Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
62 Telur Ceplok


__ADS_3

"Kamu kelihatan gugup," ucap Dika.


"Iya, gimana kalau keluarga kamu tidak menyukai aku. Aku kan ...."


"Nuna, jangan cemaskan apa yang belum tentu dan mungkin tidak akan terjadi. Selama ada aku, maka semuanya akan baik-baik saja."


Nuna mengangguk. Kepercayaan dirinya memang merosot saat dihadapi situasi seperti ini.


"Ayo turun."


Nuna membawa kue yang Sidah dia buat, sedangkan Dika menenteng buah-buahan di tangan kiri, dan tangan kanannya menggandeng tanga Nuna yang Sidah keringat dingin.


"Santai saja, Nuna," bisik Dika.


Mereka memasuki ruang tamu, yang ternyata Sidah ada kedua orang tua Dika dan adiknya.


"Kalian sudah datang? Oh, jadi ini yang namanya Nuna? Wah, cantik ya. Pantas saja Dika suka, dia sering banget loh cerita tentang kamu."


Nuna tersenyum, dia sedikit lega akan sambutan mamanya Dika. E tah itu hanya sekedar basa-basi atau memang fakta.


"Tante, ini aku bawakan kue untuk Tante."


"Ini kamu sendiri yang membuatnya?"

__ADS_1


"Iya, semoga Tante suka."


Nuna memang Sidah belajar membuat kue dari Freya dan Rei. Soal masak memasak, memang dua perempuan itu yang paling jago.


Setelah kue dan buah disuguhkan di atas meja, mereka mulai mengobrol.


"Kata Dika kamu dokter?"


"Iya, saya dokter."


"Beri tung sekali ya Dika, bisa mengenal gadis seperti kamu. Semoga saja kalian berjodoh, ya."


Dika sangat senang mendengar mamanya mengatakan hal itu. Dia melihat waja Nuna yang sudah tidak secara tadi.


Mamanya Dika lalu menceritakan tentang keluarga Dika yang mayoritas adalah pendidik. Menjadi pendidik memang Sidah melekat di dalam keluarga itu.


"Iya, Tante."


"Jangan panggil Tante. Panggil mama saja ya, sama seperti Dika."


"I ... iya, Ma."


Hati Nuna merasa menghangat. Ini adalah kesan pertama yang dia dapatkan dari keluarga Dika. Dia pikir, mamanya Dika akan memasang singit pada dirinya, anak broken home yang dulu sering di-bully.

__ADS_1


"Kamu sering-sering main ke sini, ya, meskipun tidak bersama Dika. Dika itu suka sibuk. Kadang di rumah juga sibuk memeriksa tugas para mahasiswa, belum lagi kalau ada yang mau bimbingan."


"Kamu bicara terus sih Ma, dari tadi. Kasihan itu Nuna, pasti kupingnya sudah panas mendengar ocehan kamu," ucap papanya Dika.


"Ck, papa apaan, sih. Kan harus dekat Pa, dengan calon mantu."


Wajah Nuna langsung memerah.


Calon mantu?


Dia saja belum memberikan kepastian pada Dika. Tapi melihat keluarga Dika yang sehangat ini, Nuna mulai berpikir untuk membuka hatinya pada pria yang selalu perhatian ini.


Benar apa kata sahabat-sahabatnya, mau sampai kapan dia menutup diri? Suatu saat nanti yang lain juga pasti akan sibuk dengan keluarga masing-masing. Lalu dia?


Apa dia akan selalu mengekor di belakang mereka?


"Ayo kita makan siang dulu. Tadi mama sudah masak yang spesial buat kamu. Mudah-mudahan kamu suka ya, sama masakan mama."


Mereka lalu makan bersama. Di suapan pertama, hati Nuna terasa sedih. Dia ... hingga saat ini, belum pernah merasakan masakan mamanya, meski itu hanya sekedar telor ceplok yang hangus dan keasinan.


"Gimana, apa kamu suka?"


"Suka. Ini enak banget, Ma."

__ADS_1


Nuna berusaha menahan tangisnya. Membayangkan bagaimana rasanya makan bersama dengan kedua orang tua kandungnya dan calon suaminya.


Tapi Nuna tahu, itu tidak akan pernah terjadi.


__ADS_2