
"Dika!" teriak Nuna kaget.
Dia melihat calon suaminya itu sedang duduk dengan penampilan sangat rapih, dan ... di depannya duduk seorang penghulu. Mata Nuna mengerjap, melihat dekorasi ruangan yang memang seperti ruang pesta pernikahan, bahkan sudah banyak tamu yang hadir di sana.
Hanya saja ....
Bukan dia yang duduk di sebelah Dika. Bukan juga papanya yang sedang menggenggam tangan Diak untuk proses ijab kabul.
Di sebelah Dika, duduk seorang perempuan cantik.
"Dika ... i—ini apa? Kenapa kamu menikah dengan perempuan lain?" Suara Nuna bergetar, tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Nuna lalu melihat Freya, meminta penjelasan pada perempuan yang sudah membawanya ke sini. Kaki Nuna gemetaran, bukan lagi efek karena tadi Freya kebut-kebutan, tapi karena merasa dia sudah ditarik ke dalam neraka, dan dia tidak siap dengan semua rasa sakit itu.
Nuna melihat wajah Freya yang mengeras, penuh rasa benci pada pria berjas hitam itu.
Seorang penipu dan pengkhianat!
"Jawab Diak, kenapa kamu melakukan semua ini? Bukankah besok kita akan menikah?"
__ADS_1
"Aku akan menikahi perempuan lain hari ini, Nuna. Kami sudah dijodohkan."
"Dijodohkan? Tapi oleh siapa dan sejak kapan? Bukankah besok kita akan menikah, dan keluarga kamu juga sudah tahu itu."
"Mama menjodohkan aku dengan perempuan terbaik."
"Ma, kenapa mama menjodohkan Dika dengan perempuan lain? Bukankah mama Sidah menyetujui hubungan kami?"
"Jangan panggil saya mama, kamu bukan anak saya!"
Deg
"Tante, tapi kenapa? Kalau memang Tante tidak merestui hubungan kami, kenapa tidak dari awal saja mengatakannya?"
Sahabat-sahabat Nuna mengepalkan tangannya, ikut merasakan sakit dengan apa yang Nuna rasakan saat ini.
"Kamu pikir keluarga kami mau berbesan dengan anak dari pelakor seperti kamu? kedua orang tua kamu saja sekarang terlibat skandal yang memalukan."
__ADS_1
"Kalian sudah tahu itu sejak awal, tapi kenapa masih mau merestui. Dika, sejak awal kamu sendiri kan yang meyakinkan aku kalau keluarga kamu menerima semua kejelekan dan kekurangan aku dan keluarga aku. Aku Sidah menolak kamu baik-baik, meminta kamu memilih perempuan lain yang lebih baik asal usul keluarganya, tapi kamu sendiri yang terus mengejar aku, dan memohon agar aku memberikan kamu kesempatan. Tapi sekarang apa?"
"Nuna, aku tidak mau anakku nanti lahir dari rahim seorang ibu yang broken home. Lihat bagaimana mamamu, lihat bagaimana kamu! Lalu bagaimana nanti dengan anak-anakku? Apa mereka harus menanggung malu? Kamu saja malu kan dengan kelakuan keduanorang tua kamu, terutama mama kamu."
Nuna menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Ikmal mengepalkan tangannya, merasa benci dengan pria busuk itu. Dia ingin langsung menghajar Dika, tapi ditahan oleh yang lain. Bukan karena mereka membela Dika, tentu saja tidak. Arby, Marcell, Vian, Mico, Marva dan Agam pun sangat membenci prianitu, yang sudah menyakiti hati gadis baik seperti Nuna. Menyakiti yang satu berarti menyakiti yang lainnya. Mereka sudah seperti anak-anak kembar beda rahim beda ibu beda bapak.
"Tapi kenapa Dika, kenapa kamu melakukan semua ini padaku? Kenapa tidak dari awal saja, setidaknya aku pun tidak akan marah kalau kamu mundur, karena aku bisa mengerti."
.
.
.
Udah aku up, ayo bagi hadiahnya 🤭
Astoge, gemetaran aku nulis bab ini, pengen nabok orang, ya! Nulis bab yang ini cepat banget, loh.
__ADS_1
Tunggu lanjutannya. Tinggalkan komen dan like, bair aku semangat.