Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
83 Jodoh Pilihan


__ADS_3

"Pokoknya Nuna tidak mau bicara kalau ada mereka!"


Kedua orang yang dibilang sebagai orang asing itu akhirnya keluar, daripada melihat Nuna yang terus emosi saat melihat mereka.


"Jadi, apa yang mau kamu katakan?" tanya Ara.


"Aku mau menikah," jawab Nuna tanpa basa-basi. Seperti biasa, tidak ada pertanyaan apa kabar atau basa-basi lainnya.


"Apa?"


"Ck, aku mau menikah."


"Dengan siapa?"


"Tentu saja dengan kekasihku."


"Kenapa kami tidak mengenalnya?"


"Mana mungkin kalian mengenalnya, mengenal aku dengan baik saja tidak."


"Papa tidak setuju."


"Mama tidak setuju."


Papa dan mama Nuna bicara dengan serempak, membuat Nuna sempat terpaku, tapi juga merasa kesal.


"Tumben untuk yang satu ini kalian kompak? Tapi kompaknya kalian tidak pada tempatnya!"

__ADS_1


"Papa akan menjodohkan kamu dengan pria lain."


"Mama akan menjodohkan kamu dengan pria lain."


Lagi-lagi papa dan mama Nuna bicara serentak dan punya tujuan yang sama.


Nuna benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Kenapa kedua orang tuanya ini bisa bersikap seperti ini padanya?


"Apa? Menjodohkan aku dengan pria pilihan kalian? Yang benar saja!"


"Pria itu yang terbaik untuk kamu, Nuna," ucap Edwan.


"Tidak, pria pilihan akulah yang terbaik untuk Nuna. Pilihan kamu mana ada yang benar!"


"Kamu pikir laki-laki pilihan kamu sudah pasti benar?"


"Tentu saja benar. Semua pria yang aku kenal sudah pasti baik, kecuali kamu!"


Brak


"Sialan! Apa kamu bilang?"


Nuna memijat keningnya.


Tuh kan, belum apa-apa saja mereka sudah bertengkar. Inilah yang membuat Nuna sangat malas untuk bertemu dengan mereka, hanya membaut darah tinggi dan makan ati.


"Aku tidak akan menikah dengan salah satu pria yang kalian pilih."

__ADS_1


"Nuna, mama tidak mau kamu salah pilih."


"Begitu juga dengan papa."


"Mama mau kamu menikah sekali seumur hidup."


"Papa juga menginginkan kamu menikah sekali seumur hidup."


Mendengar itu membuat Nuna tertawa terbahak.


"Kalian jangan menggurui aku. Seharusnya sebelum berkata seperti itu pada Nuna, kalian berkaca pada diri sendiri. Kain saja berpisah dan menikah dengan orang lain!"


Kedua orang tua Nuna terdiam. Mereka saling pandang lalu membuang muka.


"Pokoknya mama tidak akan merestui kamu dengan pria itu. Belum tentu juga dia pria baik-baik yang cocok dan setia dengan kamu."


"Papa juga tidak akan merestui kamu. Ingat, papa yang akan menjadi wali nikah kamu. Tanpa restu papa, kamu tidak bisa menikah dengannya. Dia belum tentu sesuai dengan kriteria papa."


"Benar, dia juga belum tentu sesuai dengan kriteria mama."


"Kalian belum pernah bertemu dengannya, atas dasar apa kalian memandang jelek dirinya? Lagi pula tanpa restu kain aku akan tetap menikah dengannya."


"Mama tetap tidak akan merestui kalian. Lihat saja, dia bahkan tidak punya niat baik untuk bertemu dengan mama dan memperkenalkan dirinya. Sebagai pria yang baik, seharusnya dia menemui mama dan mengutarakan niat baiknya. Menjelaskan hubungan dia dan kamu."


"Dia juga tidak mau memperkenalkan dirinya pada papa. Bagaimana pun juga, papa ini papa kamu. Jangan enggak ada omongan apa-apa malah bilang mau menikahi kamu."


"Jangan salahkan Dika. Aku yang memang tidak mau memperkenalkan dia dengan kalian. Aku memang sengaja ke sini tanpa dia, karena ingin bicara dengan kalian lebih dulu."

__ADS_1


"Pokoknya mama tetap tidak setuju. Hanya pria pilihan mama yang pantas untuk kamu."


"Papa juga tidak setuju, hanya pria pilihan papa yang terbaik untuk kamu."


__ADS_2