
Satu minggu kemudian Nuna mendapatkan kabar kalau kedua orang tuanya akan menemuinya di salah satu restoran. Perasaan Nuna saat ini tidak tenang. Membicarakan tentang hubungannya dengan seorang pria kepada kedua orang tuanya seperti membicarakan hal pribadi dengan orang asing baginya. Bagaimana pun juga selama ini kan dia tidak sedekat itu kepada kedua orang tuanya, apalagi sampai menceritakan hal yang pribadi.
"Kamu bisa, Nuna," ucap Nania.
Rei, Nania, Aruna dan Freya saat ini sedang mendandani Nuna di apartemen.
"Kenapa harus dandan, sih?" tanyanya.
"Kan harus memberikan penampilan terbaik."
"Aku akan menemani kamu Nuna, tapi menunggu di meja yang lain buat jaga-jaga."
"Bicara baik-baik, jangan emosi."
Nuna diam saja mendengarkan sahabat-sahabatnya itu yang sedang menasehatinya. Mereka memang sudah sangat paham kalau biasanya Nuna dan kedua orang tuanya itu akan berakhir dengan pertengkaran.
"Ayo, Arby sudah menunggu," ajak Freya.
Arby dan Chiro sudah menunggu di ruang tamu. Di sana juga sudah ada tim kepo, siapa lagi kalau bukan para cowok dari berbagai status itu.
Setelah Nuna, Freya, Arby dan Chiro pergi, yang lain saling pandang.
"Kok aku penasaran, ya?" ucap Nania.
"Aku juga, ikutin yuk!"
__ADS_1
"Eh, jangan. Itu kan privasi." Rei menolak perkataan Nania dan Aruna.
"Tapi nanti kalau ada apa-apa bagaimana?"
"Kan di sana ada Freya dan Arby."
"Mal, kamu enggak penasaran?" tanya Nania.
"Enggak."
"Halah, bohong. Kau tahu kamu pasti penasaran, kan?"
Ikmal hanya mendengkus saja.
"Bodo amat ah, aku juga mau ke sana." Nania menarik tangan Aruna. Aruna menarik tangan Rei. Akhirnya para pria itu juga ikut.
Sementara itu Nuna, Freya, Arby dan Chiro juga masih di jalan. Nuna sejak tadi mengusap tangannya dengan gelisah.
Tidak lama kemudian mereka tiba di restoran. Nuna ke ruangan yang sudah di pesan, sementara Arby, Freya dan Chiro ke ruangan yang ada di sebelahnya. Nuna membuka pintu penghubung di antara ruangan itu.
"Mereka belum datang. Aku akan membuka sedikit pintu ini."
"Kenapa harus dibuka? Itu kan privasi kamu."
"Toh nanti juga aku akan cerita pada kalian, kan?"
__ADS_1
Nuna kembali ke tempat duduknya. Ini adalah restoran yang tempat duduknya beralaskan tatami. Nuna melihat jam di pergelangan tangannya, dan mendengkus kesal.
Gadis itu kembali menghela nafas. Ini sudah setengah jam dia menunggu, apa mungkin kedua orang tuanya tidak berniat untuk datang?
Saat Nuna berdiri, pintu ruangan itu terbuka. Papanya masuk bersama istri barunya.
"Aku tidak mau ada orang asing di sini!"
"Nuna, ini istri papa, bukan kadang asing."
"Dia istri papa tapi bukan mamaku. Papa Sidah terlambat setengah jam tapi malah datang dengan membawa perempuan itu!"
"Bukan papa saja uang terlambat, mama kamu saja belum datang."
Sementara di ruangan sebelah, Arby dan Freya saling pandang kali menghela nafas. Pintu ruangan mereka terbuka dan mereka kaget melihat rombongan itu yang langsung masuk. Freya meletakkan telunjuknya di bibir, agar mereka tidak berisik.
Kembali ke ruangan Nuna.
"Pergi dari sini, kamu tidak dibutuhkan."
"Jangan seperti itu, Nuna!"
"Kau bilang pergi. Jangan kembali menjadi pengacau di sini!"
"Ya sudah, biar saya saja yang pergi," ucap Elvira pada Edwan. Saat Elvira membuka pintu, Ara dan suaminya masuk. Nuna menghela nafas kesal.
__ADS_1
"Bukannya aku Sidah bilang hanya mau bicara dengan papa dan mama? Kenapa kalian malah membawa orang asing, sih?"