
"Nuna, apa kamu tidak mau memberi tahu kedua orang tua kamu kalau kamu akan menikah?" tanya Freya.
Saat ini Freya dan Nuna sedang berada di kantin rumah sakit. Rei, Aruna dan Nania sedang berada di klinik.
"Tidak, untuk apa?"
"Ya harus dong, Nuna. Mereka kan tetap orang tua kamu juga. Kalau kamu tidak mau menemui mereka sendiri, bagaimana kalau aku yang menemani kamu dulu, setelah itu kamu bisa mengenalkan Dika pada mereka."
Nuna menghela nafasnya. Membicarakan kedua orang tuanya benar-benar membuat mood dia rusak.
"Sayang." Freya dan Nuna menoleh, lalu menghela nafas. Arby itu benar-benar tidak bisa jauh dari Freya. Dia datang bersama Chiro dan Ikmal.
"Ngapain ke sini?"
"Ikmal katanya kangen sama Nuna," ucap Arby tanpa rasa bersalah.
Dasar, dia yang kangen sama Freya malah menuduh Ikmal.
"Jadi, kapan kamu mau bertemu dengan mereka, Nuna?"
"Bertemu dengan siapa?"
"Dengan kedua orang tua Nuna. Nuna kan mau menikah dengan Dika, jadi harus bertemu dulu, setelah itu membawa Dika untuk meminta restu."
"Iya Nuna, kamu temuilah mereka. Mereka harus mengenal Dika dan memberikan kesan baik. Kalau kamu tidak mau meminta restu pada mereka, nanti mereka berpikiran jelek tentang Dika. Mereka pikir Dika tidak sopan dan tidak mau menasehati kamu untuk berdamai dengan mereka," ucap Arby.
__ADS_1
"Apa aku harus sekalian mengajak Dika?"
"Sebaiknya kamu dulu, baru nanti mengajak Dika. Tapi kamu juga bicara dulu pada Dika kalau ingin menemui kedua orang tua kamu secara pribadi." Ikmal juga ikut memberi saran.
"Iya, deh." Nuna akhirnya mau juga mengikuti saran mereka, yang membuat mereka lega.
"Nanti aku akan menjamin kamu tapi menunggu di tempat yang berbeda, buat jaga-jaga saja kalau keadaan menjadi tidak menyenangkan."
"Terima kasih ya Freya, kamu memang sahabat terbaik aku."
"Aku ikut," ucap Arby.
Tentu saja Arby tidak akan membiarkan Freya yang pergi sendiri, takut terjadi apa-apa.
"Coba kamu hubungi dulu papa dan mama kamu."
"Kenapa?"
"Aku kan tidak punya nomor ponsel mereka."
Freya, Arby dan Ikmal meringis. Sebegitu buruknya hubungan Nuna dengan kedua orang tuanya, sampai nomor ponsel pun Nuna tidak punya. Tapi kalau melihat perempuan lain yang ada di dekat mereka (Freya), Arby dan Ikmal juga jadi teringat masa dulu di mana Freya juga sama seperti Nuna.
"Ini, aku punya nomor ponsel papa kamu," ucap Ikmal. Mendengar itu, Nuna bukannya merasa senang justru kesal.
"Kenapa kamu bisa punya nomor ponselnya?" tanya Nuna singit.
__ADS_1
"Ya, kan papa kamu suami aunty aku ...." Ikmal mengusap tengkuknya. Kenapa dia yang seperti penjahat di sini?
Nuna menghubungi papanya langsung dari ponsel Ikmal, dan me-loudspeker.
"Halo Mal, ada apa?"
"Ini aku."
"Nuna? Ada apa? Tumben kamu menghubungi papa?" Nuna mendengkus. Belum apa-apa papanya sudah membuat dia kesal. Tanyakan kabar kek, bilang bahagia karena sudah ditelpon kek, nah ini malah bilang tumben. Meski memang benar tumben Nuna mau menghubunginya lebih dulu. Tapi sebagai orang tua, apa tidak bisa menyenangkan hati anak meski hanya sedikit saja?
"Nuna mau bertemu dengan papa dan mama, ada yang mau Nuna bicarakan, ini penting."
"Kamu sudah bilang sama mama kamu?"
"Belum, papa saja yang bilang."
"Kenapa harus papa? Kamu saja yang bilang sendiri."
"Papa saja, deh."
"Ck, kamu kan tahu sendiri bagaimana papa dan mama kamu itu. Nanti yang ada belum bicara apa-apa kami sudah bertengkar."
"Tuh kan, papa belum apa-apa sudah bikin aku kecewa. Mau nolongin anak sendiri susah banget! Nanti kalau aku yang bicara sama mama, pasti ribet ujung-ujungnya, lagian aku enggak punya nomor ponsel mama."
"Nih, papa kasih nomor ponsel mama kamu."
__ADS_1
"Ah, tahu ah! Nyebelin banget jadi orang tua!" Nuna langsung mematikan sambungan itu, bodoh amat dibilang enggak sopan sama orang tua sendiri. Saking kesalnya Nuna sampai melempar ponsel itu.
Ikmal mengenal nafas, kini ponselnya yang menjadi korban karena pertentangan ayah dan anak itu.