Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
92 Saling Melengkapi


__ADS_3

Malam ini Nuna terlihat sangat cantik. Dia akan makan malam bersama Dika dan keluarganya. Setiap kali akan bertemu dengan keluarga Dika, tetap saja Nuna masih merasa deg-degan. Dia tentunya juga merasa kagum pada keluarga Dika yang terlihat kompak dan sangat akur.


"Kenapa diam?" tanya Dika saat mereka dalam perjalanan.


"Aku selalu gugup kalau bertemu dengan keluarga kamu."


"Kenapa masih gugup saja? Kan kamu sudah sering bertemu dengan mereka, apalagi mama."


"Entahlah, mungkin karena keluarga kamu yang selalu terlihat harmonis dan kompak. Kau jadi iri padamu."


"Kamu iri padaku? Aku juga iri padamu."


"Aku? Apa yang kamu iri dari aku? Aku kan anak broken home."


"Aku iri karena kamu memiliki sahabat-sahabat yang baik seperti mereka. Aku saja tidak gitu-gitu amat sama teman-teman aku."


"Kamu benar, aku beruntung memiliki mereka. Kalau tidak ada mereka, entah apa jadinya aku. Tapi, nanti kan mereka juga akan menjadi sahabat kamu, yang akan membantu kita saat kita mengalami kesulitan."


"Kamu benar. Mereka juga akan menjadi keluarga kamu, tempat kita berbagi suka dan duka. Mungkin karena inilah kita bersama, untuk saling melengkapi. Kamu bukan orang yang sempurna, begitu juga aku."

__ADS_1


Nuna merasa tersentuh dengan perkataan Dika. Benar apa yang Dika katakan, mereka akan saling melengkapi. Sahabatnya akan menjadi sahabat Dika, dan keluarga Dika akan menjadi keluarganya. Apa yang dulu tidak mereka miliki, akan diberikan oleh yang lain.


Saling melengkapi, itulah mereka.


...🌼🌼🌼...


Nuna dan Dika sama-sama sibuk dengan pekerjaan mereka. Yang satu menjadi dokter dan Haris selalu siap kapan saja dibutuhkan, yang satu menjadi dosen dan sibuk dengan para mahasiswanya. Dika yang tahu bagaimana Nuna yang sangat sibuk dengan tanggung jawabnya, maka dia yang akan lebih sering datang ke tempat Nuna. Dia akan meminta mahasiswanya yang ingin bimbingan untuk bertemu dengan dia di kafe depan rumah sakit.


Nuna sendiri merasa senang Dika mau menyempatkan diri ke kafe, meskipun tidak bisa terlalu lama.


"Bu Dokter, itu calon suaminya, ya? Ditunggu undangannya ya, Dok," ucap salah satu perawat yang ada di kafe itu.


Nuna hanya tersenyum saja. Wajah Dika yang sering datang ke kafe ini sudah tidak asing lagi bagi pelayan kafe, termasuk para pria yang terus merecok itu.


"Jangan lupa makan yang teratur, Nuna. Nanti setelah kita tidak sibuk, kita akan mulai menyiapkan pernikahan kita."


Meskipun belum mendapat restu dari orang tua Nuna, tapi mereka tidak akan menyerah. Dika benar-benar ingin menunjukkan keseriusannya. Menyerah berarti dia gagal.


Nuna memandang pria tampan di hadapannya. Pria berkacamata dengan hidung mancung dan beralis tebal. Siapa yang sangka pria kecil yang dulu pernah mengajak dia berkenalan tapi dia tolak itu, kini akan menikahinya. Rasanya seperti mimpi.

__ADS_1


Sebentar lagi Nuna akan melewati satu tahap penting dalam hidupnya, dan dia berharap semuanya berjalan dengan lancar. Dia tahu setiap rumah tangga akan ada masalah, dan itu tidak bisa dipungkiri, tapi dia berharap dan akan selalu berusaha untuk melewatinya dengan baik. Dia akan mempertahan pernikahannya dengan Dika, agar anak mereka kelak tidak bernasib sama dengannya.


"Berjanjilah apa pun yang akan terjadi nanti setelah kita menikah, kamu tidak akan meninggalkan aku. Kita akan menghadapi masalah apa pun bersama, akan membesarkan anak kita dengan kasih sayang, dan kamu tidak akan pernah mengkhianati aku. Karena kalau kamu berkhianat, aku tidak akan bertahan padamu."


"Jangan khawatir, Nuna. Hilangkan semua ketakutan kamu!"


.


.


.


Baca ceritaku yang lain juga, dong.


Seru loh ceritanya, enggak penasaran apa?🤭


Ceritanya bikin greget. Mumpung masih ongoing jadi enak buat komen. Jangan lupa tinggalkan like, gift, vote ya.


__ADS_1



Jadi sambil nunggu yang ini up, kalian bisa baca yang dua itu, ya😃


__ADS_2