Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
7 Diremehkan


__ADS_3

"Bi, Bi Sinta!" teriak Nuna memanggil bi Sinta.


"Ya Non, ada apa?"


"Buatkan Nuna kue yang banyak Bi, buat bekal besok."


"Bekal?"


"Iya. Mulai hari ini, Nuna mau membawa bekal. Tapi jangan makanan yang mewah-mewah ya, jajanan yang ada di pinggir jalan saja. Hm, Bibi bisa buat dodol? Atau lemper?"


"Non mau saya buatkan kue tradisional Indonesia?"


"Iya, yang macam-macam ya, Bi."


Nuna langsung masuk ke kamarnya dengan semangat. Bi Sinta terbengong. Beberapa hari ini, nona mudanya terlihat semangat untuk pergi sekolah. Mau mengerjakan PR, bahkan pagi-pagi sudah siap dengan seragam sekolahnya.


Ada apa?


Kenapa bisa seperti itu?


Kehadiran Freya menjadi penyemangat untuk Nuna. Dia yang kini merasa memiliki teman, ingin terus bersamanya. Andai saja Freya itu bisa dia kantongi dan bawa pulang, pasti sudah dibawa pulang olehnya.


Keesokan harinya


Nuna memberikan bekal makan untuk Freya, begitu juga dengan Arby dan Ikmal. Mereka saling bertukar bekal. Seperti biasa, makanan yang Freya bawa selalu makanan mewah yang sehat.


Freya sama sekali tidak menyentuh bekal makannya sendiri, tapi mengambil punya Nuna, Arby dan Ikmal.

__ADS_1


Dan seperti biasa, selalu ada buku tebal yang menemaninya.


"Freya, kenapa kamu selalu membaca buku tebal? Dan kenapa bukunya selalu berbeda-beda? Kamu mau jadi dokter atau pengusaha?" tanya Nuna.


"Aku mau jadi dokter dan pengusaha."


"Memangnya bisa?"


"Bisa, dong."


Nuna kembali memandang buku-buku Freya. Ada buku kedokteran (kali ini berbahasa Jerman) dan buku bisnis.


🍁🍁🍁🍁


"Sekarang, coba ceritakan tentang cita-cita kalian. Siapa yang mau maju duluan?"


"Aku mau jadi dokter bedah dan pengusaha."


Suara tawa langsung memenuhi ruangan.


"Jangan meremehkan aku, ya. Lihat saja, suatu saat nanti aku pasti bisa menjadi dokter bedah dan pengusaha terkenal. Dan kalian yang menertawakan aku, pasti nanti akan mencariku untuk meminta tolong! Aku akan menjadi seperti opa dan oma. Mereka adalah pengusaha dan dokter."


"Pengusaha apaan? Pengusaha abal-abal?"


Freya langsung menatap tajam orang itu.


"Gaya-gayaan saja baca buku berbahasa Jerman, Belanda dan Jepang, padahal enggak ngerti, tuh!" ucap anak itu lagi.

__ADS_1


"Suatu saat nanti kamu akan mengemis meminta kerja sama denganku, lihat saja!"


Freya langsung duduk di bangkunya, berjalan dengan angkuh dan tetap menatap tajam anak itu.


"Nuna, coba kamu maju."


Nuna maju, membuat yang lain (kecuali Freya, Arby dan Ikmal) bingung, karena selama ini Nuna tidak pernah maju jika disuruh.


"Apa cita-cita kamu, coba ceritakan."


Nuna tidak langsung bicara.


Cita-cita?


Dia tidak pernah memikirkan apa yang menjadi cita-citanya. Dia tidak pernah memikirkan apa-apa, kecuali kapan orang tuanya akan berhenti bertengkar dan mulai menyayanginya.


Nuna melihat Freya, yang tersenyum memberikan semangat untuknya. Dilihatnya buku-buku tebal yang ada di meja Freya.


"Aku mau jadi dokter."


"Apa?" tanya guru itu lagi.


"Aku akan menjadi dokter."


Nun tidak mau menjadi penguasa seperti kedua orang tuanya. Mereka selalu mengatakan sibuk dengan perusahaan, meeting, ke luar negeri, pesta, tapi tidak pernah peduli dengan dirinya.


Dia tidak mau seperti orang tuanya. Tidak mau menjadi pengusaha, tidak akan terjebak dengan harga saham, investor, proyek, dan lainnya.

__ADS_1


__ADS_2