
"Mama benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan Nuna. Kata Elina, teman-teman Nuna itu juga lucu-lucu. Mereka yang juga ada di foto-foto itu, kan?"
"Iya, Ma."
Steve melihat rasa antusias mamanya saat membicarakan Nuna. Dulu dia memang sangat sering bercerita tentang gadis itu, huai sahabat-sahabat Nuna.
Di apartemen, Nuna juga teringat akan perkataan Steve. Baginya, Steve sangat beruntung karena memiliki keluarga angkat yang sangat baik.
"Nuna, ayo makan." Suara Nania menyadarkan Nuna dari lamunannya.
Nuna, Nania dan Aruna makan bersama.
"Besok ke rumahbsakit jam berapa?" tanya Nuna pada Aruna.
"Jam sepuluh. Aku tidak ada jadwal pagi." Nuna mengangguk paham. Dia sendiri memiliki jadwal yang padat besok. Dia tidak pernah menyangka kalau dirinya sudah benar-benar menjadi seorang dokter. Padahal dulu dia tidak yakin, apa karena ikut-ikutan Freya saja, atau memang dia yang sebenarnya memang ingin menjadi dokter, karena ingat bagaimana saat dia sakit ketika masih kecil.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendir begitu, Nuna?"
"Enggak apa-apa, aku hanya tidak menyangka saja, bersahabat kita sejak SMP masih terjalin, bahkan kita berempat sama-sama menjadi dokter."
"Kamu benar. Kita ini sudah seperti saudara saja, susah senang sama-sama."
Mereka bertiga akhirnya mengenang masa ABG dan remaja mereka.
__ADS_1
"Jadi, bagaimana perkembangan hubungan kamu dengan Steve?"
"Biasa saja."
"Kamu, tidak semakin trauma karena si brengsek (Dika) itu, kan?"
"Enggak tahu juga. Aku memang tidak memikirkan soal pernikahan. Kita kan sama-sama sibuk dengan pekerjaan. Kamu dan Nania sendiri, bagaimana hubungan kalian dengan Vian dan Marcell?"
"Ya sama, enggak gimana-gimana juga."
"Mereka berdua baik."
"Ya, Steve juga baik. Dulu juga Dika kelihatan baik."
Nania dan Aruna langsung tertawa, menasehati orang lain itu memang lebih muda daripada menjalaninya.
Mereka sama-sama pernah patah hati dengan cara yang berbeda. Itulah hidup, semua orang punya masalahnya masing-masing. Rei dan Freya saja juga tidak terlepas dari masalah.
Mereka tidur-tiduran di karpet. Di hadapan mereka ada foto besar mereka berlima.
"Nanti kalau kita semua sudah punya anak, ayo kita foto seperti yang itu lagi."
"Ayo."
__ADS_1
"Anak-anak kita akan menjadi sahabat juga. Kuta harus menjaga hubungan baik kita sampai kapan pun."
Nuna iya iya saja, meski dia sendiri tidak tahu apakah dia akan punya anak atau tidak. Tapi tentu saja dia akan menjaga hubungan persahabatan mereka.
Mereka bertiga meneteskan air mata dalam diam. Rasanya terharu, tidak menyangka mereka akan seperti saat ini, di saat dulu Freya pernah bentrok dengan Nuna, Freya yang menghilang, Freya yang hampir saja meninggalkan mereka untuk selamanya ....
Di tempat Freya, perempuan itu terlihat murung. Arby berpikir mungkin karena hormon ibu hamil. Dia harus menjaga mood Freya, jagan sampai nanti Freya tidur di kamar Chiro sedangkan dia hanya ditemani guling. Pria itu melirik-lirik perempuan itu, takut diamuk meski dia tidak melakukan kesalahan apa-apa. Berkali-kali Freya menghela nafas berat. Semua itu tidak lepas dari perhatian Arby.
"Yang, jangan banyak pikiran. Nanti adiknya Chiro ikut mumet." Freya mendelik pada Arby, lalu mengambil ponselnya untuk menonton video yang baru saja dikirimkan oleh Mico.
.
.
.
Cover DESTINATION sudah ganti lagi ya.
Tuh lihat covernya, kalian gak penasaran sama ceritanya?🤩
Sudah tamat, loh🤗
__ADS_1