
Edwan sedang merenung di kamarnya. Dia mendengar kabar dari Ikmal kalau Nuna saat ini sedang dekat dengan seorang pria yang berprofesi sebagai dosen di universitas terkemuka.
Hubungan dia dengan anaknya tidak pernah mengalami kemajuan. Nuna masih saja membenci dirinya karena telah berpisah dengan mamanya dan kini sudah menikah lagi.
Edwan menghela nafas kasar. Meskipun dia sudah berpisah dengan mamanya Nuna, tapi bukan berarti hubungan mereka putus begitu saja. Bukan berarti juga komunikasi mereka berjalan dengan baik. Mereka tetap saja melakukan perang dingin. Entah kenapa dia dan mamanya Nuna itu tidak pernah bisa akur meski telah berpisah.
Edwan menggelengkan kepalanya, memikirkan semua itu membuatnya sakit kepala. Edwan mengambil ponselnya, dan menghubungi seseorang.
"Halo, Ikmal?"
"Kenapa, Om?"
"Om minta tolong sama kamu, bisa tidak kamu awasi Nuna. Om hanya tidak mau kalau dia salah memilih pasangan."
Di seberang sana, Ikmal menghela nafas.
"Kenapa bukan Om saja yang mengawasi mereka?"
"Om lagi banyak pekerjaan, jarang ada di Jakarta."
__ADS_1
Lagi-lagi Ikmal menghela nafas.
"Memangnya pekerjaan lebih penting dari pada anak sendiri? Pantas saja Nuna membenci kedua orang tuanya."
Tanpa berpamitan, Ikmal langsung menantikan sambungan telepon itu. Ikmal tidak habis pikir, kenapa harus dia yang mengawasi Nuna dengan Dika? Bukannya Ikmal tidak mau, tentu saja dia akan menjaga sahabatnya itu.
Tapi orang-orang yang sering berpikir kalau dia dan Nuna lebih dari sekedar sahabat, membuat Ikmal khawatir kalau persahabatan dia dan Nuna malah akan rusak.
Ikmal sangat tahu bagaimana kalau Nuna sudah sangat membenci orang, tidak peduli siapa orang itu. Lihat saja bagaimana Nuna membenci orang tua kandungnya sendiri. Bagaimana Nuna yang membenci Marva dan keluarganya. Bagaimana Nuna yang membenci selingkuhan mamanya meski tidak mengenal mereka.
Ikmal juga sudah mencari tahu, kalau Dika memang tidak sedang menjalin hubungan dengan perempuan mana pun selain Nuna. Keluarganya juga berasal dari keluarga baik-baik dan pastinya berpendidikan.
"Apa, sih?" tanya sang mantan dengan ketus setelah telp tersambung.
"Kamu tahu, kalau Nuna sedang dekat dengan seorang pria?"
"Memangnya kenapa?"
"Apa kamu tidak mau mengenal pria itu?"
__ADS_1
"Nanti juga kenal kalau Nuna mau nikah. Sudah ah, aku sibuk. Kalau enggak penting, enggak usah menghubungi, ganggu tahu gak!"
Edwan mendengkus setelah telp itu dimatikan secara sepihak.
Di sana, Ara mendengkus. Mantan suaminya itu memang selalu menyebalkan di matanya. Mereka berdua memang saling membenci. Komunitas mereka saat masih bersama juga sangat jarang. Mereka berdua sama-sama disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.
Ara kembali sibuk dengan ponselnya. Sesekali dia tersenyum, kadang mengerutkan kening saat membaca beberapa pesan.
"Kamu lagi apa?" tanya suaminya.
"Oh, enggak apa."
Ara langsung menutup aplikasi pesan itu. Dia tidak ingin suaminya itu tahu dengan siapa dia berkirim pesan.
"Minggu depan aku tidak sibuk, bagaimana kalau kita liburan ke Swiss."
"Oke."
Wajah Ara langsung cerah, rasa kesal yang tadi dia rasakan pada Edwan terkikis dengan rencana liburan ke Swiss. Banyak barang yang bisa dia beli di sana. Gaya hidupnya yang selalu mewah sejak kecil, membuat Ara terbiasa dengan barang-barang mahal dan liburan ke berbagai negara dalam jangka waktu yang cukup lama, Bagi dia, itu hal yang menyenangkan untuk menghilangkan kepenatan.
__ADS_1