Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
9 Histeris


__ADS_3

Setiap hari, ada saja yang terjadi pada Nuna di sekolah itu, dan Freya yang sering mendapat dampaknya, baik sengaja atau tidak sengaja.


Byur


Hahahaha


Bau got sangat menyengat segera tercium. Freya dan Nina mengusap wajah mereka. Arby dan Ikmal langsung menghampiri keduanya, memberikan tisu. Arby dengan telaten membersihkan wajah Freya, sedangkan Ikmal membersihkan wajah Nuna.


Freya tidak diam saja, dia segera maju dan memberikan pelajaran pada orang-orang itu. Dan lagi-lagi mereka harus masuk ruang guru.


"Nona muda, apa yang terjadi pada Anda?" tanya supir Freya.


"Jangan bilang-bilang pada opa dan oma. Ayo pulang!" Freya segera pulang, tanpa mengatakan apa-apa pada Nuna, Arby dan Ikmal.


Keesokan harinya, Freya tidak masuk. Nuna merasakan kesepian, begitu juga dengan Arby dan Ikmal. Tanpa Freya, mereka bertiga tidak banyak bicara.


Ada yang menghampiri Nuna, ingin mengerjai gadis itu, tapi langsung dicegah oleh Ikmal yang melihatnya. Ikmal memiting tangan orang itu, dan langsung mendorongnya.


"Kamu harus bisa melindungi diri sendiri. Kalau tidak ada kami bertiga, bagaimana?"


Nuna terdiam, membenarkan apa yang dikatakan oleh Ikmal.


"Kalian belajar bela diri di mana?"


"Kami punya pelatih khusus yang didatangkan."

__ADS_1


☘️☘️☘️


Nuna masuk ke mansion dengan terburu-buru.


"Bi Sinta!"


"Ya, Nona?"


"Bi, aku mau belajar bela diri."


"Bela diri?"


"Iya."


Sebenarnya apa yang terjadi dengan nona mudanya itu, yang sekarang punya banyak perubahan. Lebih semangat dan ceria.


Nuna tahu mamanya sering jalan dengan pria lain. Bukan karena ada yang mengatakannya, tapi dia pernah beberapa kali melihatnya.


Di taman, dia melihat mamanya bertemu dengan seorang pria, berpelukan bahkan berciuman.


Di mall, mamanya bergandengan mesra dengan pria lain juga.


Nuna yang saat itu masih kecil, tidak terlalu mengerti. Namun lama kelamaan, dia mulai paham. Paham kenapa orang-orang membencinya, paham kenapa orang-orang selalu menghinanya.


Mamanya yang berbuat salah, kenapa dia yang disalahkan?

__ADS_1


Dia juga pernah melihat papanya bicara dengan seorang perempuan cantik, tertawa dan terlihat bangat bahagia.


Air mata Nuna tiba-tiba saja menetes mengingat semua itu.


Seketika emosinya datang, dia melemparkan semua buku-bukunya.


Aku benci kalian, aku benci papa mama. Kenapa aku harus punya orang tua seperti kalian? Karena kalian, aku tidak punya teman!


"Aaaa ... aaaa ...."


Nuna terus saja berteriak histeris.


Bi Sinta segera masuk kamar Nuna saat mendengar keributan di kamar itu. Melihat anak majikannya yang menangis dan menghancurkan barang-barang.


"Nona, tenangkan diri Anda."


Nuna terus saja memberontak dalam pelukan bi Sinta. Tidak lama kemudian dia pingsan. Bi Sinta segera memanggil dokter.


Kurang dari satu jam kemudian, dokter datang dan tanpa banyak bertanya langsung memeriksa Nuna.


"Sudah lama Bibi tidak memanggil saya?"


"Iya, Dok. Akhir-akhir ini non Nuna baik-baik saja, tapi entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja dia kembali histeris."


"Apa ada yang terjadi belakangan ini?"

__ADS_1


"Nona sekarang terlihat lebih semangat dan ceria. Mungkin ada sesuatu di sekolahnya. Dia tidak pernah lagi bolos, selalu belajar dan mengerjakan PR. Selain laporan tentang perkelahian, tidak ada keluhan lain."


Dokter mengangguk, dan menghela nafas. Dia menatap miris gadis kecil itu.


__ADS_2