
Nuna membalik tubuhnya, meninggalkan kamar VIP itu yang entah kenapa, membuat dia merasa sakit.
Yang lain langsung menyusul Nuna. Ikut merasakan kesedihan gadis itu. Nuna yang berjalan sangat cepat, seperti setengah berlari, hampir saja tersandung, kalau saja tidak ditahan oleh Agam.
Hiks
Akhirnya tangis itu pecah juga. Agam memeluk Nuna, mengusap punggung gadis itu. Rei saling melihat pada Aruna dan Nania. Rei melihat Agam dengan tatapan dalam, berpikir apa pria itu mulai mencintai sahabatnya?
"Eh, peluk-peluk sembarangan!" ucap Arby. Dia ingin menjemput Freya. Di belakang Arby ada Ikmal, Via dan Mico. Hanya Marva saja yang tidak ada, karena pria itu masih rapat di kantornya.
"Nuna, kamu kenapa menangis?" tanya Ikmal. Pria itu melihat Nuna yang ada dalam pelukan Agam.
"Tuh, si kamvret Steve, ternyata Sidah menikah dan punya anak! Sialan!" jawab Nania.
"Apa?"
"Tahu dari mana?"
"Kami lihat sendiri, kok. Ya kan, Freya?"
"Eh, Freya di mana?"
Arby langsung melebarkan matanya saat tidak ada Freya di dalam tim cheerleader itu.
"Ayo ikut aku!" Arby langsung menarik Ikmal dan Mico. Kenapa kedua orang pria itu? Karena Ikmal yang harus mengurus Steve, sedangkan Mico yang akan menjadi pengacara kalau Freya Sidah adu jotos dengan Steve. Arby sangat tahu Freya itu bisa jadi sangat menakutkan.
"Sudah, kita di sini saja!" ucap Rei.
__ADS_1
Menenangkan Nuna juga penting bagi mereka.
Di saat teman-temannya tadi menyusul Nuna, Freya memang tidak ikut. Perempuan itu malah masuk ke dalam ruangan Steve. Mendekati pria itu dengan tatapan menyelidik.
"Freya ...."
Freya memang tidak ingat dengan Steve, tapi pernah melihat foto pria itu saat mereka selalu liburan bersama, yang masih disimpan oleh teman-temannya. Bahkan oleh dirinya sendiri di apartemennya.
Freya mendekati Steve, menelisik wajah pria itu.
Setelah semakin dekat, Freya langsung menarik tangan Steve, bukan untuk memotong atau mematahkannya, tapi memeriksa denyut nadinya.
Lalu perempuan itu melihat mata Steve, menelitinya. Memeriksa cairan infusnya. Freya juga melihat ada obat di atas nakas. Diambilnya obat-obatan itu. Dilihat ukurannya, warnanya, lalu dicium aromanya. Diambilnya pipet kecil, lalu diambilnya obat itu untuk melihat lebih dekat lagi.
"Freya ...."
"Ayah!"
Panggilan anak kecil itu pada Steve mengalihkan perhatian Freya. Dia melihat wajah anak laki-laki itu. Lalu melihat wajah Steve dan perempuan yang ada dia sebelahnya.
"Adik kecil, nama kamu siapa?" tanya Freya.
"Arkana."
"Dia ayah kamu?"
Arby berjalan terburu-buru, dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Freya dan calon anaknya yang sebentar lagi akan lahir.
__ADS_1
Brak
Pintu kamar itu dibuka dengan kencang.
Mereka melihat Freya yang sedang bertolak pinggang di hadapan orang-orang itu, dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
"Ayo!" Freya langsung mendorong Arby, Ikmal dan Mico.
Sebelum menutup pintu, perempuan itu kembali melihat Steve yang hanya menunduk.
Ketiga pria itu mau bertanya, tapi melihat ekspresi Freya yang sepertinya sedang menahan sesuatu, jadi tidak jadi.
"Kamu mau BAB, Yang. Kok mukanya begitu?"
Ikmal langsung menepuk lengan Arby sangat kencang. Mereka tiba di loby, dilihatnya yang lain masih menunggu dengan mata Nuna yang merah dan wajah lembab.
.
.
.
.
Ayo baca cerita ini. Seru juga kok ceritanya 😃
Udah banyak tuh babnya, bisa baca maraton.
__ADS_1