Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
140 Balasan Dari Steve


__ADS_3

"A ... apa? Lemak lumer? Aku ini tidak gendut, hanya ...."


"Hanya berlebihan daging?"


Evelyn mengatupkan lagi mulutnya. Kenapa, kenapa perempuan di hadapannya ini selalu dikelilingi oleh orang-orang bermulut pedas?


"Aku sedang hamil, anaknya Dika!" ucap Evelyn, ingin memanasi Nuna.


"Terus kami harus bilang wow, gitu?"


"Ayo Sayang, kita pulang saja."


"Heh perempuan kampung, kamu pikir laki-laki ini serius sama kamu? Paling dia hanya mau tubuhmu saja, habis itu kamu akan langsung dibuang olehnya."


Steve mengepalkan tangannya. Dia tentu saja tidak terima dengan perkataan Evelyn.


"Jaga bicara kamu!"


"Memang iya kan, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya."

__ADS_1


"Kamu hamil? Aku rasa buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Kamu terlihat seperti ja lang, mungkin saja anakmu nanti akan menjadi pe la cur!" ucap Steve membalas Evelyn.


"Jaga bicara kamu, bangsat!" bentak Dika.


"Kalian marah? Merasa terhina? Lalu bagaimana dengan Nuna? Mau seperti apa pun orang tuanya, kalian tidak berhak menghinanya. Kalian yang seperti ini, apa terima jika anak kalian yang dihina? Tidak, kan? Jadi mulailah lebih dulu menjaga mulut kalian sebelum kata-kata itu berbalik pada diri kalian sendiri."


"Kamu, mungkin saja ayah kamu itu juga bajingan, makanya kamu pun bersikap layaknya bajingan. Mungkin saja ayah kamu itu suka mempermainkan hati perempuan, sama seperti dirimu! Kenapa? Merasa sakit hati saat orang tua kamu dibawa-bawa? Itu juga yang pastinya Nuna rasakan," ucap Steve pada Dika.


Bugh


"Steve!" Nuna begitu syok saat Dika tiba-tiba saja memukul wajah Steve.


"Berhenti Dika! Apa kamu tidak puas selalu mencari masalah? Kalian yang lebih dulu memulainya, kenapa kalian yang marah, hah!" Nuna memegangi wajah Steve yang memar. Dia sangat khawatir, bagaimana pun juga, Steve baru saja keluar dari rumah sakit.


"Ini tidak apa, Nuna."


"Tidak, kita harus ke rumah sakit sekarang."


Nuna tidak mau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada pria itu. Apalagi ini terjadi karena dia. Nuna yang membawa mobil, sedangkan Steve mengusap sudut bibirnya yang berdarah.

__ADS_1


"Nuna, apa yang terjadi?" tanya Agam. Agam diam-diam menghubungi Rei, Rei lalu menghubungi Nania dan Aruna, begitu selanjutnya hingga yang lain pada tahu.


"Apa yang terjadi?" tanya Ikmal setelah mereka berkumpul di rumah sakit. Nuna akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata video itu juga sudah tersebar.


"Enggak ada kapok-kapoknya ya, mereka."


"Maafkan aku," ucap Nuna pada Steve. Untung saja kondisi Steve baik-baik saja.


Nuna juga khawatir dengan orang tua Steve. Mereka pasti akan menyalahkan dirinya, meskipun Nuna sadar memang dia juga yang salah, sudah menyeret Steve ke dalam masalah pribadinya.


"Tidak perlu mencemaskan apa pun," ucap Steve, berusaha menenangkan Nuna.


Teman-teman Nuna yang masih memperhatikan video itu, diam-diam merasa lega karena setidaknya Steve masih mau membela Nuna. Untuk urusan Dika dan Evelyn, biar nanti diurus, yang penting sekarang Nuna dan Steve dulu.


Orang tua Steve datang, mereka khawatir tapi juga lega.


"Maafkan saya, Om, Tante. Ini salah saya."


Tidak ada yang menyalahkan Nuna, tapi mereka memang merasa geram pada Dika dan Evelyn, jadi orang kok repot banget sama urusan orang.

__ADS_1


"Sudah pernah dipenjara tapi gak kapok."


"Mau nyari sensasi kali tuh, biar masuk televisi lagi, dia kan udah gak laku."


__ADS_2