Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
127 Merasa Lega


__ADS_3

Keesokan harinya, Steve kembali menemui Nuna.


Besok


Besok


Dan besoknya lagi


Ada perasaan senang saat pria itu mendatanginya. Nuna menyingkirkan perasaan gundah dalam dirinya, perasaan bersalah karena terlihat senang bersama dengan suami orang.


Yang penting dirinya bahagia.


Urusan perasaan orang lain, itu urusan belakangan. Apa kata orang-orang, itu dipikirkan nanti.


Apa seperti ini yang namanya juga rasakan?


"Eh lihat, itu istrinya Steve dan anaknya, kan?"


Mereka saat ini berada di kafe milik Freya, menemani perempuan itu memeriksa keadaan kafenya.


"Bukan."


"Ih Freya, itu memang istrinya Steve dan anaknya."


"Itu bukan anaknya Steve."


"Kamu tahu dari mana?"


"Mukanya aja enggak mirip sama sekali dengan Steve, kok. Mukanya sedikit mirip mamanya, sisanya pasti mirip papanya, dong. Jadi, Steve bukan papanya."


Freya melirik Nuna yang mengulum senyum. Perempuan itu menghela nafas, takut Nuna akan sakit hati lagi nantinya.


Sepertinya dia benar-benar menyukai Steve.

__ADS_1


Tidak lama kemudian muncul seorang laki-laki, yang waktu itu mereka lihat. Pria itu mengecup pipi istri Steve, dan mengusap kepala anak itu.


"Wah, jangan-jangan itu anak selingkuhan perempuan itu?"


"Aku harus kasihan atau menertawakan Steve, ya?"


"Ayah!" teriak anak itu saat melihat kedatangan Steve.


Deg


Jantung para perempuan itu yang malah berdetak kencang, seolah sebentar lagi akan melihat pertengkaran rumah tangga orang.


Steve menggendong anak itu, dan mengecup keningnya dengan sayang. Steve merasa ada yang memperhatikannya, dia menoleh, lalu melihat sekumpulan perempuan itu.


Deg


Jantung Nuna berdetak melihat Steve yang menggendong anaknya, menyadarkan dia kalau akan ada anak lainnya yang akan menjadi korban dari perceraian orang tua.


Tapi ... tapi kata Freya, dia bukan anak Steve. Apa ini hanya dugaan karena anak itu tidak mirip dengan Steve?


"Hai, kalian juga di sini?"


Nania mendengkus mendengar perkataan Steve. Dia yang dulu paling antusias untuk menjodohkan Steve dengan Nuna, sekarang dia yang paling kesal.


"Anak kamu sudah besar juga, ya? Kapan nikahnya? Apa jangan-jangan nikah punya anak dulu baru nikah? Apa jangan-jangan itu bukan anak kau, kok gak mirip?"


"Nania!" bisik Rei sambil mencubit paha gadis itu.


"Maksudnya?"


"Halah, belaga bego, apa bego benaran?"


Istrinya Steve dan pria itu menghampiri mereka.

__ADS_1


"Ada apa, Steve?" tanya pria itu.


"Oh, ini teman-teman aku."


"Loh, ini Nuna, kan?" tanya pria itu.


Mereka langsung menoleh pada pria itu, yang ternyata mengenali Nuna.


"Anda mengenal saya?"


"Iya, tentu saja. Tidak secara langsung, sih. Aku sering melihat foto-foto kamu, dan sering mendengar cerita tentang kamu."


"Apa?"


"Steve punya banyak banget foto kamu. Dari kamu masih sekolah, sampai kuliah. Setiap kali kami bertemu, dia pasti cerita tentang kamu."


"Anda ini, siapa?"


"Saya Bian, kakak iparnya Steve. Ini istri dan anak saya."


"Hah? Anak istri?"


"Kirain selingkuhan!" ceplos Nania, yang kali ini langsung mendapat tatapan tajam dari sahabat-sahabatnya.


Steve, kakak dan kakak iparnya langsung tertawa.


"Jangan-jangan kalian mengira kakaknya ini, istrinya Steve, ya?"


"Iya. Habis di rumah sakit, anak ini manggil Steve, ayah. Bukan salah kamu, lah."


Mereka kembali tertawa.


"Tuh kan, Arkan, gara-gara kamu memanggil uncle Steve ayah, orang-orang jadi salah paham."

__ADS_1


Freya melirik Nuna, yang terlihat jelas wajah gadis itu sangat lega.


Sepertinya, Nuna benar-benar jatuh cinta pada Steve.


__ADS_2