Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
88 Bertemu Calon Mertua


__ADS_3

Dika dan Nuna memasuki restoran itu.


"Jangan gugup," ucap Dika.


Ini terbalik, seharusnya Nuna yang mengatakan itu pada Dika. Dan seharusnya Nuna santai saja saat akan bertemu dengan kedua orang tuanya. Bukannya bertemu dengan keluarga Dika lebih menegangkan lagi?


"Ayo, kita harus masuk sekarang Nuna. Jangan membiarkan mereka menunggu."


"Paling juga kita yang menunggu mereka."


"Ya, itu masih jauh lebih baik."


Nuna dan Dika membuka pintu ruangan VIO itu. Masih belum ada siapa-siapa, dan Nuna tidak akan kaget.


Nuna memesan minuman lebih dulu, karena tidak tahu kapan kedua orang tua dia akan datang.


Freya, Nania, Aruna dan Rei tiba.


"Kita kan belum memesan ruangan VIP," ucap Nania.


"Tenang saja, sudah aku pesan," ucap Arby yang datang tiba-tiba.


"Ck, kalian kepo banget sih sama urusan perempuan. Ngintilin terus."

__ADS_1


"Dih, aku mau mau ngejagain My Bebeb. Ikmal nih yang kepo!"


Ikmal mendelik kesal pada si tukang fitnah.


"Ayo Sayang-sayangku, kita masuk." Pria itu menggandeng tangan Freya dan Chiro.


"Dasar pria tidak bertanggung jawab. Habis manis sepah dibuang!" gerutu Ikmal.


"Kamu kaya habis aku perawanin saja, Mal!" celetuk Arby.


Mereka memasuki ruangan yang tepat ada di sebelah ruangan Nuna. Mereka memesan makanan dan memasang kuping baik-baik, siapa tahu saja nanti ada pertengkaran.


Hampir satu jam Nuna dan Dika menunggu, membuat Nuna sangat kesal dan mau pulang saja.


"Macet apaan?"


"Mungkin ada urusan penting yang harus mereka kerjakan lebih dulu."


"Itu berarti mereka tidak menganggap aku ini penting. Padahal aku ini anak kandung mereka."


Dika menggaruk keningnya. Nuna yang lagi mode sensi ini akan terus sewot, jadi lebih baik Dika diam saja.


"Pulang sajalah, mereka pikir kita tidak punya urusan penting lainnya, apa?"

__ADS_1


Pintu ruangan terbuka, papa dan mama Nuna masuk dan langsung duduk.


"Akhirnya kalian datang juga. Pa, Ma, perkenalkan, ini Dika, calon suami Nuna."


"Selamat siang Om, Tante. Saya Dika, kekasih Nuna." Dika mau menyalami papa dan mama Nuna, tapi mereka diam saja. Nuna ingin protes, tapi Dika berusaha menenangkannya.


"Saya menemui Om dan Tante, bermaksud ingin melamar Nuna. Nanti saya membawa keluarga saya untuk melamar Nuna secara resmi, kapan Om dan Tante ada waktu?"


"Saya tidak setuju kamu menikahi anak saya. Saya sudah mempunyai calon suami untuk Nuna," ketus mamanya Nuna. Dia menelisik wajah Dika, mencoba mencari daya tarik dari pria itu.


"Saya tidak tahu apa yang menarik dari kamu. Tapi yang saya lihat kamu biasa saja, tuh."


"Mama!"


"Kamu diam dulu, Nuna. Biar mama bicara dengan pria ini."


"Mama tidak berhak menilai Dika seperti itu. Mama tidak tahu apa-apa."


"Mama berhak karena mama ini mama kamu. Dan mama tahu, karena mama sudah cukup banyak makan asam garam kehidupan. Mama kan juga punya banyak teman pria, Nuna. Kalau kamu lupa!" Dikatakan dengan percaya diri dan rasa bangga, membuat Edwan dan Nuna sama-sama berdecih.


Ara mendelik kesal pada Edwan, merasa dongkol dengan mantan suaminya itu yang meremehkan dirinya.


"Papa juga tidak setuju. Papa sudah menentukan siapa yang akan menjadi suami kamu, Nuna. Apa kamu tidak mengatakannya pada pria ini?"

__ADS_1


"Kamu dijodohkan, Nuna?"


__ADS_2