Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
123 Pasangan Itu?


__ADS_3

"Lihat, itu istri Steve, kan? Wah, dia selingkuh!" ucap Nania.


Keempat perempuan lainnya langsung menoleh. Mereka berlima sedang berada di kafe, tempat pertama yang mereka kunjungi untuk we time mereka.


"Gila, enggak nyangka Steve bakalan dikhianati seperti itu. Ckckck, apa ini yang namanya karma?"


"Karma sama siapa? Sama Nuna? Tapi kan Steve sama Nuna belum terikat apa-apa."


Bila yang lain berkomentar, maka Freya hanya menatap Nuna saja. Dia menelisik wajah Nuna, yang terlihat (menurut Freya) cukup senang melihat perempuan itu bersama pria lain.


Mereka kini semakin memperhatikan perempuan itu, yang terlihat sangat mesra dengan seorang pria.


Cekrek


Nania memotret mereka diam-diam.


"Buat jaga-jaga, kali saja nanti ini bisa dijadikan bahan untuk balas dendam pada Steve," beri tahunya tanpa ada yang bertanya.


Perempuan itu merasa ada yang sedang memperhatikan dirinya, kalau dia menoleh. Freya dan yang lainnya langsung memalingkan wajah, juga menutupi diri mereka.


"Bagaimana kalau hari ini kita menjadi mata-mata. Kita menguntit mereka?"


"Jangan!"


"Ayo!" ajak Nuna, di luar dugaan.


Freya kembali melihat Nuna. Nuna sepertinya benar-benar penasaran dengan perempuan dan pria itu.


Begitu mereka berdua keluar dari kafe, Nuna orang pertama yang berdiri, mengikuti mereka dengan jarak aman.


"Dia serius?" tanya Aruna melongo.


"Ini gara-gara kamu, Nania!"

__ADS_1


"Aku kan hanya iseng, siapa yang sangka Nuna benar-benar menganggap serius omongan aku!"


Mau tidak mau mereka mengikuti Nuna. Mereka tidak mau lagi Freya yang menyetir mobil. Masih trauma dengan aksi balap waktu itu. Lagi pula, mereka juga takut Arby mengamuk jika tahu perempuan kesayangannya membahayakan nyawa.


Kali ini ya bertugas menyetir adalah Rei.


"Ayolah Rei, jangan selama ini juga. Bisa-bisa kita yang kehilangan jejak."


"Ck, okelah kalau begitu." Rei lalu menancap gas.


"Wah, mereka ke hotel?"


"Mungkin ada urusan."


"Urusan perselingkuhan?"


"Kali saja rapat."


"Rapat di kamar?"


"Ayo kita turun."


Mereka lalu melihat kedua orang itu menaiki lift menuju lantai enam.


"Terus gimana?"


"Ayo kita ke lantai enam."


Freya menghela nafas, teman-temannya itu sangat antusias sekali menguntit mereka, padahal ini tidak ada dalam agenda we time mereka. Freya berdecak kesal saat ponselnya terus saja berbunyi.


Di rumahnya, Arby lagi ngambek karena Freya jalan-jalan tanpa dirinya dan Chiro. Dia sejak tadi hanya guling-gulingan di atas kasur.


Pria itu lalu mengirim pesan pada yang lain, mengajak mereka pergi bersama, dengan Chiro juga tentunya, karena dia mana bisa jauh dari Chiro.

__ADS_1


Satu jam kemudian mereka pergi ke mall. Bukan untuk shoping seperti kebanyakan perempuan, tapi untuk membelikan mainan untuk Chiro dan sepupu-sepupunya.


"Eh, itu bukannya Steve?"


"Benar, dia sama siapa itu?"


"Apa itu istrinya?"


"Bukan!"


"Tahu dari mana?"


"Yang di rumah sakit bukan perempuan itu."


Yang pernah melihat perempuan itu di rumah sakit hanya Agam, Marcell, Arby Ikmal dan Mico.


"Wah, Steve selingkuh. Lihat tuh, mereka masuk ke toko perhiasan. Ck ck ck, untung saja Nuna tidak bersama dia."


Ikmal menghela nafas. Dia antara marah, sedih, tapi juga lega.


"Ingat ,kita enggak usah cerita soal ini ke mereka. Awas kalau ada yang mulutnya ember!"


"Heleh, paling kamu sendiri yang ember. Kamu kan selalu cerita apa saja ke Freya."


"Iya, CD bolong saja dia ngadu!"


.


.


.


.

__ADS_1


Kayaknya aku mau hiatus dulu sebentar 😥


Lagi gak semangat, aku😢


__ADS_2