Jodoh Untuknya

Jodoh Untuknya
31 Mommy


__ADS_3

Waktu semakin berlalu, yang cantik semakin cantik, yang tampan semakin tampan.


Lima orang perempuan turun dari pesawat, menatap langit kota Jakarta. Setelah bertahun-tahun, akhirnya mereka kembali juga, bukan untuk menetap, hanya sementara waktu saja.


Mereka menuju hotel. Tidak ada kerinduan dalam diri Monic dengan kota ini. Kalau bisa tidak kembali, maka dia tidak akan pernah kembali.


Malam harinya, mereka jalan-jalan di sekitar hotel. Masing-masing dari mereka tentu saja sibuk dengan pikiran masing-masing.


🌺🌺🌺


Beberapa waktu berlalu. Malam ini, kelima perempuan muda itu tampil sangat cantik. Mereka akan menghadiri pernikahan dokter Aurel.


"Lihat, kita cantik cantik banget. Semoga saja kita mendapatkan jodoh di sana."


Di lain tempat, lima orang pemuda juga sedang bersiap-siap. Mereka memutuskan untuk pergi bersama.


"Kita harus tampil maksimal, siapa tahu saja kita mendapatkan jodoh di sana," ucap Marcell sumringah.


Mereka mendengkus mendengar perkataan Marcell.


"Marva, kamu juga. Siapa tahu saja kamu mendapatkan jodoh baru di sana," ucapnya lagi.


"Kalau Vio mendengar kamu, bisa didamprat kamu, Cell. Cukup sekali saja Marcell mengkhianati Vio."


"Aku tidak pernah mengkhianati Vio."

__ADS_1


"Tidak pernah? Lalu hubungan kamu dan Reinata, sampai memiliki anak itu, apa? Hadiah pernikahan?" sindir Arby.


Marva diam saja, rumit memang menjelaskannya. Marva jadi ingat kembali dengan Reinata. Bagaimana kabar perempuan itu sekarang?


Mereka lalu menggunakan dua mobil, sedangkan para orang dewasa juga sudah menggunakan mobil-mobil yang lain. Keluarga besar itu lalu menuju hotel tempat diadakannya acara.


"Itu mereka cantik-cantik banget, sudah punya pasangan belum, ya?"


"Kayaknya belum, tidak ada pria di dekat mereka," jawab yang lain.


Mereka mendengar percakapan-percakapan pelan. Kedua orang tua Nuna juga hadir, dengan pasangan masing-masing. Ikmal dan Arby berharap, agar mereka tidak bertengkar di tempat ini.


Langkah mereka terhenti, yang satu menabrak yang lain, begitu juga yang ada di belakang mereka.


Mereka, melihat kelima perempuan muda yang sedang tertawa.


Mata mereka terus terfokus pada perempuan itu.


Freya


Nuna


Nania


Aruna

__ADS_1


Rei


Kelima perempuan muda itu juga langsung diam. Senyum di wajah mereka langsung menghilang, berganti dengan tatapan sinis dan benci, dan terlihat seperti ada nafsu untuk mengeroyok!


Kelima perempuan itu palu bergandengan tangan, seperti memang pondasi yang kuat.


Mereka (kelompok pria dan keluarga mereka) terpana, benar-benar terpana. Bagaimana bisa, yang dicari selama bertahun-tahun tiba-tiba saja ada di hadapan mereka tanpa disangka-sangka.


Mereka maju selangkah, dan para perempuan itu langsung mundur dua langkah. Terutama Rei dan Nuna, yang bersembunyi di belakang Freya.


Wajah Freya judesnya bukan main. Meskipun Freya tidak mengatakan apa-apa, tapi mereka yakin kalau perempuan itu sedang memaki-maki mereka dalam hati.


Mereka melirik Arby dan Marva, yang keduanya lebih syok lagi.


Ini bukan pertemuan yang diharapkan penuh dengan tangis haru dan pelukan.


Boro-boro pelukan apalagi ciuman, wajah perempuan itu seperti ingin muntah.


Orang tua Nuna maju, lalu Nuna memalingkan wajahnya, mundur dan tidak mau melihat mereka. Jelas penolakan yang tidak bisa ditutup-tutupi.


Sampai teriakan seseorang memecahkan keheningan yang terjadi.


"Mommy!"


Seorang anak kecil berwajah tampan berlari dan langsung memeluk Freya.

__ADS_1


Arby lebih syok lagi, melihat dan mendengar semua itu terjadi di hadapannya.


Mommy?


__ADS_2