Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
103 Mico, Sang Pengacara


__ADS_3

"Kenapa kalian diam saja? Cepat katakan apa yang terjadi, dan kenapa Freya bisa sampai di bawa ke IGD, hah?"


Semua tetap diam, mendadak kalem padahal tadi mereka sangat aktif bermulut pedas.


"Kalian ini ...." Damian menunjuk Nuna, Seruan, Nania, Rei, Marcell dan Agam.


"Kalian ini dokter, tapi kenapa ... apa kalian bertengkar? Apa yang kalian ributkan?"


"Marcell, Agam, kenapa kalian juga ikut-ikutan?" tanya Arlan.


"Anya, Vanya, Gerald, Aleena, kenapa dengan wajah kalian? Kalian ini seorang publik figur, ke apa sekarang malah terlihat seperti gembel?"


Kedua orang tua Nania dan Aruna juga datang, melihat putri mereka seperti orang yang habis dianiaya.


"Apa kalian tidak punya mulut, hah!"


"Ma—maafkan aku, ini semua salahku."


"Bukan!" ucap mereka kompak


"Coba ceritakan semuanya, jangan takut."


"Ini semua tuh salah Dika sialan itu!" sungut Nania.


"Dika? Dika calon suami Nuna?"


"Bukan!" lagi-lagi yang lain menjawab kompak.


"Terus, Dika yang mana?"

__ADS_1


"Ck, Dika yang tadinya calon suami Nuna, Taki sekarang malah nikah sama perempuan lain. Kurang ajar, memang."


"Maksudnya? Dika mengkhianati Nuna?"


"Iya, dia malah hari ini mau menikah dengan seorang model."


"Terus, dari mana kalian tahu?"


"Jadi gini ...," ucap Anya.


"Kami ini diundang sama agency-nya Evelyn ke pernikahannya. Ya aku sama yang lain datang, karena enggak enak saja, padahal mah malas banget."


"Terus?"


"Terus pas aku lihat calon suaminya kaya mirip sama pacarnya Nuna, ya aku langsung saja konfirmasi ke Freya, aku foto toh cowok, kirim ke Freya. Nah, Freya langsung minta aku sama Vanya buat ngulur waktu, biar akadnya ditunda sampai mereka datang."


"Terus?"


"Cepat cerita, mama kan penasaran."


"Ya aku cari cara lah, biar akadnya ditunda sampai Freya datang."


"Freya langsung menghubungi kami, nyuruh nyari Nuna," sambung Aruna.


"Dia juga waktu itu langsung menghubungi Arby, marah-marah katanya si sialan itu mau menikah dengan perempuan lain, kebetulan Arby lagi di rumah Ikmal sama yang lain juga."


"Jadi kalian berantem sama orang-orang itu?"


"Ya iya, lah."

__ADS_1


"Kalian ini kan, dokter, kenapa malah main kekerasan? Kamu juga Mico, kamu itu pengacara, kenapa malah ikut berkelahi."


"Dih, mereka yang mulai duluan, kok."


"Bagaimana kalau nanti berita ini sampai tersebar? Bisa hancur reputasi kalian semua."


"Benar, lain semua bisa dituntut, karena merusak acara orang."


"Maafkan aku!" ucap Nuna lagi.


"Bukan mereka yang akan menuntut, tapi kita." Mico tersenyum puas.


"Apa maksud kamu? Apa karena pria itu mengkhianati Nuna, maka bisa dituntut begitu saja?"


"Ck, aku ini pengacara kondang, loh. Mana mungkin bersikap bodoh. Kita membela diri, benar?"


Mereka mengangguk.


"Mereka yang lebih dulu menghina Nuna, itu termasuk pelecehan verbal. Pihak mereka yang lebih dulu main fisik, karena mendorong Nania. Pria itu yang memukulku lebih dulu, jadi aku hanya membela diri. Mereka sudah menyakiti Nuna, mendorongnya sampai terluka saat kami membalik badan, dan juga salah satu dari mereka mendorong Freya sampai perut Freya terbentur meja."


"Apa? Kurs g akar sekali mereka. Lalu, sekarang bagaimana keadaan Freya."


"Masih diperiksa oleh dokter."


"Mau sidah mengamankan CCTV sebagai bukti," ucap Mico lagi.


"Kalian kamu melakukannya?"


"Aku sudah menghubungi anak buahku untuk menyiapkan semuanya. Membawa beberapa pengawal untuk berjaga-jaga, mengamankan CCTV dan menyiapkan kendaraan. Makanya tadi di mobil aku sudah bilang, jangan terbawa emosi, biar orang-orang itu dulu yang bertindak, kita hanya melayani saja. Mereka itu orang bodoh yang memasuki otot, sedangkan kita orang pintar yang memakai otak. Aku juga akan menuntut pria yang membawa senjata api itu, akan aku cari tahu apakah dia memiliki ijin penggunaan senjata api atau tidak."

__ADS_1


"


__ADS_2