
Nuna sudah mengajukan cuti menikah. Mudah baginya mendapatkan cuti itu karena rumah sakit tempat dia bekerja adalah milik sahabatnya, Arby. Sedangkan klinik selain itu milik Freya, dia juga merupakan salah satu pendirinya.
Dua hari lagi Nuna akan menikah dengan Dika. Meskipun dia belum mendapatkan restu dari kedua orang tuanya, tapi dia tidak peduli. Uang penting adalah dia mendapatkan restu dari kedua orang tua Dika. Di mana lagi dia akan mendapatkan mertua yang sebaik itu, yang tidak mempermasalahkan tentang latar belakang keluarganya dan masa lalunya.
Nuna yang selalu merasa bahagia ketika membicarakan tentang Dika dan keluarganya kepada sahabat-sahabatnya, membuat mereka juga ikut merasa senang.
Saat ini kelima perempuan itu sedang berkumpul bersama, menikmati dia hari terakhir sebelum Nuna menyandang status sebagai istri. Menjadi istri berarti mengubah banyak hal. Hidup tidak akan sebebas sebelumnya.
"Pasti nanti kita jadi jarang bertemu setelah kamu menikah."
"Jarang bertemu gimana? Kita kan satu rumah sakit, satu klinik juga."
"Iya, tapi kan kamu tidak akan tinggal di apartemen ini lagi. Sekarang tinggal aku dan Aruna saja," keluh Nania.
"Ish, kan aku bisa meminta Dika untuk tinggal di apartemen punyaku. Freya dan Rei juga suka di apartemen mereka, kan?"
"Tiba-tiba saja aku tidak rela kamu menikah dengan Dika. Sidah Nuna, batalkan saja menikah dengan Dika!"
__ADS_1
Tuk!
"Aw!" Nania meringis saat keningnya disentil oleh Rei.
"Enggak boleh bicara begitu, Nania. Kamu mau nanti Nuna menjadi perawan tua atau melajang seumur hidup?"
"Bukannya begitu, aku hanya takut saja dia jadi jauh dari kita."
Nania mulai menangis. Freya memeluk Nania. Bagaimana pun juga, Freya, Nuna, Nania dan Aruna sudah bersama sejak mereka sekolah menengah pertama. Banyak suka duka yang mereka lewati bersama. Tidak mudah bagi mereka untuk melihat salah satu dari yang lainnya menjauh.
Nuna ikut meneteskan air matanya. Dia merasa sedih juga terharu. Kelima perempuan itu akhirnya hanya bisa mengusir bersama.
Ikmal langsung menepuk punggung Arby dengan kencang, hingga lengan pria itu berdenyut.
"Sakit, bego!"
"Makanya kalau ngomong jangan asal. Aku saja yang menyuruh Nuna memikirkan baik-baik untuk menikah dengan Dika, dia sewot!"
__ADS_1
Para pria itu terdiam, merasa ada yang janggal.
"Kamu nembak Nuna?"
"Ish, bukan! Hanya meminta dia pikir baik-baik untuk menikah dengan Dika."
Mereka kembali terdiam.
"Kenapa aku merasa ada yang enggak beres, ya? Kenapa aku tiba-tiba enggak rela dia menikah dengan Dika?" tanya Arby.
"Jangan-jangan kamu sudah jatuh cinta sama Nuna? Wah, bibit-bibit perselingkuhan, nih!" celetuk Marcell.
Kali ini Arby yang memukul Marcell dengan kencang, bahkan lebih kencang daripada Ikmal memukulnya.
"Bangsat! Jangan sembarangan kalau bicara! Nanti kalau Freya yang mendengar dia bisa salah paham, kamu mau aku ditinggalkan dia lagi!" Marcell sang tersangka hanya cengengesan saja sambil memberikan tanda V.
Dalam hati Ikmal, dia pun merasakan hal yang sama dengan Arby. Dia merasa ada yang aneh, tapi apa? Tinggal dia hari lagi status sahabatnya itu akan menjadi istri orang lain.
__ADS_1
Orang lain di sini benar-benar dalam artian orang lain, bukan dari lingkaran pertemanan mereka.
"Ck, kenapa aku jadi resah begini?" tanya Ikmal tak mengerti.