Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
63 Nasehat Freya


__ADS_3

Hari-hari yang dijalani oleh Nuna semakin berwarna sejak dia dekat dengan mamanya Dika. Pria itu juga memberikan banyak motivasi pada Nuna.


"Setiap orang pasti punya permasalahan hidupnya masing-masing, termasuk kamu dan kedua orang tua kamu. Ada juga yang punya masalah di faktor ekonomi, kesehatan, cinta dan lainnya. Aku juga enggak sempurna amat. Keluargaku memang harmonis, tapi bukan berarti kami sudah sempurna."


Nuna teringat akan sahabat-sahabatnya. Freya yang punya masalahnya sendiri. Begitu juga dengan Rei, Nania dan Aruna. Hidup mereka juga tidak berjalan mulus, tapi mampu untuk bangkit dan menunjukkan pada dunia kalau mereka bisa berdiri di atas kaki sendiri.


Kalau dipikir-pikir, untuk apa dia terjebak dengan masa lalu. Orang tuanya saja tidak akan meratapi dirinya dan tetap bahagia meski dia membenci mereka.


Nuna berusaha untuk memberi sugesti dirinya sendiri. Gadis itu akhir ya sampai di apartemen, merebahkan dirinya di kasir empuk, dan tanpa permisi air matanya mengalir.


"Nuna, mau kamu menangis seperti apa pun, masa lalu tetaplah masa lalu. Kalau bisa mengubah takdir, maka aku orang pertama yang akan mengubah takdirku," ucap Freya.


"Aku tidak akan menghakimi dirimu yang membenci kedua orang tuamu, karena aku juga merasakan hal yang sama. Diacuhkan, tidak dipedulikan, yang ada dalam pikiran mereka hanya perusahaan dan kekayaan. Mau seperti apa aku memberontak, apa mereka berubah? Tidak, kan? Kamu masih beruntung tidak terjebak dengan pernikahan semu dan terjerumus dalam lembah hitam. Kamu masih single, tidak ada beban yang bertumpu di pundakmu. Tidak seperti aku!"


Nuna tertegun. Benar apa kata Freya. Dia bukan satu-satunya anak broken home. Bukan satu-satunya yang memiliki orang tua yang tidak peduli. Tapi kenapa dia bisa sampai terpuruk seperti ini?


"Kamu tahu, aku bukannya melarang kamu bersama Dika. Tapi, aku hanya ingin kamu menikah dengan orang yang benar-benar mencintai kamu, agar dia tidak menyakiti kamu. Dan kalau kamu tidak yakin dengan Dika, jangan lanjutkan langkahmu ke arahnya, karena itu akan membuat dirimu sendiri yang terjebak. Dan kalau Dika menyakiti kamu, aku yang akan menjadi orang terdepan membela kamu."

__ADS_1


Isak tangis Nuna semakin kencang.


"Ayo kita sama-sama melupakan rasa sakit itu. Kamu boleh dekat dengan banyak pria, dan terimalah yang terbaik di antara mereka."


Nuna mengangguk paham. Freya memang lebih muda darinya, tapi selalu dia yang bisa mengerti Nuna.


Malam ini kelima perempuan itu berkumpul di apartemen, ingin berleha-leha setelah satu minggu ini sibuk di rumah sakit.


"Ck, aku pengen masakan yang dibuat oleh mama."


"Mamanya siapa, kek."


Pertama kali merasakan masakan mamanya Dika, membuat Nuna ingin selalu merasakan masakan seorang ibu.


"Mamanya Arby saja," saran Nania.


"Jangan sembarangan, ya!" ucap Freya. Nanti tuh cowok nyari-nyari alasan biar bisa dekat dekat dengan Freya.

__ADS_1


"Mamanya Marva?"


"Jangan!" kali ini Rei dan Nuna yang menolak keras usulan Nania.


"Kenapa bukan mama kalian saja?" tanya Freya pada Nania dan Aruna.


"Mama aku lagi di Bali," jawab Nania.


"Mama aku lagi di Surabaya."


Mereka menghela nafas. Malas sekali rasanya mau masak, sedangkan bosan juga dengan masakan yang dibeli.


Tidak lama kemudian bel apartemen berbunyi.


"Hai, aku bawakan makan siang untuk kalian. Ini mama aku yang masak."


Kelima perempuan itu langsung girang, tanpa sadar beberapa pria di luar sana merasa sudah didahului oleh Dika yang kehadirannya tidak diharapkan.

__ADS_1


__ADS_2