Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
51 Acara Yang Kacau


__ADS_3

"Aku juga enggak ikutan." Ikmal mengangkat kedua tangannya.


"Kenapa kamu egois seperti itu?" tanya Vio.


"Siapa kamu berani berkata seperti itu padaku? Dari pada kamu mencampuri urusan aku, lebih baik kamu urusi saja suami kamu itu. Setiap hari selalu datang menemui Rei, apa kamu tahu?"


"Nuna ...."


"Diam kamu Marva. Bukankah baru saja aku bilang, jangan ada yang berani ikut campur. Kamu benar-benar pria tidak tahu mau dan tidak berguna. Urus tuh istri kamu, bukannya terus-terusan datang ke rumah sakit dengan alasan anak. Rei sudah tidak ada urusan lagi sama kalian. Dia berhak mendapatkan pria dan keluarga yang lebih baik daripada kamu dan keluarga kamu yang sombong."


Suasana menjadi tegang. Tidak ada yang menyangka sama sekali, kalau Nuna berani berkata seperti itu.


Pikiran mereka sama.


Freya telah berhasil mendidik sahabat-sahabatnya menjadi galak, dan berani melawan orang-orang yang menyebalkan bagi mereka.


"Kamu pikir, kami sahabat Rei mau Rei bersama kamu lagi. Cih, kaya enggak ada pria lain saja di dunia ini. Lebih baik Rei menikah dengan duda berperut buncit tapi setia, daripada sama kamu, enggak punya prinsip dan suka mengambil keuntungan dari orang lain. Begitu juga dengan keluarga kamu."


"Cukup!" bentak Frans.


"Jaga kata-katamu!"

__ADS_1


"Kalau begitu jaga juga sikap kalian. Sekali lagi aku bilang, jangan ada yang ikut campur urusan aku dengan papaku."


Nuna lalu melihat Radhi dan Raine.


"RR, nanti kalau dokter cantik Rei tinggal di luar negeri, kalian mau ikut, enggak? Chiro mau ikut sama mommy-nya, loh."


"Mau, dokter Rei baik banget. Kami juga suka sama masakan dokter Rei."


"Berhenti, Nuna!" bentak Vio.


"Ingat, kalau kalian ikut campur, aku juga akan ikut campur dalam urusan kalian. Aku dan Freya, akan membuat Radhi dan Raine membenci kalian, dan Rei bisa membawa Radhi dan Raine."


"Itu tidak akan pernah terjadi."


"Hentikan!" pinta Edwan yang sudah sakit kepala. Dia salah sudah membawa Nuna ke sini.


"Ayo kita bertaruh, suatu saat nanti, kalianlah yang akan kalah. Kalian yang akan mengemis memohon pada Rei. Dan saat itu terjadi, aku orang pertama yang akan menertawakan kejatuhan kalian."


"Dan untuk kamu. Aku sarankan kamu berpikir ulang untuk menikah dengan papaku, atau kamu sendiri yang akan menyesal. Kita lihat, siapa yang akan menang, aku atau Anda," Nuna menatap tajam Elvira.


"Itu juga berlaku untuk kalian berdua," tunjuknya pada Marcell dan Vian.

__ADS_1


Arby ikut berdiri, sambil menggandeng Chiro.


"Pokoknya aku juga enggak ada urusan sama masalah ini. Jangan lagi nyuruh-nyuruh aku menjemput Nuna. Kalau sampai Freya marah sama aku, itu berarti salah Aunty, aku sendiri yang akan membalas Aunty!" ucapnya tajam pada Elvira.


Ikmal ikut bangkit, menggelengkan kepalanya meski tidak berkata apa-apa.


Acara itu benar-benar berantakan. Edwan melonggarkan dasinya, dan membuka dua kancing kemejanya.


Elvira menghela nafas berat. Kenapa perjalannya untuk bisa bersama Edwan sangat berat. Memangnya apa salahnya? Dia juga ingin bersama Edwan, meski usia mereka tidak muda lagi.


Marva ikut bangkit, diikuti Marcell dan Vian.


Mereka cukup tahu dan sadar, Nuna adalah didikan Freya sejak kecil. Apalagi Arby dan Ikmal yang sangat tahu itu. Nuna menjadi kuat berkat Freya. Dan Freya tidak akan pernah diam saja saat sahabat-sahabatnya bersedih.


.


.


.


Yang punya Vote, mau ya. Makasih 😀

__ADS_1


Oya, ini alurnya memang agak lama ya. Karena kisah Nuna ini enggak seperti Freya atau Rei. Banyak lika-likunya. Ya pokoknya, enggak sama kaya ceritaku yang lain, yang bab-bab awal langsung dimunculin tokoh cowoknya. Di sini masih menerka-nerka, siapa jodohnya. Dan harus ada chemistry, biar feel-nya dapat.


Jadi jangan bosan membaca cerita ini sampai tamat.


__ADS_2