
"Pa, Ma, tolong restui aku."
"Tidak!"
"Aku mohon, tolong restui aku dan Steve. Aku tidak akan meminta yang lain. Aku tidak akan lagi membahas tentang kalian yang tidak pernah merawat aku sejak kecil. Aku tidak akan mengungkit apa pun yang terjadi di masa lalu. Aku tidak akan meminta harta warisan. Aku hanya meminta doa restu dari kalian saja."
Nuna mengecup punggung tangan kedua orang tuanya. Hal yang tidak pernah mereka lakukan selama ini, bahkan sejak Nuna kecil. Hubungan yang tidak harmonis itu, mencangkup apa saja. Tidak ada Salim tangan, pelukan, sapaan lembut, pertanyaaan perhatian. Semua seperti orang asing.
Kini, Nuna yang memendam kebencian kepada kedua orang tuanya, memohon. Lebih lembut daripada saat dia bersama Dika dulu.
Kedua orang tua Nuna menghela nafas. Melihat kalau anak perempuan mereka yang sangat membenci mereka itu, sampai memohon seperti ini.
...🌼🌼🌼...
"Freya, kamu merestui aku dengan Steve, kan?" Tentu saja dia tidak hanya meminta restu kepada kedua orang tuanya saja, tapi juga sahabatnya.
Freya menghela nafas.
"Iya, aku merestui kamu. Berbahagialah!" Freya memeluk Nuna, mengusap sudut matanya.
"Arby, kamu juga merestui aku, kan?"
"Iya deh, kalau enggak pasti nanti kamu dan Freya ngambek, kan?"
__ADS_1
"Dasar. Yang serius, Arby!"
"Iya, iya. Jangan bersedih lagi. Kalau ada apa-apa, masih ada kami yang selalu di sisi kamu."
"Ikmal, kamu juga merestui aku, kan?"
Ikmal tidak langsung menjawab. Memangnya dia haris bilang apa lagi? Arby sudah mewakili isi hatinya, kalau dia bila g enggak, pasti kedua perempuan iri marah.
"Mal, kamu mengijinkan aku menikah dengan Steve, kan?" tanya Nuna lagi. Restu dari mereka sangat ke Ting bagi Nuna, karena merekalah yang sejak kecil selalu bersamanya, meski sempat berpisah selama beberapa tahun.
"Iya, aku merestui kamu. Berbahagialah, dan jangan menangis lagi kecuali tangisan kebahagiaan."
"Benar?"
"Iya."
"Iya, Nuna Sayang!"
Nuna memeluk Ikmal. Lega rasanya sudah mendapatkan restu dari ketiga sahabat masa kecilnya itu.
...🌼🌼🌼...
"Nania, Aruna, Rei, kalian merestui aku, kan?"
__ADS_1
"Iya," jawab ketiganya kompak.
Nuna tersenyum lega. Mereka adalah orang-orang yang sangat berarti dalam hidupnya, tentu saja dia akan meminta restu dari mereka.
...🌼🌼🌼...
Nuna merasa gugup. Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Steve. Bukan hanya Nuna saja yang gugup, bahan Ikmal ikut-ikutan gelisah.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat. Steve belum juga datang, padahal seharusnya akad nikah dilakukan pukul delapan pas. Tangan Nuna gemetaran, menunggu kedatangan pria itu.
Dua puluh menit sudah berlalu, tapi yang ditunggu belum juga datang. Mereka menghubungi Steve, tapi pria itu tidak bisa dihubungi. Bahkan kedua orang tua Steve juga tidak bisa dihubungi.
Air mata itu akhirnya luruh juga.
Ikmal mengepalkan tangannya.
Awas saja kamu, Steve.
Nuna merasa sangat malu, apa dia akan gagal.mwnijah lagi untuk yang kedua kalinya? Kalau dulu Dika mencampakkan dirinya satu hari sebelum mereka menikah, sekarang Steve mencampakkan dirinya tetap di hari H.
Freya dengan cepat menghubungi rumah sakit, apakah ada pasien yang bernama Steve. Nania, Arian dan Rei mengusap punggung Nuna yang sudah bergetar hebat. Para tamu undangan berbisik-bisik, pasti sedang membicarakan dirinya, pikir Nuna.
"Apa kita masih akan menunggu, atau dibatalkan?" tanya penghulu.
__ADS_1
Edwan—papanya Nuna—menghela nafas dalam.
"Batalkan saja! Tidak perlu lagi menunggu!"