Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
12 Mau Menikah


__ADS_3

Kehidupan Nuna di negara baru ini membuat dia lebih bahagia. Tidak ada pandangan sinis dari orang-orang yang mengatasinya anak perempuan murahan, dan sebagainya.


Selain dengan Freya, sekarang dia juga berteman dengan Nania dan Aruna. Dan dia tetap berpikir kalau bisa berteman dengan Nania dan Aruna karena Freya. Dia juga ternyata satu sekolah dengan Arby dan Ikmal. Sedikit kecewa karena Freya melupakan dirinya, Arby dan Ikmal. Bahkan, mereka malah menjadi musuh, yang bermula dari Marcell dan Nania.


Nuna terkadang ikut bertengkar dengan para pria itu, lebih tepatnya pada Marcell dan Vian. Kecantikan dan kepintaran empat gadis itu membuat perhatian murid laki-laki di sekolah itu. Ada yang mendekati Nuna, Freya, Nania dan Aruna.


Nuna tidak pernah peduli pada para pria itu, karena baginya (yang masih terlalu dini memikirkan tentang pernikahan) tapi sudah berpikir kalau dirinya tidak akan pernah menikah. Pertengkaran yang selalu terjadi pada orang tuanya dulu, memberikan trauma yang mendalam bagi Nuna. Dia takut hidupnya akan sama seperti kedua orang tuanya. Takut akan menyengsarakan anaknya.


Para orang tua yang melarang anak-anak mereka bergaul dengan Nuna, juga sangat membekas di hati Nuna. Berteman dengannya saja dilarang, apalagi menikah. Apa ada yang mau menerimanya sebagai menantu?


Waktu berlalu


"Nuna, ayah mau menikah dengan tante Elvira."

__ADS_1


Nuna diam saja, bukankah itu sebuah pernyataan, bukan pertanyaan. Ayahnya todak bertanya apakah dia, sebagai anaknya, setuju atau tidak. Sampai sekarang kedua orang tuanya tidak ada yang peduli dengan dirinya, akan perasaannya. Mamanya tidak pernah menghubunginya. Terkadang, tanpa dia sadari, dia lupa kalau masih memiliki seorang ibu.


☘️☘️☘️


Tante Vira mengajak Nuna bicara berdua saja.


"Tante harap, kamu bisa menerima pernikahan tante dengan papa kamu."


"Kalau aku tidak bisa menerima, memangnya kalian mau membatalkan pernikahan itu?"


"Tante dan ayah kamu sudah lama saling mengenal, bahkan sebelum ayah kamu menikah dengan mama kamu."


"Oh, ini toh yang disebut mama sebagai selingkuhan papa? Cinta lama bersemi kembali? Pasti Tante orang yang paling bahagia melihat perceraian kedua orang tuaku, kan?"

__ADS_1


"Bukan begitu, kami ...."


"Aku pergi dulu, mau kerja kelompok."


Nuna langsung pergi begitu saja, tidak peduli dengan pembicaraan yang belum selesai, bahkan masih tahap awal.


Nuna mengepalkan tangannya. Belum menikah lagi saja ayahnya tetap tidak peduli dengannya, apalagi menikah dengan sang mantan. Bisa-bisa dia semakin dilupakan, apalagi kalau nanti ayahnya memiliki anak dari hasil pernikahan keduanya.


Nuna sampai di rumahnya, dia berbohong kalau ada kerja kelompom. Wajahnya terlihat murung. Tiba-tiba saja dia menangis, lalu kembali menghancurkan barang-barang di kamarnya.


Bi Sinta mengetuk pintu kamar Nuna yang dikunci. Tidak ditanggapi, dia segera menyuruh orang untuk mendobraknya. Kamar itu sudah seperti kapal pecah. Semua barang yang ada di lemari sudah ada di lantai. Hanya ada satu yang tidak berantakan, yaitu kotak harta karun milik Nuna.


Bi Sinta segera memeluk Nuna, mencoba menenangkan nona muda kesayangannya itu. Nuna kembali pingsan, dan bi Sinta segera menghubungi dokter keluarga.

__ADS_1


Tidak lama kemudian dokter datang bertepatan dengan ayah Nuna dan calon istrinya. Mereka langsung menuju kamar Nuna dan kaget melihat kamar yang sudah sulit untuk dikenali lagi itu.


__ADS_2