Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
75 Mata-mata


__ADS_3

Nuna merenung di dalam kamar apartemen Freya. Sahabatnya itu meminta dia untuk membuka hatinya. Ya, dia akan membuka hatinya untuk seorang pria, tapi kalau untuk memaafkan kedua orang tuanya dan berdamai dengan mereka, tentu saja masih sangat sulit. Kedua orang tuanya itukah yang menjadikan dia seperti ini.


Tiba-tiba saja ponselnya berdering, chat masuk dari seseorang yang selama ini sering mengisi hari-harinya.


Dika


Bu a membaca pesan-pesan itu, lalu tersenyum. Dika, pria yang tidak pernah berhenti memberikannya perhatian, pria ya g sudah berkali-kali mengajak dia menikah, pria yang memberikan motivasi kalau tidak semua pernikahan akan berakhir buruk seperti kedua orang tuanya.


"Kamu bisa lihat contoh dari yang lain. Misalnya saja orang tua Freya dan Arby, atau orang tua Nania dan Aruna, bahkan Ikmal. Ya pokoknya masih banyak yang kain kan. Kenapa hanya menjadikan yang buruk-buruk saja sebagai contohnya?" ucap Dika saat itu.


Nuna menghela nafas, mengingat setiap perkataan Dika dan perkataan Freya yang ingin dirinya terbebas dari masa lalu yang menyakitkan.


Hari-hari berikutnya, hubungan Nuna dengan Dika semakin lengket saja. Mereka sering bertemu saat jam makan siang. Dika selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Nuna, membuat Nuna benar-benar merasa diperhatikan.


"Bagaimana Nuna, apa kamu mau menerima lamaran aku?"


"Aku akan pikirkan lagi."

__ADS_1


Dika mengangguk, dia tidak mau terlalu menekan Nuna. Lebih baik dirinya bersabar menunggu daripada nanti Nuna malah menjauh darinya. Toh selama ini dia memang suah menunggu bahkan dalam jangka waktu yang lebih lama lagi, kan? Sejak sekolah dasar.


Ikmal, Vian, Marcell, Mico dan Agam melihat Nuna yang bicara dengan Dika. Mereka juga ada di kafe itu, karena ini sudah menjadi tempat tongkrongan mereka.


Kafe depan rumah sakit


Kafe yang memang menjadi tempat untuk memata-matai para perempuan itu.


"Mak, kamu tidak mau jadi orang ketiga di antara Nuna dan Dika?" tanya Marcell.


"Mico sudah menjadi orang ketiga di antara Freya dan Arby. Agam menjadi orang ketiga di antara Marva dan Rei ...."


"Agam juga menjadi orang ketiga di antara kamu dan Nania, Cell," celetuk Vian.


Mereka lupa kalau Mico dan Agam ada di sana.


"Kalau sampai Arby dan Marva mendengar, habislah kalian berdua!"

__ADS_1


"Tapi kan Rei juga jadi orang ketiga antara Marva dan Vio," balas Marcell tanpa beban.


Agam langsung menatap Marcell dengan kesal.


"Maaf dokter Agam, keceplosan," ucap Marcell cengengesan.


"Kalau memang si Dika itu jodoh untuknya, maka kita harus men-training tuh si Dika. Yang enggak sejalan sama kita, lebih baik kita jauhkan dari para kaum perempuan itu. Bisa-bisa mereka menghasut para perempuan itu untuk menjauh dari kita," ucap Vian.


"Iya juga ya. Dokter Agam, kamu bujuk tuh si Rei untuk pro ke kami."


"Kenapa minta bantuan aku, bukan minta bantuan sama Marva saja? Kan kalian sering menganggap aku ini saingan!"


"Ck, itu karena Marva sudah dicap jelek duluan sama mereka. Nuna sudah sangat jelas membenci Marva. Yang bisa menjadi penengah antara perempuan itu dengan Marva kan hanya Freya, tapi sekarang enggak mungkin."


"Ngomong-ngomong, katanya si Steve mau menikahi Nuna. Mana tuh orang, nanti keburu dinikahi Dika eh dia malah nongol."


"Tau tuh, nanti malah nyanyi ... kumenangisss membayangkan ...."

__ADS_1


__ADS_2