
"Sekarang kita sudah tahu, siapa yang dimaksud calon menantu itu, kan?" celetuk Nania.
Mereka melirik Nania, yang mulutnya tidak bisa diam.
"Mommy."
"Iya, Sayangku?"
"Kalau Mommy marah pada daddy, jangan marah juga padaku, Mommy."
"Mana mungkin mommy marah pada Ecan yang ganteng ini. Kesayangannya mommy."
"Benarkah Ecan kesayangannya Mommy."
"Tentu saja, Ecan kesayangannya mommy."
"Mommy juga kesayangannya Ecan."
"Bukannya daddy kamu, yang jadi kesayangannya kamu?" tanya Nania sok polos.
"Hmmm, kalau ada mommy, tentu saja mommy yang jadi kesayangan Ecan. Kalau enggak ada, baru daddy."
__ADS_1
Nuna langsung tertawa mendengar perkataan Ecan. Dia sangat gemas dengan anaknya Freya ini, pintar banget.
Sedangkan sang daddy mendengkus dan manyun lima senti.
"Tapi memang seperti itu kan seharusnya. Meskipun orang tua tidak akur, anak tidak boleh menjadi korban," sindir Nuna telak dengan sangat sinis.
"Kalau orang tuanya baik, pasti anak juga akan baik dan sangat sayang. Lihat saja bagaimana Ecan dan Freya. Berpisah jauh, tapi ikatan batin dan kasih sayang mereka tidak pernah hilang. Beda banget sama yang dekat. Pura-pura enggak kenal, dan tidak pernah peduli meskipun anak bolak-balik masuk rumah sakit."
Rei pikir, apa yang dibicarakan Nuna ini adalah dirinya? Dia dan Marga, juga keluarga Marga, pura-pura tidak saling mengenal, meskipun sahabatnya tahu apa hubungan dia dan Marva.
Sedangkan yang lain, tentu saja sangat tahu apa dan siapa yang Nuna maksud.
Pihak lain itu, tidak ada yang tahu, kalau Freya selama ini tidak pernah benar-benar meninggalkan Chiro. Perempuan itu, meskipun terlihat angkuh, tapi memiliki hati yang baik dan lembut. Lihat saja bagaimana dulu Rei sering ditolong oleh Freya, meski mereka tidak mengenal terlalu dekat.
Mereka sudah tidak tahan mendengar sindiran Nuna yang terus menerus dia ucapkan.
Mereka pikir, setelah bertahun-tahun tidak bertemu, dia akan menjadi lebih ... sudah melupakan masa lalu itu, mungkin.
Tapi mana bisa. Masa lalu yang ditorehkan sejak dia masih balita. Dan kedua orang penyebabnya tidak ada yang mau menyembuhkan luka itu, malah menorehkan semakin banyak penderitaan batin.
Ikmal menghela nafas.
__ADS_1
Dua perempuan yang menjadi sahabat kecilnya itu, sekarang menjadi seperti ini. Dia laku melirik Arby, yang sama pusingnya.
Bisakah hubungan mereka berempat kembali membaik.
"Mon, ngomong-ngomong, nanti Steve setelah kembali dari Jepang, kan ingin melamar kamu ...."
Ucapan Nania langsung terhenti saat Nuna mendelik tajam padanya. Gadis itu hanya cengengesan saja.
"Steve?" tanya Ikmal.
"Iya, Steve. Setiap liburan dia akan selalu mengunjungi kami, mengajak teman-temannya yang ganteng. Ya ampun, body mereka yuhuuu bangettt." Kembali Nania mengompori, senang membuat para pria itu kebakaran jenggot.
"Kami ini bukan tipe cewek yang akan gagal move on. Mati satu, ya tumbuh seribu. Ya kan, Naya, Rei, Letta dan Monic?"
Mereka mengangguk serempak.
Lihat sekarang siapa yang panas.
"Jadi, Steve tahu di mana kalian berada?" tanya ya Ikmal.
"Ya tahu, lah. Kan tadi aku sudah bilang, kalau setiap liburan, dia akan selalu mengunjungi kami. Atau kadang kami liburan ke Jepang. Kalian selama ini di Jepang, kan? Untung enggak pernah ketemu."
__ADS_1
Para perempuan itu puas rasanya, melihat wajah mereka yang seperti itu.
Satu kosong!