebodohannya, kenapa dia malah bicara seperti itu. Seperti perempuan yang tidak laku lalu meminta seseorang untuk menikahinya!


"Aku ... aku yang tidak pantas untuk kamu, Nuna. Selain anak yatim piatu yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja, aku ini juga penyakitan."


"Jangan bicara seperti itu, Steve. Kamu tidak berada dalam posisi bisa memilih jalan hidup kamu."


"Tapi aku benar-benar tidak pantas untuk kamu. Kedua orang tua kamu dan juga sahabat-sahabat kamu, pasti menginginkan yang terbaik untuk kamu. Mereka pasti mau kamu menikah dengan pria terpandang dan sehat, tidak seperti aku. Umurku bisa habis kapan saja karena penyakit ini."


"Mereka akan mendukung apa pun keputusan aku, Steve, yang penting aku bahagia."


"Lalu orang tua kamu?"

__ADS_1


__ADS_2