Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
48 Ban Mobil


__ADS_3

"Jadi kamu dosen?" tanya Nania pada Dika.


"Iya, aku dosen di salah satu universitas di sini."


Keluarga Dika memang rata-rata berprofesi sebagai pendidik. Freya terus saja memperhatikan Dika, lalu saat Dika melihatnya, pria itu langsung tersenyum, membuat Arby mendengkus.


"Kamu punya saingan baru," bisik Arby pada Ikmal.


Coklat yang Dika berikan tentu saja ikut dinikmati oleh perempuan lainnya. Dika lalu melihat Chiro, yang wajahnya perpaduan antara Arby dan Freya.


"Ini ... anak kamu, Freya?" tanyanya ragu-ragu.


"Iya, ini anak aku."


"Sama Arby?" Freya mengangguk.


"Wah, kamu sudah menikah sama Arby? Tapi ... kenapa anak kamu sudah segede ini?" Mereka diam saja.


"Nikah muda, ya? Wah, kalau aku nikah uda juga, pasti anak aku juga sudah segede ini ya, jadi iri." Dika tersenyum melihat Chiro.


"Nun, kalau kita menikah, anak kita nanti mirip siapa ya?"

__ADS_1


Mereka tersedak. Ada yang tersedak minuman, ada yang tersedak salivanya sendiri.


Mereka lalu saling lirik. Fiks, Dika menyukai Nuna. Ikmal berpikir, banyak pria yang menyukai sahabatnya ini, tapi kenapa belum ada juga yang berhasil meluluhkan hati Nuna?


Pria seperti apa dia? Pikir Ikmal, yang bisa meluluhkan hati Nuna dan menghilangkan rasa takutnya?


"Selamat siang, Pak Dika?" sapa beberapa orang perempuan.


"Siang. Kalian makan di sini juga?"


"Iya, Pak."


Mereka melihat Dika yang duduk dengan para perempuan cantik dan pria tampan, lalu berpamitan.


"Pasti betah ya, ngajar di kampus. Mahasiswinya cantik-cantik, pasti banyak yang suka sama kamu."


Dika hanya tersenyum. Memang benar apa yang dikatakan Nania, banyak mahasiswi yang menyukainya. Tapi masa dia mau bilang begitu, nanti dikira sombong. Dika memang disen ganteng yang ramah, dan gaul. Dia sering makan bersama para mahasiswa, baik yang dia ajar, atau tidak.


Dosen perempuan yang masih muda pun, banyak yang menyukai dirinya. Dari sini, mereka bisa menilai kalau Dika itu memang anak diajak bicara.


Para pria hanya bisa menghela nafas. Bukan hanya masalah atau kesialan saja yang bisa datang bertubi-tubi, tapi juga saingan.

__ADS_1


Ya begitulah.


Tidak hanya pria tampan saja yang bisa dikerumuni oleh perempuan cantik, tapi perempuan cantik juga bisa dikerumuni oleh pria tampan.


Dan soalnya, mereka bukan pria yang paling tampan sedunia, versi perempuan yang membenci mereka itu.


Dika ternyata juga menceritakan masa saat mereka sekolah dulu, dari versinya dia. Melihat Nuna dan yang lainnya selalu berempat, seperti ban mobil.


Freya hanya diam saja. Dia belum pernah mendengar cerita tentang masa kecilnya, dari sudut pandang orang yang tidak dia kenal.


"Kamu dulu imut banget, Freya. Ngegemesin, deh!"


Arby mencibir, bisa-bisanya ada pria lain yang memuji Freya di hadapannya, meski apa yang Dika katakan itu memang benar.


"Kamu juga galak. Sampai sekarang masih enggak, Freya?"


"Masih," jawab para pria. Bukan Freya yang kesal, tapi Arby. Baginya, Freya itu tidak galak, hanya ... hanya apa? Suka marah-marah?


"Oya, kalau aku chat, balas dong, Nun. Memangnya kamu sibuk banget, ya?"


Nuna diam saja. Dia jadi merasa tidak enak dengan Dika. Padahal chat dari Dika juga macam-macam. Nuna pikir, tidak ada salahnya juga nanti di membalas chat Dika, kan mereka bisa berteman.

__ADS_1


Lalu Nuna mengangguk, membuat Dika tersenyum.


__ADS_2