
"Malam tahun baru nanti, kita sama-sama gak, nih?" tanya Aruna.
"Ayo, sekalian ajak Chiro, Freya."
"Kita ke mana, ya? Pantai?"
"Jangan pantai terus, ah. Bosan."
Mereka berdiskusi akan ke mana tahun baru nanti. Freya diam saja, membiarkan teman-temannya itu sibuk menyusun rencana.
Rencana hanya rencana, ternyata mereka semua disibukkan dengan pekerjaan. Mereka mendapat kabar kalau terjadi keracunan masal di daerah klinik mereka berada. Freya yang memang hari ini tidak ada jadwal di rumah sakit, harus pergi ke daerah pinggiran kota itu untuk mengobati mereka yang keracunan, sedangkan yang lain sibuk di rumah sakit karena ada pasien dadakan.
Dika yang sudah menghubungi Nuna sejak tadi juga belum mendapat balasan dari gadis itu. Nuna, Nania, Aruna, Rei dan Marcell berada di rumah sakit, sedangkan Freya ada di klinik.
"Kamu bantu Freya sana, Cell. Nanti baru kembali ke sini lagi."
Tidak ada waktu untuk istirahat. Bahkan untuk minum saja harus mereka tunda. Mereka tidak mengeluh, karena ini adalah pekerjaan yang mereka pilih.
"Kita makan dulu, jangan sampai kita yang mengobati malah kita ikut diobati juga," ucap Nania.
__ADS_1
Yang lain mengangguk, lalu pergi ke kantin rumah sakit untuk makan. Nuna menghubungi Freya untuk menanyakan kondisi di klinik, tapi tidak ada tanggapan dari sahabatnya itu.
Nuna juga menyempatkan diri menghubungi Dika.
[Dika, maaf ya aku tidak bisa ikut dengan kamu dan keluarga kamu liburan ke vila. Sekarang aku lagi di rumah sakit, kami mendapat banyak pasien hari ini. Freya juga pergi ke klinik karena ada korban keracunan masal di sana. Sampai maaf dan salam aku kada keluarga kamu.]
Selesai makan, mereka kembali ke ruangan masing-masing tanpa ada waktu untuk mengobrol.
Waktu berputar, Nuna duduk di kursi kerjanya sambil mengusap keningnya. Dia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul lima. Sudah saatnya dia pulang.
Jalan sore ini sangat macet, karena sekarang adalah malam tahun baru. Ingin sekali Nuna merebahkan dirinya di atas kasur empuk. Jalanan yang padat merayap itu membuat perjalanan terasa sangat jauh, padahal Nuna pergi dari rumah sakit sore hari, namun sekarang waktu sudah menunjukkan jam delapan malam.
Meskipun lelah, entah kenapa dia tidak bisa tidur. Dia menunggu temannya yang lain pulang.
Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki. Nuna membuka pintu kamarnya dan ternyata itu adalah Nania dan Aruna.
"Kamu belum tidur?"
"Belum. Tinggal Freya nih yang belum pulang."
__ADS_1
Mereka duduk di ruang tamu, menunggu satu sahabat yang masih belum kembali. Sesekali mereka menguap, namun tetap berusaha untuk terjaga. Seperti itukah mereka, jika yang lain belum pulang, akan ada rasa khawatir. Seperti seorang ibu uang sangat khawatir saat anak gadisnya belum pulang.
"Kita tunggu di kamar saja, yuk."
"Rei sudah tidur?"
"Sudah, dia enggak keluar kamar dari tadi. Pasti kelelahan."
Nuna memandang ponselnya, lalu menghubungi Ikmal.
[Freya sudah sama Chiro dan Arby, belum?]
[Belum. Dari tadi Chiro nangis karena Freya belum datang juga. Yang aku dengar dari Marcell, keadaan di sana sangat kacau. Banyak polisi dan wartawan juga.]
[Kalau Freya Sidah bersama dengan Arby dan Chiro, langsung kasih tahu aku!]
[Iya. Sidah, kamu istirahat sana. Kamu juga pasti sangat lelah. Jangan sampai kamu sakit.]
Nuna tidak lagi membalas pesan Ikmal. Dia melirik jam yang ada di dinding. Masih berharap kalau sebentar lagi Freya akan pulang.
__ADS_1