
Tangan Nuna digenggam oleh Nania dan Aruna, memberikan kekuatan saat mereka akan memasuki loby rumah sakit.
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja."
Mereka memasuki loby, Nuna tersenyum saat beberapa perawat dan dokter melihatnya.
"Selamat pagi semuanya," sapa Nuna.
"Pagi dokter Monic."
(Note: ini bukan typo, ya. Kenapa dipanggil Monic, bukan Nuna? Baca cerita JARAK. Jadi di rumah sakit ini, ada yang manggil Monic, ada juga yang manggil Nuna)
Nuna memasuki ruangannya, yang selama beberapa hari ini tidak doa tempati.
"Pagi, Linda."
"Pagi, Dok."
__ADS_1
Linda adalah perawat yang bertugas untuk membantu Nuna.
"Ada berapa pasien pagi ini?"
"Pagi ini yang sudah mendaftar ada lima belas orang."
"Tunggu lima menit lagi, ya. Bari kita mulai."
"Baik, Dok."
Lima menit kemudian Nuna mulai membuka prakteknya. Kesibukan ini bisa membuat pikiran Nuna teralihkan.
Di kantor firma hukum milik Mico, pria itu sudah mendapatkan informasi dari asistennya. Dika dan semua yang terlibat terus melakukan pembelaan. Mico lalu meminta asistennya itu untuk mengajukan tuntutan pada pria yang memiliki senjata api tanpa ijin tersebut.
Bukti-bukti yang diberikan oleh Mico pun tidak main-main. Sudah terlihat jelas kalau pihak Dika lah yang lebih dulu melakukan kekerasan.
"Makanya aku berkali-kali melarang kalian adu jotos lebih dulu, jadi kita punya bukti kuat untuk menjatuhkan mereka." Mereka merasa lega, Meksi saat itu memang sangat sulit untuk mengendalikan emosi.
__ADS_1
Beberapa hari berlalu
Dika mendapatkan skorsing dari universitas, bahkan pria itu terancam dipecat dengan tidak hormat. Dia dan yang lain dituntut beberapa bulan penjara, tuntutan ganti rugi dari pihak hotel, juga denda. Nama keluarganya tercemar, dan tentu saja mereka sekeluarga mendapatkan malu. Hampir satu keluarga besar pendidik itu harus ditahan. Mereka sudah mencoreng nama seorang pendidik, seseorang yang seharusnya mengajarkan ilmu, tapi malah melakukan tidak kekerasan.
Mendengar berita itu, Nuna biasa saja. Tidak ada rasa iba. Mendengar berita kalau ibunya Dika juga harus membayar denda, dia juga masa bodo.
"Ini semua gara-gara perempuan itu. Dia dan teman-temannya yang lebih dulu mencari masalah di pernikahan Dika, kenapa malah keluarga kami yang dituntut. Dasar perempuan tidak tahu diri." Mamanya Dika terlihat kesal saat berbicara dengan teman-temannya.
"Jadikan saja ini pelajaran. Setidaknya anak kamu itu tidak jadi menikah dengan perempuan itu. Tapi aku heran, kenapa duku Dika mau dengan dia? Apa karena terpaksa atau kasihan?"
Mama Dika hanya mengedikan bahunya saja. Dia akan menggunakan koneksi yang dimiliknya untuk membebaskan Dika, Evelyn dan sepupu-sepupu Dika. Ayah Dika tengah mengusahakan mereka bebas lebih cepat, dan tidak membiarkan Dika dipecat
Kontrak kerja Evelyn pun banyak dibatalkan oleh klien. Dia juga harus menanggung biaya ganti rugi, karena dengan dipenjarakan dirinya, sudah merugikan pihak klien. Manajer Evelyn juga terus saja marah-marah, karena dia harus mengurus masalah Evelyn agar tidak semakin merugi.
.
.
__ADS_1
.
Udah dua bab, ya. Yuk ramaikan biar gak sepi 🤗