Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
111 Ego


__ADS_3

"Jangan, itu nanti biar jadi urusan kami saja," ucap Arby.


"Apaan sih, kamu mau membela pria itu, ya!"


"Enggak, siapa juga yang mau membela dia. Pokoknya kalian para perempuan diam saja, tunggu saja hasilnya. Biar itu menjadi urusan kami."


Anya dan Vanya yang ada di sana juga diam saja. Mereka untuk sementara waktu itu juga tidak bisa bekerja karena wajah mereka yang masih memar. Selain itu, mereka kabur ke rumah Freya karena takut dengan opa oma dan kedua orang tua mereka yang masih saja kesal dengan perkelahian itu. Dianggap tidak elegan.


"Pokoknya aku mau pergi!"


"Aku bilang enggak, ya enggak!"


"Dasar cowok, pasti kalian mau menebak dia kan? Sesama jenis pasti saling dukung tuh!"


Tuh kan, mereka yang ikut disalahin. Kondisi Freya yang sedang hamil itu memang membuat dirinya Sika uring-uringan, sekarang malah ditambah dengan perbuatan Dika.


Freya menarik baju Arby hingga kancing baju itu terlepas, belum lagi rambutnya yang acak-acakan.

__ADS_1


"Sayang, kamu kalau lagi pengen bilang saja. Pasti aku kasih kok, tapi jangan di sini."


Nuna yang masih menetaskan air matanya, sedikit tertawa. Memang benar, sahabat adalah tempat baginya untuk berbagi kesedihan dan yang bisa menghibur gadis itu.


Arby langsung menggendong Freya ke kamar, mencegah perempuan itu pergi, karena dia tahu Freya itu orang yang nekat.


"Lepasss!"


Dua puluh menit kemudian Arby baru keluar kamar, dengan keadaan yang berantakan.


"Loh Arby, kok penampilan kamu begitu?"


Tapi bohong, padahal pria itu baru saja diacak-acak omeh Freya yang sedang sensitif.


Tempat ini selalu saja menjadi markas untuk mereka. Apalagi tempat untuk kabur. Kalau di rumah, mereka akan diceramahi panjang lebar.


"Pokoknya aku enggak terima. Masa gara-gara pria itu, Freya jadi ikut-ikutan ngambek sama aku. Padahal kan yang berkhianat itu Dika, bukan aku. Lagian yang salah itu juga kamu, Ikmal!"

__ADS_1


"Loh, kenapa aku?"


"Kan seharusnya kamu yang lebih bisa menjaga Nuna. Makanya dari awal aku sudah bilang, jangan biarkan Nuna nikah sama Dika. Begini nih jadinya."


Ikmal diam saja. Ini memang salahnya juga, sih. Tapi mereka memang sudah mencari tahu tentang Dika, pria itu sebelumnya bersih-saja. Tapi siapa sangka benar-benar licik. Mereka jadi merasa kecolongan. Ni ayang mendengar perdebatan antara Ikmal dan Arby jadi tidak enak hati. Semua orang jadi direpotkan karena dirinya.


Sementara itu, keduanorang tua Nuna sebenarnya merasa senang anak mereka gagal menikah. Tidak peduli apa yang dirasakan oleh Nuna, yang mereka pikir lebih baik begitu daripada menikahbdengan pria itu.


"Kau akan menikahkan Nuna dengan pria pilihanku," ucap Ara.


"Tidak bisa, dengan pria pilihanku lah Nuna akan menikah!"


"Dasar ayah egois!"


"Kamu pikir kamu tidak egois!"


Seperti itulah mereka, setiap kali bertemu selalu saja bertengkar. Tidak bisa menahan diri dan menurunkan ego. Ada saja yang mereka ributkan, seolah dengan tidak bertengkar, maka dunia akan runtuh. Mereka membiarkan Nuna yang hanya dihibur oleh sahabat-sahabatnya saja.

__ADS_1


Kedua orang itu saling menatap tajam. Masing-masing dari mereka sudah merencanakan masa depan untuk Nuna, mencarikan yang terbaik untuk gadis itu.


__ADS_2